Selamat

Selasa, 21 September 2021

12 Agustus 2021|19:00 WIB

Menanti Tayangan Berkualitas Era TV Digital

Migrasi siaran TV analog ke digital diharap juga menjadi pembaru konten tayangan. Bukan sekadar peningkatan kualitas gambar dan suara

Penulis: Gemma Fitri Purbaya, Arief Tirtana,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageWarga menonton televisi di rumahnya, Depok, Jawa Barat. Proses Analog Switch Off (ASO) atau migrasi dari siaran tv analog ke digital akan segera dimulai. Antara foto/dok

JAKARTA – Meski tinggal di Riau, wilayah yang masuk dalam rencana tahap I migrasi siaran TV analog ke digital, Fitri Satria sama sekali belum mengetahui apa yang dimaksud dengan TV Digital.

Wanita 24 tahun itu membayangkan TV Digital tak ubahnya seperti siaran TV Parabola atau TV Kabel, yang sempat digunakannya ketika masih tinggal di Sumatra Barat dulu.  Dia juga tak paham soal penghentian siaran analog (analog switch off/ASO) yang belakangan didengungkan pemerintah.

"TV Digital ini maksudnya TV yang pakai parabola ya? Dulu saya langganan TV kabel, waktu masih tinggal di Sumatra Barat. Sekarang tinggal di Riau tidak langganan itu lagi," tutur Fitri kepada Validnews, Sabtu (7/8).

Apa yang jadi pertanyaan Fitri itu, bisa jadi merupakan gambaran besar seluruh masyarakat Indonesia yang belum mengetahui apa itu TV Digital dan mengapa perlu berpindah siaran.

Padahal, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Komunikasi (Kemenkominfo) sudah harus melakukan migrasi secara penuh di seluruh Indonesia, paling lambat 2 November 2022 mendatang.

Awalnya, migrasi tahap pertama akan dilakukan pada 17 Agustus 2021, besok. Dimulai dari enam wilayah layanan yang terdiri atas 15 kabupaten/kota. Sayangnya, rencana itu terpaksa diundur selama delapan bulan lamanya. Baru akan dimulai pada akhir April 2022.

Alya, seorang perempuan muda yang tinggal di Batam, juga mengaku tak tahu banyak mengenai apa itu TV Digital. Dirinya hanya sempat mendengar kalau pemerintah akan mengubah siaran TV analog menjadi digital.

Namun, dia tak tahu persis bagaimana mekanismennya dan apa yang harus dilakukan. Sebagai orang yang sesekali masih menonton tayangan TV sebagai hiburan dan mencari informasi, dia mengaku bingung apa yang terjadi dengan televisi yang biasa ditontonnya, dalam waktu dekat.

Diakui juga oleh Komisoner KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) Pusat, Hardly Stefano Fenelon Pariela bahwa memang masih banyak masyarakat Indonesia yang belum paham apa itu TV Digital. Umumnya mereka menganggap bahwa TV Digital sama dengan layanan TV kabel, yang penggunaannya berbayar dengan sistem langganan.

Padahal TV Digital ini adalah TV yang sama seperti TV Analog. Masih menggunakan antena UHF, gratis tanpa perlu berlangganan, dan hanya perlu alat bantu atau set top box (STB) untuk TV-nya belum bisa menerima tangkapan frekuensi digital. Menurut Hardly, sosialisasi memang masih sangat diperlukan, demi terwujudnya Analog Switch Off pada tanggal 2 November 2022 mendatang.

Diakuinya, Indonesia saat ini sudah sangat ketinggalan dibanding negara lain. Terlebih penerapan TV Digital ini memiliki sejumlah manfaat, salah satunya berkaitan dengan kualitas.  

"Yang pasti TV Digital gambarnya lebih bersih, suaranya lebih jernih. (Selain itu) TV yang muncul akan semakin banyak, akan semakin beragam. Harapannya pada era TV Digital, membuat kompetisi konten bergerak ke arah kualitas," ungkap Hardly saat dihubungi Validnews (4/8).

Keberagaman Program
Harapan memang membuncah akan dampak migrasi siaran ini. Fitri dan Alya misalnya. Meski belum paham sepenuhnya, mereka berharap kemunculan TV Digital nanti bisa membawa arah siaran TV di Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Bukan hanya sekadar menghadirkan gambar yang bagus dan suara yang jernih saja. Mereka berharap akan muncul program berkualitas, yang lebih mendidik dan baik untuk anak-anak.

"Harapannya kontennya kalau bisa yang mendidik, terutama film anak-anak. Percuma kalau gambar dan suara yang bagus tapi isinya tidak mendidik dan porno," kata Alya.

Setali tiga uang, begitupun yang diutarakan pengamat penyiaran, Heru Sutadi. Di atas kertas dirinya mengakui bahwa potensi perbaikan kualitas program memang terbuka lebar pada era TV Digital. Dengan semakin banyak stasiun TV baru bisa bermunculan. Potensi untuk munculnya program berkualitas juga akan semakin besar.

Di sisi lain, dengan banyaknya jumlah stasiun TV tersebut, potensi kerusakan juga bisa hadir, menjadi bumerang yang lebih cepat menghancurkan. Ini terjadi jika ternyata program yang dihadirkan tidak lebih baik dari yang ada selama ini.

"Kalau semua isi kontennya asal-asalan. Justru daya rusaknya semakin cepat. kalau misalnya konten yang kreatif, mendidik dan merupakan hiburan yang baik. Ini memberikan kontribusi besar," kata Heru.

Direktur Eksekutif ICT Institute itu menyebut, kualitas konten program saat ini memang masih menjadi pekerjaan rumah besar buat stasiun-stasiun televisi yang ada di Indonesia.

Dari jenisnya, konten yang ada saat ini memang sudah variatif. Banyak yang sudah lurus memberikan edukasi kepada penontonnya. Namun, tak sedikit pula yang kurang baik. Seperti sinetron yang episodenya tidak selesai-selesai, hantu-hantuan, dan ada juga yang programnya seharian hanya jualan saja.

"TV menggunakan frekuensi publik, (dan) frekuensi publik itu harus dimaksimalkan untuk kepentingan publik," kata Heru.

Rating dan Sharing
Namun, Dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ), sekaligus Ketua Asosiasi Program Studi Film dan Televisi (PROSFISI), Gerzon Ajawaila menilai lain. Dia menjelaskan, sulit untuk menentukan parameter bagus atau tidaknya sebuah tayangan televisi saat ini.

Tolok ukurnya akan sangat subjektif, tergantung latar belakang pendidikan, latar budaya dan hal-hal lain dari masing-masing penonton.

Dirinya pun tak menampik, bahwa pada akhirnya selera penonton akan menentukan bagus tidaknya siaran program TV itu sendiri. Namun hal itu bisa terwujud jika stasiun TV memang benar-benar melakukan riset kepada penontonya. Bukan hanya sebatas percaya pada penilaian rating dan sharing, seperti selama ini.

"Stasiun TV percaya saja dengan rating. Padahal secara ilmiah pun itu tidak bisa dibuat ukuran yang jelas," kata Gerzon.

Bagi Gerzon, penilaian rating dan sharing yang ada di Indonesia saat ini sudah sangat tidak relevan. Selain metodenya yang tidak jelas, banyaknya jumlah penonton di Indonesia juga sudah tidak sebanding dengan hanya mengandalkan satu lembaga, A.C. Nielsen untuk mengukur keduanya.

Sebagai perbandingan, Jepang yang memiliki jumlah penonton TV hanya berapa ratus juta, tapi mereka memiliki 10 atau bahkan sampai 15 lembaga seperti A.C. Nielsen.

"Lah kita 350 sampai 400 juta manusia, cuma ada satu. Kan sudah kaya Tuhan saja," kata Gerzon.

Heru pun sependapat. Metode yang tidak jelas, membuat semua program yang diarahkan pada sharing dan rating pada akhirnya hanya merupakan tayangan yang heboh. Bisa jadi malah tidak bermanfaat, mencerdaskan dan mendidik.

Dirinya pun meragukan anggapan bahwa program-program yang selama ini dibuat berdasarkan rating dan sharing, adalah sepenuhnya keinginan masyarakat.

"Tidak ada itu keinginan masyarakat. Itu keinginan manajemen TV-nya seperti itu. Agar hidup, agar orang nonton, agar kemudian mendapatkan pendapatan dari iklan," tukas Heru.


Kontrol dan Pegawasan
Bicara soal kualitas konten, tanggung jawab sebenarnya juga ada pada KPI. Regulator penyelenggaraan penyiaran tersebut, punya wewenang untuk membuat aturan, mengawasi, hingga memberi sanksi pada tayangan yang dianggap melanggar pedoman yang telah mereka buat.

Akan tetapi, Komisioner KPI Pusat, Hardly Stefano menjelaskan bahwa pihaknya hanya bisa melakukan fungsi kontrol atas konten atau program TV yang sudah ditayangkan secara luas kepada masyarakat. Hal itu bertujuan demi menjaga asas kebebasan berekspresi dan berkarya, sesuai amanat Undang-undang penyiaran yang ada di Indonesia.

Selebihnya, KPI hanya membuat batasan-batasan aturan yang tertuang dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Tujuannya, agar stasiun TV sebagai pembuat program bisa menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dimuat dalam tayangannya.

"Sangat berbahaya jika KPI melakukan pengawasan sebelum tayang. Karena nanti semua program menjadi sesuai selera KPI. (Padahal) belum tentu selera masyarakat, seperti selera KPI," terang Hardly.

Terkait migrasi ke TV Digital, secara langsung juga diakui Hardly akan berpengaruh kepada cara kerja KPI sebagai lembaga pengawas. 

Jika selama ini pengawasan dilakukan secara manual, satu persatu tayangan dipantau oleh petugas mereka, nantinya pada era TV Digital, KPI akan menggunakan artificial intelligent (AI) untuk megetahui ada tidaknya pelanggaran dalam satu program.

AI akan mendeteksi adanya ucapan tidak pantas, pelanggaran sensualitas ataupun ketelanjangan visual dalam suatu program. Dari deteksi ini, KPI akan memverifikasi dan memvalidasinya.

"Secara konsep kami sudah buat, tinggal diimplementasikan," tegas Hardly.

KPI sendiri sebenarnya mengaku punya kelemahan. Heru Sutadi menilai masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh lembaga yang lahir atas amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 itu.

Salah satunya terkait aturan P3SPS yang masih harus banyak disosialisasikan dengan baik ke stasiun-stasiun TV di Indonesia. Ataupun direvisi sesuai perkembangan masyarakat saat ini. Ini diperlukan, agar tidak ada salah persepsi mengenai batasan apa yang boleh dan tidak boleh dalam sebuah tayangan.

"Misalkan masalah pornografi. Itu kadang-kadang kita sampai sekarang masih bertanya-tanya, seperti voli pantai boleh tidak disiarkan (atau tidak). Pertandingan Olimpiade seperti renang juga," kata Heru.

Dia menukas, jangan sampai karena ada ketakutan dari stasiun TV, tayangan olahraga tersebut tidak disiarkan. Atau kalaupun disiarkan, banyak sensor yang membuat tayangannya tak menarik. Padahal dengan adanya siaran pertandingan-pertandingan seperti itu. Diyakini Heru bisa memengaruhi minat anak-anak Indonesia terhadap olahraga.  

"Ini hal yang perlu diluruskan, dibenahi. Meski katanya 'bukan kita yg mem-blur'. Iya bukan KPI, tapi kalau tidak diblur, dikasih peringatan," terang Heru.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA