Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

SENI & BUDAYA

12 Mei 2021|11:54 WIB

Menengok Cara Nabi Merayakan Idulfitri

Apa yang dilakukan Nabi Muhammad waktu dulu masih menjadi tradisi sampai sekarang

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi salat Idulfitri. Pixabay/dok

JAKARTA – Idulfitri menjadi momen yang spesial bagi umat Islam, menjadi hari kemenangan setelah sebulan menjalani puasa. Sebagai hari besar, Idulfitri dirayakan dengan berbagai kegiatan oleh masyarakat muslim di berbagai negara.

Di Indonesia, Idulfitri selalu dirayakan secara lebih meriah dan penuh kehangatan. Dipadukan dengan berbagai tradisi, seperti takbir keliling, mudik, saling mengunjungi sanak-saudara, bersantap kuliner khas lebaran bersama keluarga.

Itulah potret lebaran di masa kini di Indonesia. Namun, apakah sejak dulu Idulfitri selalu dirayakan semeriah itu? Bagaimana sih bentuk perayaan Idulfitri pertama di masa Nabi Muhammad SAW?

Melansir situs NU Online, yang merujuk buku How Did the Prophet and His Companions Celebrate Eid?, Idulfitri pertama dilaksanakan pada tahun 624 M. Kala itu, Nabi dan para sahabat merayakan Idulfitri setelah Perang Badar.

Yang pertama dilakukan Rasulullah kala itu adalah mengumandangkan takbir pada malam terakhir Ramadan hingga pagi hari memasuki 1 syawal. Hal ini sesuai dengan perintah Al-Quran dalam Surat Al-Baqarah ayat 158 yang berbunyi: “Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa serta bertakbir membesarkan nama Allah atas petunjuk yang telah diberikan-Nya kepadamu, semoga dengan demikian kamu menjadi umat yang bersyukur”.

Kemudian saat tiba hari Idulfitri, Rasulullah tampil dengan memakai pakaiannya yang terbaik. Beliau juga memakai wangi-wangian saat di hari tersebut.

Sebelum melaksanakan salat Idulfitri, Rasulullah menyempatkan makan beberapa biji kurma. Hal itu terekam dalam hadist HR Ahmad dan Bukhari, berbunyi: “Pada waktu Idulfitri Rasulullah SAW tidak berangkat ke tempat salat sebelum memakan beberapa buah kurma dalam jumlah yang ganjil”.

Salah satu hari yang diharamkan untuk berpuasa adalah saat Idulfitri. Bahkan, banyak kitab-kitab fiqih yang menyebutkan, jika berniat tidak puasa pada hari Idulfitri, sama pahalanya dengan orang yang berpuasa di hari-hari lain.

Kemudian, Rasulullah menunaikan salat Idulfitri bersama dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak. Waktu salat Idulfitri pada masa Rasulullah ini, dari pagi hingga matahari mulai meninggi.

Selain itu, Rasulullah juga mendatangi tempat keramaian. Artinya, tradisi pergi bersama ke tempat keramaian untuk merayakan lebaran, sudah ada sejak zaman dahulu kala.

Diriwayatkan, Rasulullah pergi bersama Aisyah ke sebuah pertunjukan atraksi tombak dan tameng pada hari Idulfitri. Dalam hadis riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Aisyah bahkan sampai meletakkan kepalanya di atas bahu Rasulullah agar bisa menikmati hiburan itu.

Terakhir, apa yang dilakukan Rasulullah saat Idulfitri ini juga masih menjadi tradisi umat Muslim hari ini. Yakni bersilaturahmi atau saling mengunjungi sahabat ataupun sanak-saudara.

Ketika Idulfitri tiba, Rasulullah mengunjungi rumah para sahabatnya. Begitu pula sebaliknya, para sahabat juga mengunjungi Rasulullah.

Saat momen saling berkunjung tersebut, Rasulullah dan sahabatnya saling mendoakan kebaikan untuk satu sama lain. Hal ini sama seperti yang masih dilakukan masyarakat Muslim hari ini saat Idul Fitri.

Itulah cara-cara Rasulullah merayakan Idulfitri. Tampak bahwa hari Idulfitri bagi Rasulullah pun dianggap sebagai hari yang patut dirayakan dengan hal-hal baik dan menyenangkan. Namun, di samping itu, beliau pun merayakannya secara tidak berlebihan.

Nah, bagi Anda umat Muslim yang akan merayakan Idulfitri, apa saja yang hendak dilakukan di hari besar tersebut? Apapun itu, lakukanlah secara bijak dan tidak berlebihan, ya! 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA