Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

TEKNO

08 Juni 2021|18:42 WIB

Melihat Kondisi Karang Perairan Batam

Didominasi kelompok karang non-Acropora

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi terumbu karang. Antara foto/dok

JAKARTA - Terumbu karang memiliki peran penting untuk ekosistem laut dan kehidupan manusia. Hasil sedimentasi kapur yang terbentuk dari kalsium karbonat yang dihasilkan oleh biota laut tersebut merupakan tempat bernaung dan sumber makanan bagi krustasea, bulu babi, anemon laut, bintang laut, teripang, dan ikan-ikan kecil.

Seiring berjalannya waktu, terumbu karang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan sekitarnya, sehingga keasrian karang membutuhkan pengelolaan dan perhatian khusus.

Pusat Penelitian Oseaografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Dinas Perikanan Bintan dan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjung Pinang melakukan pemantauan kesehatan karang atau Reef Health Monitoring 2021 di Batam, Kepulauan Riau.

Monitoring dilakukan selama dua pekan, 27 Mei - 9 Juni 2021 di lokasi pemantauan yang tersebar pada 19 area untuk terumbu karang, sepuluh area Mangrove dan delapan area lamun antara Pulau Abang dan Pulau Karas.

Terdapat 25 orang yang dibagi menjadi empat tim yaitu tim karang, tim lamun, tim mangrove, dan tim sosial-ekonomi. Sasaran utama penelitian tersebut adalah mengetahui informasi terkini terumbu karang, ikan karang, dan megabentos serta ekosistem sekitar karang seperti lamun dan mangrove.

Khusus monitoring di Batam, Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Ucu Yanu Arbi menjelaskan ini merupakan kali kelima sejak 2015, dan sempat off di tahun 2019-2020. Dari data yang diambil dari tahun ke tahun tersebut, akan terlihat grafik kesehatan karang dan ekosistem terkait, apakah naik, turun, atau fluktuatif.

"Sehingga kita tahu tindakan apa yang dapat kita lakukan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (8/6).

Monitoring juga bertujuan untuk mengumpulkan data geospasial dan data kualitas air pada ekosistem pesisir terkini. Data-data tersebut diambil turun langsung dengan pemantauan dari bawah air dan pengambilan sampel.

“Beberapa hari kami mengalami arus yang kuat dan air yang keruh. Untuk pemantauan ikan karang kami menggunakan metode Underwater Visual Census atau UVC di mana data jumlah ikan didapatkan dari apa yang kita lihat, sehingga air yang keruh dapat mempengaruhi hasil monitoring,” ucap Muin Sinaga, Kepala Seksi Pendampingan Unit Pengolahan Ikan Dinas Perikanan Kabupaten Bintan.

Muin menjelaskan bahwa data-data yang didapatkan pada Reef Health Monitoring di Batam akan dijadikan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah sebagai upaya pelestarian terumbu karang dan ekosistem yang terkait.

Peneliti UMRAH, Dedy Kurniawan mengatakan, dari monitoring yang dilakukan selama dua pekan, jenis karang yang dominan ditemukan di Perairan Batam adalah kelompok karang non-Acropora. Yakni karang-karang yang berpolip besar dan tahan terhadap kondisi perairan bersedimentasi tinggi dan beratus.

“Umumnya ditemukan jenis Porites, Goniopora, Pavona, Fungia, dan Favites," jelasnya.

Menyoal kondisi kesehatan karang di lokasi monitoring, secara garis besar Dedy mengatakan bahwa kondisi karang berada pada status sedang. Secara keseluruhan kondisi tutupan karang hidup di perairan Pulau Abang dan Perairan Karas berada pada kondisi sedang, dengan kisaran tutupan karang hidup antara 20-40%.

Data sosial-ekonomi juga diambil sebagai data pendukung penelitian Reef Health Monitoring tersebut. Tim sosial-ekonomi mengambil data dengan cara wawancara mendalam dan kuesioner dari penduduk di daerah sekitar pantai. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui kewaspadaan masyarakat terkait pentingnya terumbu karang dan mengetahui pola konsumsi masyarakat terhadap ekosistem karang seperti teripang, bulu babi, dan kima.

“Dari hasil survey dan wawancara, penduduk menggunakan alat tangkap ramah lingkungan (tidak merusak karang), seperti pancing. Kita dapatkan informasi juga bahwa jika ada nelayan lain di luar Pulau Nguan yang mengambil ikan dengan alat tangkap yang merusak karang atau yg merusak karang secara langsung, maka akan ditindak oleh warga,” pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER