Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

TEKNO

08 Juni 2021|13:37 WIB

Mahasiswa ITS Manfaatkan Energi Panas Bawah Laut Atasi Krisis Listrik

Inovasi ini bermula dari keprihatinan ketiganya akan rendahnya rasio elektrifikasi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penulis: Chatelia Noer Cholby,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageSumber foto: Dokumentasi ITS

JAKARTA – Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memanfaatkan energi panas bawah laut (hydrothermal vent) untuk mengatasi krisis listrik di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ketiganya antara lain Bayu Saputra (Departemen Teknik Geomatika), serta dua rekannya Ardi Lukman Hakim (Departemen Kimia) dan Christian Vieri Halim (Departemen Teknik Fisika). 

Inovasi ini bermula dari keprihatinan ketiganya akan rendahnya rasio elektrifikasi di NTT. Ketiganya kemudian menggagas pembangkit listrik energi terbarukan tenaga hydrothermal vent bawah laut di Kawasan Busur, Perairan Komba, NTT.

“Di kawasan ini tingkat kerapatan hydrothermal vent tinggi dan dapat menghasilkan energi lebih besar,” kata Bayu Saputra dalam keterangan tertulis yang dikutip, Senin (07/06).

Bayu menjelaskan, hydrothermal vent adalah retakan di permukaan bumi yang bisa memanaskan perairan secara geothermal. Nah, energi panas tersebut digunakan sebagai sumber utama pembangkit listrik.

Bayu bersama kedua rekannya telah merancang cara kerja sistem tersebut agar dapat menghasilkan listrik. Pertama, semburan fluida panas yang berasal dari hydrothermal vent ditangkap oleh kubah raksasa.

“Karena mengandung banyak mineral, maka fluida perlu difiltrasi terlebih dahulu,” terangnya.

Hasil filtrasi dari fluida itu akan masuk ke bagian MSF evaporator, sementara residunya dipompa keluar. Di MSF evaporator ini, fluida panas akan dinetralkan menjadi fluida murni. Fluida tersebut akan membuat kerja turbin lebih efektif.

Selanjutnya, hasil fluida murni itu akan masuk ke mixing chamber yang dialirkan ke boiler. Ketika berada di dalam boiler, fasa fluida akan diubah menjadi uap air. Bayu menjelaskan, uap air bersuhu dan bertekanan tinggi ini bermanfaat untuk memutar turbin yang terhubung ke generator agar menghasilkan listrik.

“Setelah itu, fluida akan dipompa kembali ke mixing chamber dan bercampur dengan fluida murni yang baru diproses guna menggerakan turbin. Untuk transmisi listrik kami menggunakan submarine cable,” paparnya.

Pembangkit listrik bawah laut ini dibuat menggunakan ballast tank agar pembangunan maupun perawatannya lebih mudah pada kedalaman 1.500–2.000 meter. Ballast tank dipilih mempertimbangkan faktor tekanan tinggi, fluktuasi suhu, serta ketahanan guncangan yang ada di kedalaman laut.

“Kubah bergaris adalah solusi dari kendala tersebut karena mampu mengalirkan panas secara merata sehingga tidak terjadi stres di satu titik,” katanya.

Inovasi yang dibuat ketiganya membawa mereka menduduki juara II pada ajang Marine Innovation Festival Indonesia 2021. Potensi hydrothermal vent ini belum pernah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik sebelumnya.

Jadi, tak heran jika mereka berhasil dalam kompetisi yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sistem Perkapalan, Fakultas Teknik Universitas Hasanudin. 

“Semoga karya ini dapat diimplementasikan ke masyarakat, terlebih pembangkit ini sangat realistis untuk dibangun,” harapnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA