Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

22 Juli 2021|15:52 WIB

Kiat Menjaga Kesehatan Mental Dari Serbuan Informasi Tentang Covid-19

Dalam kontes pandemi, kecemasan seseorang justru bisa menjadikannya lebih waspada akan penyebaran virus

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageSeekor kucing melintas di antara pusara korban COVID-19 di TPU Srengseng Sawah Dua, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Antara foto/dok

JAKARTA – Informasi tentang perkembangan kasus covid-19 di Indonesia, menjadi hal yang tidak bisa terbendung. Pemberitaan tersebut terus menjejali berbagai ranah, mulai portal berita, televisi, radio, media sosial, hingga layanan pesan singkat.

Hampir setiap hari, kabar duka datang silih berganti. Baik dari keluarga, kerabat, tetangga, maupun teman kerja. Data worldmeters.info memperlihatkan angka kematian pasien covid-19 di Indonesia sudah menembus angka 77.583 jiwa. 

Angka tersebut tentu bisa dibilang cukup tinggi, dan membuat orang-orang menjadi semakin trauma dan takut terhadap virus Sars-CoV-2, yang sampai hari ini belum bisa tertangani. 

Menurut Psikolog Dewasa Denrich Suryadi, banyaknya berita duka yang berseliweran, dapat mengganggu kesehatan mental masyarakat. Atas dasar itulah, orang yang terlalu banyak mengkonsumsi berita duka akan terjebak dalam rasa yang tidak nyaman dan mengalami kecemasan yang berlebihan. 

Dalam ilmu psikologi, kecemasan tersebut terjadi karena seseorang telah dibanjiri informasi yang terlampau banyak sehingga menimbulkan efek negatif. Apalagi kini, ranah-ranah media sosial juga sudah dipenuhi dengan perbincangan serupa. 

"Kalau isinya negatif semua kan ujung-ujungnya pola pikir kita bisa jadi negatif. Nah itu tidak bisa disangkal dan pasti wajar terjadi," kata Denrich kepada Validnews, Kamis (22/7).  

Denrich menjelaskan, sebenarnya kecemasan adalah kondisi wajar dari setiap individu. Dalam konteks pandemi, kecemasan sendiri bisa membuat masyarakat lebih peduli akan bahayanya. Dengan demikian akan lebih menjaga diri dan keluarganya agar tidak terpapar. 

Akan tetapi, kecemasan yang sudah berlebihan tentu bisa mengarah kepada hal yang buruk. Hal yang biasanya terjadi adalah mengalami pikiran buruk, takut hingga stres berat. Jika tidak segera diatasi, bisa menjadi gangguan psikologis. 

Buruknya, ia bisa mengisolasi diri lebih dalam lagi dan menjadi defensif tentang semua hal yang diketahui terkait dampak buruk covid-19. "Cemas sendiri justru bisa semakin stres," ujarnya. 

Oleh karenanya, untuk meminimalkan adanya rasa cemas diperlukan upaya pencegahan. Satu hal yang bisa dipahami adalah hukum sebab akibat. 

Untuk itu, kurangi mengonsumsi informasi maupun aktivitas yang bersinggungan dengan isu-isu pandemi, apalagi soal angka kematian yang terus melonjak. Dengan begitu, diharapkan rasa cemas bisa dikendalikan.

Untuk menggantinya, masyarakat bisa mencari berita yang lebih ringan, seperti berita travel, kuliner, maupun gaya hidup. 

"Kontrolnya ada di kita sendiri. Jadi kontrol perilaku, kontrol sikap, pasang filternya supaya kita terhindar dari berita-berita itu. Bukan berarti jadi menyangkal, tapi minimal tidak terlalu keracunan dengan berita-berita negatif seperti itu," pungkasnya.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER