Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

14 Oktober 2021|14:52 WIB

Membangun Kembali Panggung-Panggung Seni Tari

Dengan kebijakan relaksasi, setidaknya telah membangkitkan kembali mental para seniman, tapi belum secara materi

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageTangkapan layar Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta, Yola Yulfianti dalam sesi pembukaan JICON Dance Fest 2021. Sumber foto: dok. pribadi

JAKARTA – Seniman tari menjadi salah satu kalangan yang paling terdampak pandemi. Mereka kehilangan panggung-panggung pertunjukan karena terbatasnya event-event yang bisa digelar di masa pandemi.

Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta Yola Yulfianti mengatakan, ada banyak seniman tari yang berjibaku untuk bertahan di masa pandemi. Ada yang masih bertahan hingga saat ini dengan tidak adanya panggung, namun ada pula yang sampai harus menghentikan keseniannya. Ia mengaku mendengar banyak cerita sanggar-sanggar tari yang tutup di masa pandemi.

“Tari itu termasuk bidang yang paling terdampak di dalam seni, kita enggak punya panggung. Ada sanggar-sanggar yang sampai harus tutup karena enggak ada aktivitas, artinya mereka tidak ada sumber pemasukan, mereka tak mampu membayar sewa-sewa segala macam. Itu kita sangat sedih mendengarnya,” ungkap Yola dalam sesi bincang-bincang pembukaan JICON Dance Festival 2021 di M Bloc space, Jakarta Selatan, Rabu (13/10).

Menurut Yola, situasi saat ini sudah mulai membaik, setidaknya lebih baik daripada situasi beberapa bulan yang lalu saat pandemi memuncak. Berbagai relaksasi kegiatan masyarakat akhir-akhir ini dianggap angin segar bagi seniman tari untuk bisa produktif kembali.

Yola mengatakan, hal itu membawa optimisme. Setidaknya secara psikologis berdampak positif bagi para seniman.

“Sekarang, dari awal pandemi hingga kondisi mulai membaik saat ini, kita sudah agak baik secara mental. Kalau secara materi, belum, karena panggung-panggung masih sedikit sekali,” ujar Yola.

Yola menambahkan bahwa seniman tari masa kini harus berusaha bertransformasi atau beradaptasi dengan keterbatasan situasi, jalannya yaitu dengan mengeksplorasi ranah seni media baru atau digital. Mau tidak mau, katanya, itulah tantangan ke depan yang dihadapi para seniman tari.

“Pertumbuhan media baru ini menarik, menjadi panggung lain juga dan mempunyai nilai yang harusnya bisa juga monetize,” ucapnya.

Hal itulah yang coba digalakkan Yola bersama pegiat lainnya di Dewan Kesenian Jakarta lewat gelaran Jakarta International Contemporary (JICON) Dance Festival 2021. Helatan yang berlangsung selama 18 hari, mulai 13 sampai 30 Oktober ini, membuka ruang eksplorasi bagi seniman untuk menemukan bentuk-bentuk interaksi dan distribusi karya yang baru sesuai dengan perkembangan zaman.

Agenda JICON Dance Festival ini dihelat sebagai upaya menjawab tantangan keterbatasan selama pandemi, mengoptimalkan kolaborasi lintas bidang, terutama antara koreografer dan seniman media baru.

Lebih lanjut, Plt. Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Gumilar Ekalaya menyatakan keprihatinannya atas kondisi yang dialami kalangan seniman pada masa pandemi. Ia berharap seniman bisa segera keluar dari situasi sulit, terutama saat ini, di masa di mana situasi terlihat mulai membaik dan semakin baik.

Gumilar berharap dalam waktu dekat semakin banyak sektor yang mendapatkan relaksasi atau pelonggaran pembatasan kegiatan dari pemerintah. Dalam hal ini, ia juga mendorong para seniman agar bisa membantu mempercepat lahirnya situasi baru yang lebih leluasa untuk berkesenian.

“Pastinya Jakarta saat ini berangsur membaik, dan mudah mudah-mudahan di minggu-minggu kedepan banyak lagi tempat kegiatan bisa direlaksasi,” kata Gumilar.

“Kita selalu mendorong teman-teman dari asosiasi, teman-teman dari komunitas, ayo sama-sama siapkan prokes kita, supaya kita bisa meyakinkan ke pimpinan-pimpinan kita bahwa kita sudah siap untuk dibuka,” pungkasnya.


Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA