Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

VISTA

05 Mei 2021|21:00 WIB

Kembara Sunyi Umbu Landu Paranggi

Dalam hening, dia tanggalkan kebangsawanan seraya menjaga jarak dari keriuhan dunia, lalu utuh menjalani kehidupan puisi.

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageUmbu Landu Paranggi

JAKARTA – Umbu Landu Paranggi adalah penyair sejak dalam pikiran. Tak sekadar menulis, puisi adalah kehidupannya sendiri yang merentang panjang dalam kembara yang hening.

Sejak merantau ke Yogyakarta dan menjadi pelajar Taman Siswa, Umbu sudah menjelma penulis puisi. Tulisan-tulisannya banyak tersebar di berbagai koran, baik lokal maupun nasional. Kepenguasaan inilah yang pada kemudian hari, mengantarkannya menjadi pengasuh rubrik sastra di mingguan Pelopor, Yogyakarta sekitar 1960 hingga 1970-an

Sembari itu, Umbu menumbuhkan lingkungan sastra di Yogyakarta. Bagian depan kantor Pelopor, tepatnya di pangkal Malioboro, dia mendirikan kelompok apresiasi bernama Persada Studi Klub (PSK) pada tahun 1968. Di sini, Umbu membimbing para anak muda menulis, menghayati dan mengapresiasi puisi. 

Saat malam datang, mereka melingkar untuk menggelar berbagai kegiatan apresiasi sastra serta dialog, yang seiring waktu kian berkembang. Sebab peran tersebut, Umbu lantas dijuluki Presiden Maliboro, sekaligus disebut sebagai guru bagi siapa pun yang bergabung.

Banyak sastrawan Yogyakarta di tahun-tahun itu, baik secara langsung maupun tidak, adalah murid-murid Umbu. Sebut saja Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, Korie Layun Rampan, Yudistira Ardhi Nugraha, Agus Dermawan T, hingga Ebiet G. Ade.

Pengembara Sunyi
Di balik keriuhan kehidupan sastrawi Yogyakarta serta gelar presiden yang dilekatkan, Umbu hidup dalam keheningan batinnya sendiri. Keseharianya nyaris selalu diisi dengan berdiam di sudut sunyi, mengamati sekitar, dan bicara seperlunya. Secukupnya.

Meski hampir semua sastrawan Yogyakarta pada masa itu mengaku murid, Umbu tak pernah mengaku sebagai guru. Ia membimbing orang-orang untuk menghayati puisi, tapi tak pernah menuntut mereka menjadi penyair.

Sastrawan Raudal Tanjung Banua adalah satu orang yang pernah berguru pada Umbu. Ia menyimpan banyak ingatan tentang sosok tersebut. Di mata Raudal, Umbu adalah pecinta keheningan yang terus bergulat dalam riak batin sendiri. Meski riuh rendah para sastrawan menyebut-nyebut namanya.

“Umbu itu orang yang menolak pendakuan. Itu pula sebabnya ia juga orang yang menolak publisitas atas dirinya. Ia lebih mendorong anak-anak muda agar maju dan muncul,” ungkap Raudal saat berbincang dengan Validnews, Selasa 20 April lalu.

Umbu digambarkannya sebagai sosok yang misterius. Mengembara dari satu tempat ke tempat lain, tanpa menetap. Kata Raudal, tak pernah ada yang tahu tempat Umbu berumah.

 “Orang-orang biasanya bertemu Umbu di jalan saja. Atau kalaupun ada yang mengantarkannya pulang, paling dia hanya minta diantar ke kantor media tempat ia bekerja sebagai redaktur. Tak ada yang benar-benar tahu di mana rumahnya,” tuturnya.

Karena itu pula, ketika Umbu menghilang dari Yogyakarta, tak ada yang tahu ke mana sang guru pergi. Barulah beberapa tahun kemudian orang-orang mengetahui Umbu pindah ke Bali. Ia menetap di Bali dan sejak 1979 menjadi pengasuh rubrik sastra Bali Post.

Namun, Raudal sendiri punya cerita. Menurutnya, saat pergi dari Yogyakarta, Umbu tidak langsung ke Bali. Ia pulang ke kampung halamannya di Sumba, untuk menjalani pernikahan dengan perempuan pilihan orang tuanya, Rambu Hana Hunggu Ndami.

Umbu sendiri di Sumba adalah keturunan Raja. Maka itu, kepulangannya juga sekaligus untuk menerima gelar yang diturunkan dari ayahnya.

“Tapi dia tidak benar-benar membawa gelar itu. Ia menikah dan memiliki anak, ada tiga orang anak. Setelah itu, Umbu pergi lagi dari Sumba, kini ke Bali,” kata Raudal.

Sepengetahuan Raudal, Rambu Hana adalah sepupu Umbu yang juga menjalani pendidikan di Yogyakarta. Karena itu, Rambu Hana tahu betul jalan hidup Umbu yang selalu ingin berjarak dari Sumba, dan menjadi petualang. 

Sebab itu pula lah, kepergian Umbu ditanggapi sang istri dengan besar hati. Termasuk, memberi pemahaman kepada anak-anaknya, untuk memahami jalan hidup Umbu.

“Hubungan Umbu dengan anak-anaknya sangat baik di kemudian hari. Istrinya memang memahami betul Umbu bagaimana sehingga ia bisa memberi pemahaman kepada anak-anaknya,” jelas Raudal.

Periode di Bali
Awal kehidupan Umbu di Bali ditandai dengan pengantar pertamanya yang dimuat di rubrik “Apresiasi” koran Bali Post pada tahun 1979. Dalam tulisan itu, Umbu mengumumkan spirit baru dari rubrik tersebut, yakni untuk memajukan sastra, dan memberi ruang lebar kepada para sastrawan-seniman muda Bali untuk ‘berlaga’.

Kehadiran Umbu di Bali menjadi angin baru bagi iklim kesastraan di Bali. Namanya sudah kadung besar di kalangan sastrawan Bali karena kisahnya di Yogyakarta. Maka seperti di Yogyakarta, Umbu pun segera menarik simpul aktivitas sastrawan di Bali.

Di Yogyakarta, gelar lain untuk Umbu yaitu ustaz, sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi Umbu mengasuh anak-anak muda di jalan puisi. Di Bali hal serupa juga terjadi. Sejumlah sastrawan Bali, seperti Nyoman Tusthi Eddy, Raka Kusuma, hingga kemudian Wayan Jengki Sunarta dan Warih Wisatsana, adalah seniman-sastrawan yang mendaku berguru kepada Umbu. Mereka menganggapnya sebagai bapak ‘akademi puisi’ Bali. Istilah tersebut lahir dari pola pengasuhan yang dilakukan Umbu di rubriknya. 

Umbu membagi rubrik asuhannya menjadi beberapa kolom, yang dibagi berdasarkan level, yaitu publikasi untuk penyair pemula bernama Pos Remaja, dan kolom dewasa bernama Pos Budaya.

“Umbu itu suka bola. Dia suka menghadirkan istilah-istilah dalam dunia sepak bola ke dalam dunia puisi. Makanya ada istilah pemula, remaja, penjaga gawang, dan macam-macam istilah yang ia gunakan dalam menjelaskan puisi,” jelasnya.

Raudal sendiri adalah angkatan murid Umbu periode Bali. Ia adalah seorang Minang yang sengaja datang ke Bali untuk mencari Umbu, demi berguru pada sosok tersebut. Bersama teman sekampung, Riki Dhamparan Putra, Raudal menghayati puisi bersama Umbu selama beberapa tahun di Bali.

Umbu sering hadir di pertemuan-pertemuan sanggar Minum Kopi, di Kota Denpasar. Di sanggar ini, pengasuhnya secara tidak langsung ialah Umbu dan seorang penyair senior, Frans Najira. Tak jarang Umbu hadir untuk berdiskusi, menyimak puisi penyair-penyair muda, ataupun memberi komentar atau masukan-masukannya.

“Di sanggar itu, kehadiran Umbu selalu dinanti-nanti. Istilahnya, ada aura ataupun semangat yang berbeda ketika berhadap-hadapan dengan Umbu,” jelas Raudal.

Kiprah Umbu di Bali tidak terbatas hanya di Sanggar Minum Kopi. Tapi yang lebih besar adalah kiprahnya lewat rubrik Bali Post. Bersamaan, Umbu juga sering ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus menggelar berbagai kegiatan apresiasi sastra. Giat tersebut membuat banyak anak muda Bali merasa bergairah terhadap puisi.

Di sisi lain, Umbu juga konsisten melakukan ‘sensus’ terhadap penyair-penyair muda. Ia selalu mendata setiap nama baru yang muncul dan mengirim karyanya ke rubriknya. Dengan nama-nama itu, Umbu rutin melakukan komunikasi, memberi catatan atau dorongan.

“Misalnya kalau ada anak muda yang dirasa berbakat, dia akan mencari anak muda itu untuk memberikan buku atau kliping koran, sebagai bentuk dorongan Umbu terhadap anak muda itu,” cerita Raudal.

Meski terkenal di Bali, Umbu tetap menjadi sosok yang khas. Kata Raudal, Umbu tetap suka menyendiri dan cenderung menghindari keriuhan. Tak pernah ada yang tahu di mana sosok itu tinggal, di mana Umbu menyimpan barang-barang pribadinya.

“Bagi Umbu, keriuhan itu adalah sesuatu yang verbal, sama seperti pendakuan, itu verbal baginya. Dan yang verbal itu biasanya berhenti sampai di situ saja, tidak dalam,” tuturnya.

Namun, Raudal pernah berkesempatan tinggal bersama Umbu selama dua tahun. Waktu itu, sekitar tahun 1996 di wilayah bagian utara Kota Denpasar, dia menetap di sebuah rumah milik temannya. Ketika itu, Umbu pun nimbrung tinggal di sana.

Selama tinggal serumah itu, Raudal banyak mendalami jalan pikiran Umbu. Sampai akhirnya ia menyadari betapa dalam Umbu memaknai puisi, lebih dari sekadar syair yang dituliskan di atas kertas. Raudal menyimpulkan bahwa bagi Umbu, puisi adalah kehidupan itu sendiri.

Raudal juga akhirnya melihat kentara kesetiaan Umbu pada puisi, yang dijalani dengan hening, jauh dari ingar-bingar pendakuan atau publisitas. Nyatanya, sejak menjadi redaktur sastra di Yogyakarta, Umbu tak pernah lagi mengirimkan puisi-puisinya ke media massa. Menurut Raudal, itu adalah bagian dari keheningan yang dipilih Umbu.

“Umbu itu menulis puisi terus, setiap hari, ada yang dicoret di atas kertas, ada juga yang diketik. Semua itu ia arsipkan sendiri, tak banyak yang dipublikasikan,” ungkap Raudal.

Umbu Pergi
Bali menjadi pengembaraan sampai akhir hayat bagi Umbu. Lebih 30 tahun, dia berkiprah di Bali, menyemarakkan iklim kesusasteraan, serta membimbing banyak penyair muda Bali hingga sukses di skena kesusastraan nasional.

Pada usia senja, Umbu sudah menjadi bagian dari denyut nadi kebudayaan di Bali. Menurut Raudal, sejak 2015 Umbu merasa telah selesai di Bali dan mempersiapkan dirinya untuk kembali ke Sumba, kembali untuk menyatu dengan tanah kelahirannya.

Namun, belum sempat bertolak dari Bali, langkah Umbu ternyata habis. Selasa, 6 April 2021 dinihari, Umbu menghembuskan napas terakhir di RS Bali Mandara. Umbu dikabarkan meninggal setelah menjalani perawatan covid-19 selama beberapa hari.

Kepergian Umbu meninggalkan duka mendalam bagi para sastrawan-budayawan tanah air. Para sastrawan dari penjuru tanah air beramai-ramai datang ke Bali untuk memberi penghormatan terakhir bagi sang guru. Termasuk di dalamnya Raudal Tanjung Banua yang bertolak dari Yogyakarta untuk mengucap salam terakhir kepada Umbu. (Andesta Herli)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA