Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

PARIWISATA

08 Mei 2021|12:27 WIB

Lenyapnya Jalak Suren Dari Alam Liar

Sebanyak 21 spesies burung berstatus terancam punah akibat perdagangan burung berkicau, 19 diantaranya berasal dari Indonesia.

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageSejumlah burung Jalak Suren berada di kandang peternakan di Bae, Kudus, Jawa Tengah, Senin (15/2). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/

JAKARTA – Jumlah burung Jalak Suren (Gracupica jalla) di alam bebas kini dalam kondisi mengkhawatirkan. Sebuah jurnal yang diterbitkan Persatuan Ornitologi Belanda menyebut, penurunan jumlah Jalak Suren berstatus kritis dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Penulis utama kajian tersebut, Dr. Bas van Balen, mengatakan Jalak Suren masih sering ditemukan di lahan pertanian Jawa lima puluh hingga seratus tahun yang lalu. Ironisnya, saat ini Jalak Suren tidak terlihat di alam liar.

”Diperkirakan lebih dari 1,1 juta burung dipelihara di rumah-rumah di Jawa, hal ini berawal dari kegiatan komersial di seluruh pulau. Sepengetahuan kami, tidak ada kasus lain yang diketahui di mana spesies burung punah di alam liar namun dapat dibeli dengan mudah dan legal di toko-toko di wilayah persebaran aslinya," kata van Balen dalam tulisannya.

Ada dua penyebab kepunahan utama Jalak Suren, antara lain penangkapan untuk perdagangan burung berkicau dan penggunaan pestisida di lahan pertanian. Pestisida mengikis lapisan humus yang merupakan sumber makanan bagi spesies tersebut. 

Jalak Suren adalah burung yang ahli dalam menungkil—sebuah teknik mencari pakan agar dapat memangsa cacing tanah dan invertebrata yang bertubuh lunak lainnya. Jenisnya berbeda dengan Jalak Suren Asia (Gracupica contra) yag lenyap hamper seluruhnya tanpa disadari di wilayah persebaran aslinya di Jawa dan Bali.

Dr. Nigel Collar dari BirdLife International menjelaskan, untuk spesies yang hidup di habitat yang rawan, seperti lahan pertanian dan yang dulunya banyak ditemukan dalam kelompok besar di dalam kawasan kota, situasi saat ini benar-benar luar biasa.

"Ada burung yang punah di alam liar namun dapat dengan mudah dijumpai di pasar burung dan rumah-rumah warga. Tidak ada kasus lain yang seperti ini di dunia,” ujarnya.  

Dengan demikian, kajian ini merupakan peringatan keras terhadap penangkapan burung liar dalam skala besar di seluruh penjuru Indonesia, terutama Jawa dan Sumatera. 

Kelompok Spesialis Perdagangan Burung Berkicau Asia (ASTSG) Komisi Pelestarian Spesies IUCN mengidentifikasi, ada sebanyak 44 spesies burung yang terdampak perdagangan burung berkicau. Dari jumlah tersebut, 21 spesies berstatus terancam punah secara global dan 19 diantaranya berasal dari Indonesia. Sembilan spesies diantaranya kritis termasuk Jalak Suren. 

Upaya Konservasi

Ketua ASTSG David Jeggo, menjelaskan hampir semua spesies tersebut dinaikkan status konservasinya dalam pembaruan IUCN Red List 2016. Hal ini menunjukkan bagaimana spesies burung lenyap dari habitat aslinya akibat perburuan burung liar.

Menariknya, Jalak Suren tidak populer dalam kontes burung berkicau seperti yang diduga sebagai penyebab berkurangnya banyak spesies burung berkicau. Perdagangan spesies digerakkan oleh kepopulerannya sebagai burung sangkar. 

Atas dasar itu, BirdLife dan Burung Indonesia bermaksud menghentikan perdagangan burung ilegal, yang tidak teratur, dan tidak berkelanjutan. Hal ini berarti melarang keras perdagangan yang mengancam populasi burung di alam liar.

Burung Indonesia mendorong para pemelihara burung berkicau beralih ke hasil tangkaran dalam memperoleh burung. Dengan begitu, status burung seperti jalak dan bulbul bisa meningkat. Di penangkaran, kedua jenis tersebut berhasil berkembangbiak dengan mudah.

Namun, untuk spesies yang telah lenyap dari alam liar, konservasi berarti lebih dari sekadar menghentikan perdagangan dan melindungi habitat. Harapan itu besar mengingat Jalak Suren pernah banyak ditemukan di setidaknya 168 area di Jawa dan 13 area di Bali. Sembilan area juga dilaporkan di timur Sumatera.

Dalam sebuah rapat daring darurat yang diadakan untuk mendiskusikan konservasi Jalak Suren pada awal Maret tahun ini, ahli biologi konservasi, yang dikoordinir ASTSG IUCN, secara umum sepakat bahwa populasi tangkaran perlu dikumpulkan untuk pengembangbiakan konservasi dan pelepasan yang aman ke alam liar.

Populasi tersebut harus sebesar mungkin dalam kapasitas keuangan dan kelembagaan yang ada di Jawa, untuk meningkatkan peluang mendapatkan keanekaragaman genetik dalam stok komersial. Sejumlah institusi di Jawa dinilai dapat membantu pelaksanaan program pengembangbiakan konservasi.

Jochen Manner dari Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA) menjelaskan, memperoleh burung dengan genetik yang murni tidaklah mudah karena ada sejumlah mutasi bulu dan bahkan mungkin burung-burung hibrida di dalam penangkaran. 

"Prigen telah menawarkan untuk mengkoordinasi upaya penangkaran dan upaya ini telah berlangsung di sana," ujarnya.

Secara internasional, kebun binatang yang telah mapan dan lembaga-lembaga apikultur telah menyatakan ketertarikan mereka untuk turut menyumbangkan bantuan keuangan dan keahlian. (Dwi Herlambang)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA