Melatis Rimba Demi Bekal Anak Negeri | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

18 November 2021|21:00 WIB

Melatis Rimba Demi Bekal Anak Negeri

Beragam keterbatasan di wilayah 3 T membuat anak tak siap bersaing. Persepsi akan pentingnya pendidikan masih jadi sandungan

Penulis: Arief Tirtana, Chatelia Noer Cholby,

Editor: Rendi Widodo

Melatis Rimba Demi Bekal Anak NegeriSiswa SD berjalan menuju sekolahnya yang berjarak sekitar 10-15 kilometer di Desa Looluna, Belu, NTT, Kamis (4/7). ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/Koz/Spt/13.

JAKARTA – “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kamu gunakan untuk mengubah dunia,” demikian salah satu pernyataan Nelson Mandela, peraih Nobel Perdamaian dari Afrika Selatan nan kondang.  Pernyataan korban politik Apartheid ini kerap diingat oleh Haekal Hamdany, pemuda Minang dari keluarga berkecukupan yang mudah mengakses bangku pendidikan.

Haekal sendiri selalu tercukupi hingga mampu meraih pendidikan tinggi. Akan tetapi, tantangan hidup baginya justru datang dari kenyataan sulitnya anak-anak Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang baik. 

Dari Pulau Jawa, Kalimantan, hingga tanah kelahirannya di Minang, Haekal menemukan banyak sekali anak yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah demi membantu orang tua. Fenomena ini membuat hatinya teriris.

“Padahal, pendidikan itu seharusnya nomor satu bagi anak-anak tersebut. Sebab, mereka kaum pemuda yang akan mengubah dunia. Bila mereka tak dapat mengenyam bangku sekolah, lalu bagaimana negara ini di tahun-tahun berikutnya,” katanya kepada Validnews, Rabu (17/11).

Ini pula yang mendasari kegiatannya di Lembah Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Di wilayah ini, dia bertekad untuk mengubah negeri lewat jalan pendidikan non-formal bagi anak-anak di sana. 

Buat banyak orang, tekad ini terkesan sangat idealis. Namun, niatan Haekal terwujudkan lewat berdirinya Sakola Alam yang dibangun bersama enam kawannya. Dan, berkat sekolah itu pula, anak-anak di Tanah Harau bisa menikmati secercah manfaat dari pendidikan. 

Sejatinya, tak sedikit kendala yang harus dihadapi Haekal dan kelompoknya untuk mendirikan Sakola Alam pada 2017 itu. Pada awalnya, masyarakat desa merasa tak setuju dengan niatan Haekal tersebut.

Pendidikan di daerah pedalaman memang kerap dianggap sebelah mata. Masyarakat sekitar menganggap pendidikan dapat mengganggu kewajiban anak untuk membantu orang tua dalam bekerja. Ya, orientasi ekonomi memang jauh lebih kental di pikiran masyarakat Harau dibandingkan menuntut ilmu demi masa depan yang lebih baik.

“Banyak orang tua yang tidak setuju anaknya masuk ke Sakola Alam saat itu. Bahkan, mereka merasa bahwa Sakola Alam ini tidak mendatangkan keuntungan apa-apa untuk keluarganya,” tuturnya.

Tekanan masyarakat sempat menggoyahkan tekadnya. Namun, semangat bulat mereka tak melemah. Ia pun berusaha mencari cara agar warga desa menyetujui dan memperbolehkan anaknya belajar.

Haekal dan kawan-kawan turun ke sawah menemani orang-orang di sana bertani. Penjajakan dilakukan dengan mulai mengenal kultur hingga berbicara dari hati ke hati dengan mereka. Di sela perbincangan, dia menyelipkan pesan-pesan. 

Haekal mulai memperkenalkan Sakola Alam sebagai wadah bagi anak-anak Harau untuk belajar matematika, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan materi lainnya. Tentunya, disebutkan pula bahwa semua materi tersebut akan berguna untuk kemajuan anak-anak di desa itu sendiri. 

Terkait untuk pelajaran bahasa, Haekal merasakan Lembah Harau bisa mendapatkan langsung manfaatnya. Status Harau belakangan menjadi salah satu destinasi wisata terkenal di Sumatra Barat.

“Sayangnya, banyak warga di sini yang kurang bisa berbicara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Lewat Sakola Alam ini, kita dapat membantu anak-anak mereka untuk meningkatkan sektor pariwisata dengan belajar berbagai bahasa,” terangnya.    

Perlahan tapi pasti, akhirnya masyarakat di Harau pun menerima keberadaan Sakola Alam. Demi membangun sektor pariwisata lebih berkembang, para orang tua pun membolehkan anak-anaknya untuk belajar bersama Haekal dan kawan-kawan.

Jadi Lebih Layak
Haekal tak sendiri. Di Sulawesi Selatan, ada pemuda bernama Abek yang juga memiliki keresahan sama tentang pendidikan Tanah Air. Ia melihat banyaknya sekolah di pelosok negeri ini kurang terjamah, jika tidak mau dibilang terlantar.

Salah satunya sekolah di kampung Bara-baraya, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Sekolah itu jauh dari kata 'layak'. Mengapa? Tempat belajar yang seharusnya didirikan dengan bangunan kokoh, justru ada di kolong rumah panggung.

Bisa dibayangkan, bagaimana anak-anak di desa tersebut setiap harinya harus belajar dengan keadaan seperti itu. Abek pun menginisiasi Sekolah Kolong Project pada tahun 2017.

“Sebagai seorang relawan, tentu jiwa sosial kala itu langsung tergerak. Ketika melihat dan mengetahui kondisi itu, tetapi tidak dapat membantu pasti jadi beban moril. Hingga akhirnya saya bersama enam relawan lainnya membuat suatu gerakan untuk membantu pendidikan di sana,” terangnya saat berbincang dengan Validnews, Senin (15/11).

Dengan akses jalan dan medan yang sulit untuk sampai di lokasi, para relawan itu tetap semangat mengangkut semen selama kurang lebih tiga jam berjalan kaki. Semen-semen itu digunakan untuk membangun bentuk sekolah yang lebih layak bagi anak-anak di sana.

Kerja keras yang dilakukan para pemuda itu pun turut mengundang perhatian warga. Beberapa warga yang semula cukup menolak keberadaan pendidikan di kampung pun perlahan mulai luluh. Apalagi usai para relawan itu memberikan pandangan baru kepada mereka, bahwa bersekolah itu penting. Mereka berupaya menanamkan pesan, bahwa pendidikan sebagai sebuah investasi pada masa depan.

Singkatnya, keseriusan para relawan untuk membangun maupun menyebarkan pandangan baru itu membuahkan hasil. Para orang tua tidak lagi menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang menghambat.

“Orang tua di desa tersebut malah akan marah dan melarang anaknya untuk berkebun saat guru atau teman-teman relawan datang. Anak-anak tersebut pun diminta untuk belajar terlebih dahulu, setelahnya baru boleh turun ke ladang,” ungkap Abek .

Meskipun berada di tengah keterbatasan fasilitas, semangat anak-anak untuk tetap bersekolah di dua daerah itu tak surut. Seperti diungkapkan oleh Haekal, bahwa anak-anak hakikinya masih mempunyai rasa ingin tahu yang cukup tinggi.

“Mereka sangat senang sekali saat diperkenalkan teknologi maupun materi-materi pembelajaran yang baru. Bahkan, mereka pun menjadi tambah semangat saat ada orang-orang baru yang datang,” ucap Haekal.

Pria asal Payakumbuh itu pun ingat saat pertama kali membawa laptop ke Sakola Alam. Awalnya, ia memang tidak berniat untuk memperkenalkan benda tersebut kepada murid-muridnya. Sebenarnya, ia tidak sengaja membawa laptop saat itu karena usai bertemu orang.

Ketika sedang membereskan isi tas di pondok, ia pun meletakkan laptop terlebih dahulu di meja. Kemudian, beberapa anak mendekatinya dan memperhatikan benda yang dipegangnya tersebut. Lalu, tiba-tiba ada seorang anak yang langsung bertanya tentang laptop yang masih asing untuk mereka.

“Mereka pun kerap bertanya nama, fungsi, hingga ada apa saja di dalam benda elektronik ini. Hingga akhirnya mereka pun antusias untuk bisa belajar menggunakan benda tersebut. Sayangnya, tidak ada sinyal yang mendukung kegiatan tersebut,” terangnya.

Untuk metode pembelajarannya sendiri, memang cukup berbeda pada sekolah-sekolah umumnya. Di Sakola Alam, Haekal bersama teman relawan lainnya mengajar sesuai dengan keinginan anak-anak. Bila mereka ingin belajar di pinggir sungai, maka para relawan tersebut pun akan menurutinya.

Tidak jarang juga Haekal mengajari mereka sembari duduk di atas pohon. Sebab, mereka memang lebih senang saat belajar di alam bebas seperti itu. Bagi Haekal, di ruangan maupun alam terbuka tidak menjadi soal, asalkan tetap ada keinginan dari mereka untuk belajar.

Pendidikan di Daerah 3T
Dari dua cerita di Lembah Harau dan Bara-baraya, mungkin kita dapat melihat potret kecil pendidikan di daerah-daerah pedalaman. Pengamat Pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan, bahwa pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) memang sangat mengkhawatirkan.

“Kita pun tahu bahwa tingkat pendidikan di Indonesia dalam skala internasional itu adalah salah satu yang terburuk. Apalagi kalau bicara soal pendidikan di daerah 3T,” tegasnya saat dihubungi Validnews, Minggu (14/11).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Indra mengungkapkan, bahwa sebelum pandemi ada sekitar 3% anak usia SD yang masih belum bersekolah. Kemudian, sebanyak 20% anak usia SMP juga belum bersekolah. Terakhir, sebanyak 40% anak usia SMA juga belum bersekolah.

“Jadi, kalau kita bicara dari aksesnya saja di daerah 3T itu masih belum terbuka. Tidak perlu jauh-jauh untuk bicara soal mutu pendidikannya, pasti masih kurang,” terangnya.

Situasi pandemi sekarang ini kembali membuat anak-anak di daerah 3T jadi ‘korban’. Pendidikan jarak jauh yang membutuhkan kehadiran teknologi internet tentu memaksa anak-anak di pedalaman ini gigit jari. Di perkotaan saja masih susah sinyal, maka sudah bisa dipastikan kondisi anak-anak di sana lebih sulit mengakses pendidikan selama pandemi.

Seperti yang sempat disampaikan oleh Haekal, bahwa di daerah Harau sendiri sama sekali tidak ada sinyal. Sekitar empat tahun yang lalu, ia sempat mengajukan permohonan kepada pemerintah setempat untuk difasilitasi base transceiver station (BTS) atau stasiun pemancar.

Tujuannya agar di Lembah Harau tersebut terdapat sinyal, sehingga komunikasi maupun pembelajaran bagi anak-anak menjadi lebih mudah. Akan tetapi, permohonan tersebut tak kunjung mendapat respons positif.

“Hingga dua minggu yang lalu di Harau baru ada sinyal. Benar-benar baru dipasangkan stasiun pemancar di sana. Padahal, kita sudah meminta dari beberapa tahun yang lalu,” ungkap Haekal.

Indra juga mengungkapkan senada. Dia sedih, bahwa dari kenyataan yang mengemuka, sebenarnya anak-anak di daerah 3T tersebut memang tidak dipersiapkan untuk mendapatkan kesempatan kerja yang layak. Dengan keterbatasan akses dan fasilitas tadi, tentu masuknya teknologi ke daerah tersebut menjadi sangat minim.

Mayoritas anak-anak di sana pun akhirnya menjadi sulit untuk mengoperasikan teknologi. Pada akhirnya lapangan pekerjaan yang ada di perkotaan pun tak dapat dijangkau oleh mereka. Sebab, kecakapan teknologi menjadi salah satu syarat umum beberapa perusahaan di perkotaan hari ini.

“Dari kasus seperti itu saja, kita dapat melihat bahwa mereka memang tidak benar-benar dipersiapkan oleh pemerintah,” imbuhnya.

Indra pun menyarankan bahwa sebaiknya pemerintah membuat rancangan yang benar-benar jelas. Bukan sekadar membangun sekolah atau menyediakan guru penggerak saja, tetapi murid-murid ini diarahkan untuk menjadi generasi penerus bangsa yang dapat bersaing, minimal dengan anak-anak di perkotaan yang sudah lebih beruntung karena domisilinya.

Indra menuturkan, bila penanganan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah di daerah pelosok masih sangat kurang. Akhirnya, lebih banyak peran swasta yang menangani permasalahan tersebut.

“Apalagi ada wacana bahwa pemerintah akan menghapus dana BOS di sekolah yang muridnya kurang dari 60 siswa. Lalu, apa kabar daerah pelosok? Rata-rata mereka memiliki siswa hanya sedikit kurang dari 60 siswa,” terangnya.

Sementara pihak swasta, malah berbondong-bondong membuat gerakan untuk memajukan pendidikan di daerah pedalaman. Padahal, seharusnya pihak pemerintah maupun pihak swasta saling bersinergi satu sama lain.

“Jangan sampai, adanya pihak swasta yang lebih peduli untuk menangani permasalahan pendidikan ini mengakibatkan pemerintah menjadi santai dan abai pada tugas utamanya,” pungkas Indra.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA