Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

SENI & BUDAYA

07 Mei 2021|11:07 WIB

Masjid Tuo Kayu Jao, Jejak Akulturasi Minangkabau-Islam di Masa Silam

Aritekturnya yang kental dengan corak Minangkabau bertahan hingga hari ini

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageMasjid Tuo Kayu Jao di Solok, Sumatera Barat. Sumber foto: Kemendikbud.go.id

JAKARTA – Masjid Tuo Kayu Jao yang berdiri di pinggir Jalan Kampung Kayu Jao, Solok, Sumatra Barat, adalah jejak nyata syiar Islam di Minangkabau sejak berabad-abad silam. Masjid ini merupakan salah satu jejak syiar Islam tertua di Sumatra Barat, bahkan di Indonesia.

Sulit menyebutkan angka pasti tahun pendirian masjid ini. Menurut cerita rakyat, sebagaimana publikasi tim BPCB Sumatra Barat di situs kemdikbud.go.id, masjid ini berdiri sejak abad ke-16.  

Konon cerita, masjid ini didirikan oleh dua orang alim yang diyakini berilmu tinggi, yaitu imam bernama Angku Masaur dan seorang bilal bernama Angku Labai. Proses pembangunannya dilakukan secara swadaya, melibatkan masyarakat sekitar di masa itu.

Sekarang, masjid ini menjadi tujuan wisata religi bagi masyarakat. Kemasyhuran Masjid Tuo Kayu Jao tidak saja karena usianya yang sangat tua. Namun juga karena bentuknya yang unik, berbeda dari model bangunan masjid-masjid dewasa ini.

Secara denah bangunan, masjid ini mengambil bentuk persegi empat, dan salah satu sisinya menjorok keluar. Sementara, atap runcing ke atas menyerupai bentuk limas. Arsitektur yang dimiliki masjid ini secara keseluruhan masih sangat tradisional dan kental dengan corak Minangkabau.

Memiliki tatanan atap bertingkat yang terbuat dari bahan ijuk. Model atapnya tidak menurun datar melainkan sedikit cekung di bagian tengah. Antara satu tingkat atap dengan tingkat lainnya, terdapat celah yang berfungsi untuk jalur masuk cahaya ke dalam masjid. Pada sisi mihrab masjid, diberi atap dengan bentuk berbeda, yaitu menyerupai gonjong rumah gadang.

Di sisi lain, artikulasi Islam terlihat pada masing-masing puncak atap yang dilengkapi mustaka. Ini pula yang menjadi penanda bangunan ini merupakan masjid. Karena jika dilihat sekilas, bangunan masjid ini terlihat seperti rumah model tradisional di Sumatra Barat.

Bagian badan masjid ditutupi dinding kayu, dengan pintu depan yang menyatu dengan anak tangga dan belasan jendela model belah dua. Pada keempat sudut dinding luar, terdapat ukiran berbentuk naga. Di sisi timur pekarangan masjid terdapat tempat berwudhu. Sementara sisi agak ke selatan, terdapat sebuah bedug yang digunakan sebagai penanda waktu salat.

Masuk ke bagian, akan terlihat tiang-tiang kayu yang menjulang tinggi menopang atap. Jumlahnya 27 tiang, dengan satu tiang utama berukuran lebih besar berada di tengah-tengahnya. Tiang utama, kini sudah berbahan semen, menggantikan tiang kayu yang lapuk dimakan usia.

Di bagian depan, terdapat sebuah mimbar kayu yang dihiasi ukiran motif suluran. Serta ada juga sebuah lemari sebagai tempat penyimpanan barang-barang masjid. Selain itu, arsitektur bagian dalam masjid ini tidak memiliki hiasan atau ukiran mencolok, kecuali semua plafon dinding dan tiang-tiangnya sangat autentik, mempertahankan bentuk asalnya yang menggunakan bahan kayu.

Posisi Masjid Tuo Kayu Jao berada di dataran tinggi, dengan pemandangan hamparan perkebunan hijau, membuat suasana di sekeliling masjid terasa sejuk dan nyaman. Udara sekeliling yang sejuk akan menyambut setiap pengunjung yang datang ke Masjid Tuo ini. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA