Selamat

Selasa, 21 September 2021

31 Juli 2021|18:00 WIB

Manejemen Ekspektasi Peneliti Muda

Rendahnya publikasi ilmiah peneliti Indonesia, salah satunya disebabkan minimnya pemahaman dan minat riset, terutama di kalangan mahasiswa.

Penulis: Dwi Herlambang, Chatelia Noer Cholby,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi Pakar sedang melakukan penelitian. Sumberfoto: Shutterstock/dok

JAKARTA – Wafa Nida sangat memahami kalau salah satu penyebabnya terjadinya pemanasan global adalah penggunaan listrik yang tidak ramah lingkungan. Namun masalahnya, di kehidupan sekarang ini, tidak ada masyarakat dunia yang bisa hidup tanpa listrik.

Listrik seakan menjadi seperti "sumber kehidupan" yang paling utama bagi manusia. Bagaimana tidak, kebutuhan industri hingga rumah tangga, semua membutuhkan energi listrik.

Sayangnya, tidak banyak orang yang bisa bersikap ramah dengan "sumber kehidupan" yang satu ini. Sebut saja, pemakaian pendingin ruangan yang jor-joran, membiarkan colokan listrik terus tertancap di saklar.

Sadar akan kebiasaan-kebiasaan buruk manusia, tercetuslah dalam benak Wafa untuk melahirkan sebuah terobosan sederhana.  Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya Malang ini mencoba menciptakan energi listrik yang ramah lingkungan dan tentu saja bisa digunakan semua kalangan.

"Kita berupaya bagaimana caranya menghasilkan energi listrik yang ramah lingkungan karena sudah banyak juga program yang diselenggarakan menghasilkan energi listrik tapi kurang ramah lingkungan atau biayanya cukup besar," kata Wafa kepada Validnews, Senin (26/7).

Berangkat dari hipotesis di atas, bersama dengan dua rekannya, dia mulai membuat penelitian dengan tema pengolahan limbah alumunium menjadi penghasil energi listrik. Limbah aluminium dipilih karena di Indonesia, hal itu jamak ditemukan di lingkungan sekitar.

Jika diperinci, limbah alumunium yang digunakan berasal dari kaleng bekas minuman, kemasan makanan, hingga alumunium foil yang biasanya digunakan dalam praktikum dalam bangku perkuliahan.

Penelitian dimulai dari membuat desain generator hidrogen. Secara umum cara kerjanya memang seperti genset biasa. Bedanya, generator hidrogen otomatis ini adalah alat penghasil listrik yang berasal dari air dan limbah alumunium yang sudah tidak digunakan lagi.

Pembuatan awal dilakukan selama dua bulan, dengan desain yang terdiri dari beberapa komponen yaitu pengolahan aluminium, tiga chamber berupa chamber aquades, chamber NaOH, reactor chamber, gas bag, hydrogen fuel cell, converter serta electricity storage.

Generator hidrogen otomatis ini dibuat dengan teknologi berbasis otomatisasi dan yakni baterai bertenaga hidrogen, yang dalam pengoperasiannya tidak membutuhkan banyak energi. 

Mahasiswa yang kini duduk di bangku semester 7 itu menjelaskan, generator buatannya ini mampu membantu mengurangi suhu permukaan bumi akibat gas rumah kaca. Selain memanfaatkan limbah aluminium menjadi sumber energi listrik.

Adapun cara kerja dari generator ini dimulai dengan mereaksikan limbah aluminium dan (H2O) dengan bantuan katalis NaOH sehingga akan menghasilkan hidrogen. Hidrogen tersebut akan ditampung di dalam gas bag.

Selanjutnya, hidrogen akan dikonversi menjadi energi listrik menggunakan hydrogen fuel cell dengan cara exchange electron. Setelah itu, listrik akan dialirkan menuju inverter dan disimpan dalam baterai yang bisa dicas ulang, sehingga dapat digunakan setiap saat.

Ironi Dari Pemerintah
Meskipun rancangan desain sudah cukup matang, penelitian dan riset ini kini menemui titik terjal. Pandemi covid-19 yang belum juga teratasi membuat proyek ini terhambat. Musababnya, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat banyak laboratorium tutup.

Yang tak kalah pelik adalah soal pendanaan. Meskipun ia dan timnya pernah mendapatkan pendanaan dari pemerintah, yang diberikan ternyata masih sangat kurang.  Bahkan tidak mencukupi untuk membuat desain ini menjadi alat yang bisa digunakan oleh masyarakat. Padahal jika temuan ini rampungkan, pastinya bisa membantu elektrifikasi di daerah-daerah terpencil.

"Kita sempat menghitung keunggulan alat kita dengan panel surya maupun generator tenaga air. Kalau generator tenaga air itu memiliki kekurangan tergantung debit air, kalau debit airnya besar itu hasilnya besar, kalau debit air kecil dia juga akan kecil," urainya membandingkan.

"Panel surya juga akan tergantung pada intensitas matahari. Kalau matahari enggak ada, ya enggak bisa teraliri," imbuhnya.   

Hal yang dilakukan anak-anak muda di atas adalah contoh kecil bagaimana generasi muda mulai berinovasi dalam dunia riset dan teknologi. Banyak hal serupa dilakukan, dengan tujuan membantu masyarakat agar keluar dari kesulitan.

Riset Dan Gaya Hidup
Seperti yang dilakukan oleh Julie Sintia Nabila. Kegemarannya nongkrong di kedai kopi, membuahkan gagasan untuk membuat racikan minuman tradisional yang bakal disukai anak-anak muda. Dia mengubah stigma kuno, minuman kampung, dan pahit pada jamu.

Dia dan dua rekannya yang sama-sama mahasiswa Universitas Airlangga (Unair), Frisca Taffana dan Ainiyatur Rizkillah membuat inovasi penyajian jamu sinom dengan teknik fusion, yang mereka beri nama Galaxsinom. Teknik fusion sendiri merupakan teknik yang digunakan untuk membuat cita rasa baru dengan membuat perpaduan dua hal yang berbeda.

Dalam konteks ini, Julie dan rekannya memadukan rasa jamu tradisional dengan bahan-bahan makanan yang memiliki cita rasa modern. Ada empat varian rasa jamu yang mereka kembangkan. Sinom original, golden milk (perpaduan sinom dan susu), sinom Yakult, dan sinom frappe yaitu perpaduan sinom dengan whip cream. Sinom sendiri adalah jamu yang terbuat dari bahan dasar daun asam jawa.

Julie menjelaskan, tujuan membuat riset dan penelitian ini adalah untuk menciptakan rasa kekinian, namun tidak meninggalkan unsur kesehatannya.

"Tujuan lain dari inovasi ini adalah untuk dapat menjangkau anak muda sehingga anak muda dan milenial akan lebih mengenal minuman tradisional Indonesia," ujarnya, Rabu (28/7).

Selain mengubah rasa jamu, Julie juga melakukan inovasi bagaimana jamu ini bisa bertahan lebih lama. Dia menggunakan bantuan gula sebagai pengawet alami.

"Cuma treatment-nya dari awal ini yang harus diperhatikan. Kaya gimana cara menyimpan bahannya, supaya bahan tetap fresh dan tidak terkontaminasi. Nah gimana setelah buat itu harus taruh freezer. Juga ada treatment dari bahannya agar tidak cepat busuk," imbuhnya.

Usaha tak pernah bohong. Hasil inovasi mereka diterima cukup baik. Setidaknya dari kalangan teman-temannya sendiri.    

Masih dari Unair, Lima mahasiswa Fakultas Vokasi juga berhasil menginisiasi produk perawatan kulit atau skincare herbal dari ekstrak bunga telang. Mereka adalah Daniyal Firmansyah, Natazha Claudya, Fathimah Afifah, Nabiilah Husna, dan Nurul Aini Rismawanti.

Daniyal menjelaskan, inovasi dan riset merupakan jawaban dari masifnya penggunaan skincare di kalangan anak-anak muda hari ini. Sayangnya, mereka tidak menyadari bahwa di Indonesia ada sebuah tumbuhan, yaitu bunga telang yang memiliki banyak khasiat untuk kulit.

Salah satu kandungan dalam bunga telang yaitu antosianin, senyawa antioksidan yang memiliki manfaat untuk melembapkan, menghaluskan, serta mencerahkan kulit. Antosianin sendiri dapat digunakan untuk semua jenis kulit sehingga mereka tertarik untuk mengangkat bunga telang sebagai bahan dasar skincare.

Untuk pembuatannya sendiri dimulai dengan metode maserasi, yaitu merendam bunga telang di olive oil selama tujuh hari di toples kaca tertutup dan dikocok setiap hari. Lalu dilakukan pemanasan dengan panci susun yang suhunya harus diperhatikan.

Setelah itu, bahan tersebut dicampur dengan bahan-bahan aktif lain seperti almond oil dan grapeseed oil dan ditambah bahan anti mikroba seperti pengawet dan pada tahap akhir adalah pengukuran kadar pH produk agar sesuai dengan pH kulit wajah.

“Kami akan membuat lima varian produk, yakni toner, facial wash, face oil, face mask, dan lip balm. Serangkaian produk ini dapat mencerahkan dan melembapkan wajah serta banyak dicari karena menggunakan bahan dasar herbal yang aman dan sehat saat digunakan,” terang Diniyal kepada Validnews, Kamis (29/7).

Daniyal menjelaskan, skincare dari ekstrak daun telang ini juga lebih sehat karena bahan-bahannya semua alami. Pun, harga produksinya pun jauh lebih murah dibandingkan dengan produk sejenis yang saat ini berada di pasaran.

Terpenting, menurut Daniyal, penelitian sederhana ini juga diharapkan dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi para petani bunga telang yang berada di Rungkut, Surabaya. Dan, yang jelas produk ini lebih alami.

Membangun Peneliti Muda
Perkembangan informasi dan teknologi yang sangat dinamis belakangan ini, memberikan angin bagi anak-anak muda untuk memiliki ketertarikan pada dunia sains. Minat yang tinggi itu juga terjadi karena rangsangan cara belajar yang sudah terbuka dari dunia maya.

"Mereka punya banyak ide untuk memecahkan masalah. Menurut saya ini ide-ide yang mereka keluarkan sudah dalam trek yang benar,” kata Presiden Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) Riri Fitri Sari, kepada Validnews, Kamis (29/7).

Menurutnya, riset dan penelitian adalah sebuah perjalanan yang sangat panjang. Untuk bisa menemukan sebuah inovasi atau temuan besar, memang harus dilakukan dari sebuah riset awal yang sederhana. Untuk mengembangkannya, harus ada sumber dana.  Idealnya, pemerintah di sisi pendanaan. Jadi, ketekunan, kepandaian, dan ilmu yang sudah ada bisa diimplementasikan lebih lanjut.

Dia mengamini, pengembangan inovasi-inovasi yang berhenti di tengah jalan, dikhawatirkan justru menjadi pematah semangat para peneliti muda.  

"Begitu ada ide langsung dikerjakan dengan tuntas dan jangan sampai putus di tengah jalan, itu harus dilakukan,” ujarnya.

Atas dasar itulah, Riri melihat anak-anak muda saat ini membutuhkan kepekaan dari berbagai pihak. Misalnya, guru dan dosen, juga para pemangku kebijakan, baik daerah maupun pusat, segera melakukan jemput bola untuk mengakomodasi segala hal yang dibutuhkan untuk menunjang riset.

Senada, peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Nadia Fairuza mengatakan, anak-anak muda yang menyukai dunia riset dan penelitian ini harus terus dibina.

Masalahnya, kini ia melihat masih belum adanya kolaborasi yang lebih besar. Untuk memajukan hal tersebut, Nadia berharap adanya jejaring dan kolaborasi agar anak-anak ini bisa meningkatkan hasil penelitian mereka yang sederhana dan digunakan secara massal.

“Saya sih belum melihat dari pemerintah sendiri sudah begitu memperhatikan potensi-potensi yang seperti ini. Jadi kurang ada wadahnya dimana mereka bisa membuat penelitian, terutama apalagi yang di konteks lokal dan kebutuhan di daerah mereka dan itu yang kurang,” ujarnya, Jumat (30/7).

Kurang Diapresiasi
Bahkan, dia menilai peneliti di Indonesia masih kurang diapresiasi. Salah satu kendala besar dan seringkali dikeluhkan para peneliti adalah sokongan pendanaan.

"Pemerintah perlu membenahi iklim penelitian di Indonesia agar banyak masyarakat yang tertarik menjadi peneliti. Bisa juga mengembangkan riset mereka," tegasnya.

Adapun efek buruk jika penelitian anak-anak muda ini mandek, adalah pertumbuhan dari sisi ekonomi, inovasi dan teknologi. Indonesia bisa tertinggal dari negara lain. 

"Peneliti yang muda-muda itu kebanyakan tidak tahu bagaimana dia bisa mewujudkan penelitian mereka karena tidak ada pendanaan,” tukasnya. 

Di sisi lain, besarnya peluang untuk menjadi peneliti di Indonesia perlu diimbangi  dengan pemahaman yang baik bagi calon peneliti. Salah satu permasalahan terkait riset yang dihadapi Indonesia, yakni belum sebandingnya jumlah mahasiswa dan dosen dengan jumlah publikasi yang dihasilkan.

Mengutip laman Kemendikbud Dikti, hingga tahun 2019, dari 4.607 perguruan tinggi serta 177.000 dosen dan peneliti yang terdaftar di Science and Technology Index (Sinta), Indonesia hanya menghasilkan 34.007 jurnal yang terindeks Scopus.

Rendahnya publikasi ilmiah para peneliti Indonesia salah satunya disebabkan minimnya pemahaman dan minat riset, terutama di kalangan mahasiswa.

Ini diamini Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas IPB Dr Berry Juliandi. Meski dia optimistis jumlah peneliti di Indonesia bertambah tiap tahunnya, tapi kebutuhan akan ini justru lebih banyak lagi.

Menurutnya, peneliti Indonesia tidak harus selalu mengadakan riset yang rumit dan sophisticated. Banyak penelitian yang lebih berdampak bagi masyarakat walaupun kadang dinilai kurang keren. Penelitian ini sebaliknya banyak yang justru memberikan kebermanfaatan yang lebih besar

Di sisi lain, dia juga mengamati persoalan pendanaan. Kementerian Keuangan (2019) menyatakan bahwa alokasi dana riset masih di bawah satu persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Negara seperti Jepang dan Korea sudah di atas 3-4,5 % dari PDB.  Alokasi dari swasta juga belum kanalisasinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa salah satu hambatan peneliti Indonesia adalah kurangnya dukungan dana.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA