Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

GAYA HIDUP

12 Mei 2021|11:12 WIB

Melawan Praktik Penyebaran Foto/Video Intim Di Media Sosial

Permasalahan menjadi lebih pelik bila korban datang dari kaum minoritas, seperti homoseksual.

Penulis: Gemma Fitri Purbaya,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageIlustrasi media sosial. Shutterstock/dok

JAKARTA – Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) masih terus terjadi sejak awal kemunculan internet. Komnas Perempuan mencatat, ada 940 kasus KBGO pada tahun 2020 dari yang sebelumnya hanya 281 kasus. Salah satu kasus KGO adalah Non-Consensual Intimated Video/Photo Distribution, yaitu praktik penyebaran foto atau video intim tanpa persetujuan.

Penyebaran foto atau video intim tanpa persetujuan seringkali disebut dengan revenge porn. Aktivis perempuan dan konsultan gender, Tunggal Pawestri mengatakan, sebagian besar motif pelaku penyebaran video atau foto ini adalah ‘revenge’ atau balas dendam. Namun, istilah revenge porn menurutnya kurang tepat karena artinya ada sesuatu yang salah sehingga dibalas. Sementara motif pelaku tidak melulu karena balas dendam.

“Motifnya pelakunya beragam. Pertama, karena dendam semisal dia tidak mau putus dengan pasangannya sehingga si pelaku ini mengancam untuk menyebarkan foto atau video intim mereka agar tidak putus,” cerita Tunggal pada Validnews, Selasa (11/5).

Alasan kedua, bisa jadi karena grooming, modus baru untuk membangun hubungan dan kepercayaan di awal untuk kemudian dimanipulasi atau dieksploitasi. Kasus grooming marak terjadi terutama pada masa pandemi. Hal ini dapat berujung penyebaran foto atau video intim ke publik. 

Apalagi pandemi mendorong terjadinya hubungan jarak jauh. Pelaku dapat memanfaatkannya untuk mendapatkan foto atau video intim korban yang ia pergunakan untuk memeras atau mengancam korban.

“Alasan lainnya bisa juga karena diretas. Jadi sebenarnya foto atau videonya ini koleksi pribadi, tetapi diretas sama orang lain. Lalu mereka diancam dan diperas agar tidak disebarluaskan,” ujar Tunggal.

Lantas bagaimana jika kita atau orang terdekat menjadi korban praktik penyebaran foto atau video intim ini? Menurut Tunggal, langkah pertamanya adalah mencari seseorang untuk bercerita atau mencari pendamping. Kemudian, korban bisa menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang menangani isu seperti ini, semisal LBH Apik.

Selanjutnya, korban dapat mulai mengumpulkan bukti-bukti ancaman atau adanya penyebaran foto atau video intimnya. Korban bisa menceritakan atau menuliskan secara runut kronologisnya, rekaman percakapan via teks, telepon, atau hal-hal yang bisa dijadikan bukti. LBH akan menanyakan kepada korban apa yang mereka inginkan, misalnya ingin ancaman atau tindakan pelaku berhenti.

“Nanti dari pihak LBH bisa mensomasi atau melakukan mediasi terhadap pelaku, untuk memberikan peringatan kalau mereka bisa dijerat ke pihak berwajib. Biasanya banyak pelaku yang sudah tidak melakukan ancaman lagi setelah ini,” jelas Tunggal.

Polemik Korban Minoritas

Namun, biasanya permasalahan menjadi cukup pelik bila korban datang dari kaum minoritas, seperti homoseksual. Tekanan dan ketakutan mereka biasanya menjadi bertambah sehingga korban menjadi tidak berani melapor dan membiarkan hal itu terjadi. Padahal, praktik tersebut sudah cukup banyak terjadi di sosial media.

“Kalau hubungan yang heteroseksual, perempuan melapor pihak berwajib akan oke-oke saja. Paling dapat tekanan moral karena belum menikah dan sebagainya. Kalau kasus yang homoseksual ini, tekanan itu akan semakin bertambah. Aktivitas seksual mereka yang ditutupi jadi terbuka karena mereka di luar dari mayoritas (heteroseksual),” timpal Tunggal.

Belum lagi ada kasus oknum yang memang sengaja mencari korban untuk diperas di berbagai jejaring media sosial atau aplikasi kencan khusus homoseksual. Oknum ini tahu bahwa korban pasti takut untuk melapor sehingga mereka terus melancarkan aksinya.

Untuk itu, Tunggal berharap agar para korban penyebaran foto atau video intim, baik heteroseksual maupun homoseksual, berani mencari pendampingan hukum. Praktik tersebut harus dihentikan karena korban tidak hanya mengalami dampak psikologis karena foto atau video intim tersebar, tetapi dapat pula berdampak pada kondisi fisik mereka. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA