Selamat

Sabtu, 23 Oktober 2021

07 Oktober 2021|10:07 WIB

Lima Ribu Pohon Di Kebun Raya Bogor Kini Punya KTP

KTP Pohon terbagi atas tiga warna. Merah untuk tanaman berasal dari daerah panas atau kering, biru untuk jenis tanaman air dan putih untuk jenis tanaman daerah lembab

Oleh: Faisal Rachman

ImageKepala Konservasi PT MRN Junaedi saat menunjukkan KTP Pohon tanaman Meksiko Kebun Raya Bogor, Rabu (6/10/2021). (ANTARA/Linna Susanti)

BOGOR – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional bekerja sama PT Mitra Natura Raya (MNR), melakukan inovasi dalam pemberian identitas 5.000 tumbuhan secara digital yang disebut dengan KTP Pohon. Dengan ada KTP Pohon itu pengunjung bisa mendapatkan informasi mulai dari nama tanaman, jenis, famili, hingga manfaat tanaman.

Kepala Konservasi MNR Junaedi mengatakan, pemberian nama pohon yang terkoneksi langsung dengan website Kebun Raya Bogor secara digital menggunakan QR barcode itu, ditargetkan berkembang hingga mencapai 15.000 pohon.

“Ribuan KTP pohon digagas supaya memudahkan pengunjung mengetahui informasi pohon yang dilihat, itu datanya bukan kami, tapi dari BRIN, kami yang menyediakan inovasinya,” ujarnya seperti dikutip dari Antara, Kamis (7/10).

Junaedi menuturkan, dalam melakukan identifikasi tanaman tersebut, MNR dibantu oleh lima peneliti yang akhirnya menghasilkan KTP Pohon. Dibandingkan dengan sebelumnya yang hanya ditulis menggunakan cat di dalam papan nama, KTP Pohon saat ini berisi informasi yang lebih detail. 

Secara umum, KTP Pohon ini terbagi atas tiga warna. Warna merah untuk tanaman berasal dari daerah panas atau kering, warna biru untuk jenis tanaman air, dan warna putih untuk jenis tanaman daerah lembap.

“Ke depan kita akan kembangkan lagi warnanya sesuai asal dan jenis pohon,” kata Jaenal.

Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan lima fungsi Kebun Raya Bogor yakni konservasi, penelitian, edukasi, wisata, dan jasa lingkungan, tetap berfungsi secara seimbang dan proporsional.
 
"Kelima fungsi itu dipastikan berjalan secara seimbang, proporsional, dan berjalan bersamaan. Jadi tidak benar fungsi wisata akan mengalahkan fungsi konservasi," kata Pelaksana tugas Direktur Kemitraan Riset dan Inovasi BRIN Hendrian beberapa waktu lalu.
 
Pernyataan itu sekaligus menjawab kekhawatiran publik kepada pihak pengelola Kebun Raya Bogor, terkait pengembangan atau inovasi wisata malam GLOW. Wisata dengan lampu sorot di kebun raya tersebut di khawatirkan dapat mengganggu ekosistem, konservasi, dan kepentingan riset.


Fungsi Kebun Raya
Hendrian menuturkan, BRIN menjamin tidak ada satu fungsi kebun raya itu mengalahkan fungsi lainnya. BRIN menurutnya juga terus melakukan optimalisasi infrastruktur yang ada di kebun raya agar kegiatan riset dan konservasi serta fungsi yang lain dapat berjalan lebih optimal.
 
Ia menjelaskan, pengelolaan kebun raya kini dilakukan oleh tiga pihak. Ketiganya adalah Pusat Riset Konservasi Tumbuhan Kebun Raya untuk mengelola riset dan periset. Kemudian Deputi Infrastruktur melalui Direktorat Laboratorium dan Kawasan Sains dan Teknologi untuk mengelola laboratorium riset, dan Deputi Infrastruktur melalui Direktorat Koleksi dan untuk melakukan pemeliharaan koleksi.
 
Senada dengan Hendrian, Pelaksana tugas Deputi bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN Yan Rianto menuturkan hingga saat ini tidak ada bangunan tambahan di area GLOW. Yan mengatakan inovasi GLOW yang ada di Kebun Raya Bogor itu bukan satu-satunya di dunia, melainkan banyak negara yang telah memiliki inovasi serupa, seperti di Desert Botanical Garden (Phoenix, Arizona), dan Singapore Botanic Gardens (Singapura).
 
Inovasi serupa juga sudah diimplementasikan di Fairchild Tropical Botanic Garden (Miami, Amerika Serikat), Atlanta Botanical Garden (Atlanta), dan Botanical Garden Berlin (Jerman).
 
"GLOW sebagai program eduwisata yang inovatif ini terinspirasi dari berbagai kebun raya di luar negeri yang telah membuka wisata malam lebih dulu. Beberapa negara sudah lebih dulu memiliki program wisata malam di kebun rayanya," ujarnya.
 
Terkait dengan pengembangan inovasi yang diberi nama GLOW, Pelaksana tugas Kepala Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya (PRKTKR) BRIN Sukma Surya Kusuma menuturkan pihaknya telah melakukan penelitian secara menyeluruh terkait konservasi tumbuhan. Bukan hanya pada dampak dari pengembangan inovasi GLOW, tetapi juga terkait dampak penerangan jalan raya pada konservasi.
 
Selain itu, PRKTKR terus melakukan konservasi terhadap tumbuhan yang terancam punah. "Jadi bukan karena inovasi GLOW ini saja dilakukan riset, namun riset terhadap dampak akibat perubahan yang terjadi di kebun raya terus dilakukan," ujar Sukma.

Kesadaran Konservasi
Direktur Sales PT Mitra Natura Raya (MNR) Michael Bayu A Sumarijanto mengatakan, inovasi GLOW yang dikembangkan untuk edukasi dan wisata di kebun raya itu bertujuan untuk memberikan kesadaran konservasi pada generasi muda. Diharapkan, setelah mengikuti program tersebut, pengunjung akan mulai atau bertambah kecintaan dan kepedulian pada biodiversitas.
 
"GLOW menyuguhkan konten edukasi tentang biota yang ada di Kebun Raya Bogor dalam bentuk pencahayaan, animasi visual, audio, pengalaman langsung, dan lainnya," tuturnya.
 
Kepada para pengunjung kebun raya yang menikmati suguhan GLOW, lanjut Michael, nantinya akan dilakukan survei secara berkala. Survei itu bertujuan untuk mengukur seberapa besar informasi atau pesan tersirat dari suguhan GLOW yang dapat ditangkap oleh pengunjung.
 
Ia menuturkan survei itu dipandang perlu untuk dilakukan karena dari survei yang selama ini dilakukan di empat kebun raya di indonesia yakni Bogor, Cibodas, Bedugul, dan Purwodadi. Hasilnya 90% pengunjung menyatakan mereka menikmati kebun raya hanya sebagai tempat olahraga dan tempat foto-foto saja. Padahal misi utama dari kebun raya adalah untuk mengedukasi.

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) Hadi Sukadi Alikodra mengatakan perlu duduk bersama untuk menjaga keberlanjutan Kebun Raya Bogor dan menghindari upaya komersialisasi yang merusak kebun raya itu.
 
"Mudah-mudahan setelah ini punya sepakat bahwa kita harus berkumpul lagi untuk meletakkan kinds of good strategy (jenis strategi yang baik) untuk memelihara dan menyelamatkan kebun raya, itu yang harus kita serius," kata Hadi.

Ia menuturkan keberadaan Kebun Raya Bogor sangat penting dan memberi banyak dampak positif bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat terutama masyarakat sekitar.
 
 Kebun Raya Bogor menjadi satu kesatuan dari sistem perkotaan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan lingkungan dan masyarakat. Keberadaan kebun raya juga memberikan dampak positif dari aspek ekonomi bagi masyarakat seperti mendapat pemasukan dari kunjungan wisatawan ke kebun raya, dan penjualan makanan dan suvenir.
 
 "Jangan ada komersialisasi-komersialisasi yang akhirnya kebun raya rusak, akhirnya diprotes, dan sebagainya," ujar Hadi.
 
 Kebun raya mengusung lima tugas dan fungsi penting, yaitu konservasi tumbuhan, penelitian, pendidikan, wisata ilmiah dan jasa lingkungan. Ketiga fungsi pertama merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan menjadi acuan bersama seluruh kebun raya di dunia.
 
Karena pentingnya keberadaan dan peranan kebun raya, Hadi mengajak untuk memperluas, mengembangkan dan memperbanyak kebun-kebun raya di berbagai daerah di Indonesia.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER