Menciptakan Ruang Digital Yang Aman Bagi Anak | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

25 November 2021|08:13 WIB

Menciptakan Ruang Digital Yang Aman Bagi Anak

Penggunaan internet berlebihan pada anak bisa menyebabkan turunnya tingkat kesejahteraan digital yang berakibat risiko-risiko negatif.

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Satrio Wicaksono

Menciptakan Ruang Digital Yang Aman Bagi AnakAnak sedang bermain gadget dalam pengawasan orang tua. Freepik/dok.

JAKARTA - Penggunaan internet yang berlebihan memiliki dampak buruk terhadap menurunnya kesejahteraan digital anak. Oleh karenanya, perlu upaya untuk menciptakan ruang digital yang aman agar anak-anak terhindari dari risiko terjadinya perundungan (cyberbullying), adiksi hingga kesehatan mental. 

Menurut penelitian UNICEF pada tahun 2019, sekitar 90% anak dan remaja Indonesia menghabiskan waktu 5 jam per hari pada hari biasa, untuk mengakses media sosial, gim online, dan menonton tayangan streaming.

Melihat realitas tersebut Founder dan Direktur Eksekutif Bullyid Indonesia, Agita Pasaribu menjelaskan, upaya memberikan edukasi lingkungan digital yang aman perlu digencarkan untuk melindungi dan memastikan kesejahteraan anak, terutama dalam sekolah dan proses pembelajaran.

Menurutnya digital wellbeing atau kesejahteraan digital sangat erat kaitannya dengan intensitas penggunaan internet, yang apabila dilakukan berlebihan dapat berdampak pada kesehatan mental dan memicu peluang terjadinya perundungan online hingga mengganggu kesehatan fisik.

“Menurut survei kami, kebanyakan dari remaja Indonesia sering kali merasa minder dan tidak percaya diri dengan wajah dan fisik mereka ketika melihat public figure atau influencer yang mereka ikuti di media sosial”, kata Agita dalam webinar bertajuk ‘Mewujudkan Kesejahteraan Digital di Lingkungan Sekolah’, Rabu (24/11).

Lebih lanjut, rasa tidak percaya diri dan cemas yang muncul tersebut jika dibiarkan akan berdampak pada kemampuan anak dalam bersosialisasi, menurunkan nafsu makan, dan yang terburuk adalah mengalami depresi. Atas dasar itulah penting untuk anak-anak memahami cara agar mereka dapat menggunakan teknologi sebagai sarana belajar tanpa adanya gangguan.

Riset yang dilakukan Universitas Illinois pada tahun 2020 menjelaskan, ketika anak tidak fokus atau mengalami distraksi saat belajar konsentrasi mereka akan menurun. Lebih dari itu, jika memindahkan program pembelajaran melalui media sosial akan berpotensi membuat anak menunda waktu belajar. 

Maka dari itu, peran tenaga pengajar dan orang tua sangat dibutuhkan untuk menciptakan ruang belajar digital anak yang sehat dan bertanggung jawab.

Menurut Agita, ada beberapa tips agar anak dapat menyeimbangkan aktivitas di dunia digital-nya saat belajar, seperti mengaktifkan batasan waktu ketika melihat aplikasi, mengunduh materi belajar secara offline, menyalakan mode fokus di ponsel untuk mematikan notifikasi aplikasi dalam beberapa jam.

Pastikan Tak Terdistraksi

Sementara itu, Asisten Deputi Perlindungan Khusus Anak dari Kekerasan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Ciput Eka Purwianti mengatakan, kesejahteraan digital anak dapat dimaksimalkan orang tua agar anak- anak bisa meraih pendidikannya dengan optimal tanpa terdistraksi konten yang kurang mendidik. Menurutnya, orang tua berperan sangat besar untuk menciptakan ruang digital aman dan tanpa distraksi yang berpotensi pada penurunan kapasitas belajar sang buah hati.

“Melihat adanya tuntutan bagi para peserta didik untuk dapat melakukan pembelajaran mandiri di rumah melalui penggunaan teknologi. Maka dari itu, diperlukan adanya metode pembelajaran efektif yang kondusif dan tanpa distraksi, untuk mengembangkan kinerja belajar anak,” ujarnya, dikutip dari Antara

Dengan menyiapkan kesejahteraan digital bagi anak, maka tidak hanya kualitas edukasi yang optimal namun juga kualitas hidup anak dapat terjaga dengan baik.

Ada pun cara pertama yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk menyiapkan kesejahteraan digital bagi sang buah hati dapat dimulai dengan menyiapkan daftar aktivitas bagi anak, agar kegiatan di dunia maya dan dunia nyata bisa dibagi dengan seimbang.

Orang tua ada baiknya menyiapkan juga batasan waktu bagi anak saat mengakses gawainya. Pastikan si kecil tidak terdistraksi untuk bermain gim atau pun menonton streaming saat sedang menggunakan gawainya.

Cara lainnya adalah orang tua bisa mengunduh materi belajar secara offline, sehingga anak bisa mengurangi waktunya untuk berkutik di depan layer gawai. Orang tua juga bisa mematikan notifikasi aplikasi- aplikasi yang tidak berhubungan dengan pengajaran ketika anak sedang menggunakan gawai sehingga anak bisa fokus belajar dalam kegiatan sekolah daringnya.

Selain menyiapkan jaring pengaman, orang tua juga harus mengajarkan anak untuk mandiri menjaga dirinya sendiri lewat membedah dan membedakan konten positif dan negatif. Setelah itu, biasakan anak untuk memilih konten- konten positif pada saat mengakses gawai, sehingga anak-anak bisa terhindar dari konten negatif yang bisa menjadi distraksi bagi sang buah hati.

“Edukasi tentang kesejahteraan digital seperti ini dapat menjadi strategi preventif bagi para peserta didik dari risiko digital yang dapat menyebabkan turunnya kapasitas belajar anak,” kata Ciput.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER