Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

30 April 2021|10:09 WIB

Masker Transparan, Inovasi untuk Penderita Tuna Rungu

Selama pandemi, orang dengan gangguan pendengaran dan bicara terganggu saat berkomunikasi karena tertutup masker

Penulis: Satrio Wicaksono,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi masker transparan. Sumberfoto: leaf.healthcare/dok

JAKARTA - Kini, masker telah menjadi salah satu kebutuhan primer masyarakat dunia. Bentuk, bahan, warna serta motif pun kian kian beragam dan semakin stylish. Dalam berbagai aktivitas, orang-orang selalu mengenakan penutup hidung dan mulut itu untuk terhindar dari paparan virus covid-19.

Apalagi virus tersebut dikabarkan telah banyak bermutasi. Bahkan ada yang menyebut kalau varian virus baru itu ada yang lebih ganas dari sebelumnya.

Meski telah menjadi keharusan, namun penggunaan masker dinilai belum ramah untuk para penderita tuna runggu. Masker tertutup menghambat komunikasi antar atau dengan mereka.

Oleh karena itu, ada sebuah inovasi baru yang dilakukan oleh produsen masker asal Jepang, Unicharm Corp. dengan meluncurkan masker wajah tembus pandang. Produk tersebut dibuat khusus untuk memungkinkan penderita tuna rungu dapat berkomunikasi lebih baik selama pandemi.

Seperti dikutip dari Kyodo, masker yang dapat dicuci ini memiliki lapisan transparan, sehingga memungkinkan bagian bawah wajah terlihat. Dengan demikian pembacaan bibir bagi tuna rungu dan orang gangguan pendengaran dan ekspresi wajah pengguna, bisa terlihat.

Pihak Unicharm mengatakan, masker ini sebagai tanggapan atas kekhawatiran orang-orang dengan gangguan pendengaran dan bicara yang telah berjuang untuk berkomunikasi selama pandemi. Masker yang ada selama ini menghalangi kemampuan mereka untuk membaca bibir dan melihat ekspresi wajah.

Meski demikian, pihaknya hanya membuat 3.000 masker, dengan harga masing-masing 1480 yen atau setara Rp196.909 dan hanya dijual secara online. Lapisan transparan masker dibuat tidak beruap oleh napas pemakainya.

Dikutip dari Antara, Direktur eksekutif Federasi Tuna Rungu Tokyo, Daisuke Ochi mengatakan, masker semacam itu akan berguna dalam situasi sehari-hari, seperti ketika ditanya oleh kasir toko swalayan apakah mereka membutuhkan sumpit atau kantong plastik untuk dibawa berbelanja.

"Saat orang lain memakai masker, Anda tidak tahu apakah dia marah atau tertawa, membuat komunikasi menjadi sulit," kata Ochi, yang merupakan teman tuli. (Satrio Wicaksono)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA