Selamat

Kamis, 20 Januari 2022

KULTURA | Validnews.id

KULTURA

26 November 2021

21:00 WIB

Memahami Tahapan Terapi Pasien Kanker Paru

Kanker paru merupakan penyebab kematian kanker nomor satu di dunia, sedangkan di Indonesia merupakan penyebab 8,8% atau 34.783 kasus baru kanker.

Editor: Rendi Widodo

Memahami Tahapan Terapi Pasien Kanker Paru
Ilustrasi kanker paru. Shutterstock

JAKARTA - Dr. Ralph Girson Ginarsa, SpPD-KHOM, spesialis penyakit dalam dan konsultan hematologi onkologi medik mengatakan terdapat beberapa opsi terapi kanker paru yang disesuaikan dengan ukuran, cakupan, tipe kanker paru, dan kondisi kesehatan pasien secara umum.

Gejala kanker paru sering kali tidak nampak pada stadium awal sebab tanda-tandanya serupa dengan penyakit umum lain seperti TBC ataupun dampak dari kebiasaan merokok jangka panjang.

Tidak sedikit pasien yang datang dengan kanker paru sudah berada pada stadiun lanjut. Menurut Dr. Ralph jika pasien melakukan pemeriksaan sejak dini, maka akan mendapatkan hasil pengobatan yang lebih baik.

"Bagi mereka yang di atas usia 55 tahun yang sering terpapar dengan faktor risiko tersebut, deteksi dini kanker paru dapat dilakukan dengan skrining tahunan melalui tes pencitraan. Jika diduga terdapat kanker paru, akan dilakukan scan CT, PET atau MRI, kemudian pengujian lendir, dan pengujian yang lebih lanjut lainnya," Dr. Ralph dikutip dari Antara, Jumat (26/11).

Dr. Ralph menjelaskan terdapat tiga metode utama terapi kanker paru bergantung pada ukuran, cakupan, tipe kanker paru dan kondisi kesehatan pasien secara umum.

Untuk jenis kanker paru Sel Bukan Kecil (non small cell lung cancer atau NSCLC) pada stadium awal (stadium I) di mana kanker masih berada pada salah satu organ paru, terapi dapat dilakukan dengan pembedahan.

Setelah itu dapat dilanjutkan dengan kemoterapi untuk mengurangi risiko kambuh. Opsi lain setelah pembedahan dapat dilakukan terapi radiasi.

Pada stadium II, kelenjar getah bening yang terdapat kanker dan kanker yang ada diangkat, kemudian diikuti dengan kemoterapi, dan kemungkinan dengan imunoterapi. Opsi lainnya juga dilakukan radiasi.

Pada stadium IIIA, NSCLC yang telah berukuran lebih dari 7 cm atau telah mengena jaringan getah bening di antara dua organ paru, maka terapi yang dilakukan adalah dengan radiasi, kemoterapi, dan atau pembedahan bergantung pada ukuran tumor, lokasi di paru, kesehatan pasien, serta daya tahan pasien.

Pada stadium IIIB, NSCLC telah menyebar ke kelenjar getah bening pada paru lainnya atau pada leher maupun struktur lain di dada. Kanker ini tidak dapat diangkat hanya dengan pembedahan, namun dengan kemoradiasi.

Imunoterapi bisa diberikan jika kanker dapat terkendali setelah dua kali kemoradiasi. Pasien yang kurang sehat hanya diberikan radiasi saja atau kemoterapi saja.

Pada stadium IV, kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lain dan menjadi sulit untuk disembuhkan. Terapi paliatif diberikan dengan fokus pada pengurangan rasa nyeri seperti dengan terapi fotodinamik (PDT) atau terapi laser.

Akan tetapi jika kondisi pasien cukup kuat, pengobatan atau perawatan dengan pembedahan, kemoterapi, terapi target, imunoterapi, maupun radiasi dapat dilakukan.

Menimbang panjangnya proses penyembuhan kanker paru NSCLC, Dr. Ralph menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan seperti berhenti merokok dan deteksi dini kanker paru.

Dr. Ralph juga mengingatkan masyarakat untuk tidak takut melakukan deteksi dini terhadap kanker paru. Sebab, pengobatan dini dapat membawa hasil yang lebih baik dibandingkan dengan terlambat menyadari kanker.

Berdasarkan data GLOBOCAN 2020, kanker paru menjadi penyebab sekitar 11% atau 2.206.771 kasus baru kanker. Kanker ini juga menjadi penyebab kematian kanker nomor satu di dunia, sedangkan di Indonesia merupakan penyebab 8,8% atau 34.783 kasus baru kanker.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER