Karier Mengilat Legenda Jet Darat | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

10 November 2021|21:00 WIB

Karier Mengilat Legenda Jet Darat

Schumacher berhasil meraih kemenangan pertamanya pada trek basah di sirkuit Spa-Francorchamps, Belgia, yang merupakan lintasan debut pertamanya di Formula 1

Penulis: Gemma Fitri Purbaya,

Editor: Rendi Widodo

Karier Mengilat Legenda Jet DaratPembalap Schumacher menjadi juara dunia Formula 1 dengan total tujuh gelar.

JAKARTA – Desember 1990, Bertrand Gachot tengah dalam perjalanan menemui sponsor tim balap Jordan, 7UP. Namun, di Hyde Park Corner, London, Inggris, Gachot mengalami perseteruan dengan salah seorang sopir taksi. Perseteruan itu berlangsung seru, sampai akhirnya Gachot melemparkan CS gas canister yang ada di mobilnya.

Buntutnya, Gachot dilaporkan ke kepolisian. Ia pun harus menjalani berbagai persidangan sepanjang separuh musim di Formula 1 tahun 1991. Hingga akhirnya, pengadilan memutuskan, Gachot bersalah dan harus mendekam di jeruji besi selama dua tahun. Tim Jordan yang menaungi Gachot pun kalang kabut, bingung mencari pembalap pengganti.

"Semua orang tenang, saya pikir orang-orang tidak menyadari betapa seriusnya ini atau akan jadi seperti apa nantinya. Bahkan pengacara Eddie (pemilik tim Jordan) bilang kalau ini tinggal ditunggu saja dan membayar sejumlah uang. Sebagai tim, kami tidak cukup tau soal itu dan menganggapnya serius," cerita desainer mobil balap Jordan kala itu, Gary Anderson dikutip dari The Race.

Pilihan pertama Eddie Jordan untuk menggantikan Gachot jatuh pada Stefan Johansson, mantan pembalap McLaren dan Ferrari yang saat itu sedang menganggur. Namun, Tim Jordan urung karena Johansson "minta digaji", sedangkan mereka sendiri tidak memiliki dana yang besar.

Saat itulah nama Michael Schumacher terdengar di telinga Jordan. Sebagai juara Formula 3 GP Jerman dan Macau, manajer tim Schumacher di Formula 3 mempromosikannya agar pembalap Jerman itu bisa naik kelas di F1. Apalagi, Schumacher juga di-back-up oleh Manajer Komersial Mercedes, Gerd Kramer.

Awalnya, Jordan tidak langsung menerima tawaran tersebut. Menurutnya, pembalap muda Jerman itu adalah sosok yang biasa-biasa saja, bukan pembalap yang hebat.

"Penampilan Michael di 1990 tidak mengejutkan seperti Ayrton Senna ketika saya melihatnya membalap. Pernah berurusan dengan pembalap bagus dulu, saya langsung menyadari kalau ada sesuatu yang spesial di Senna. Tapi saya tidak merasakan apa-apa dengan Schumacher," tutur Jordan.

Akan tetapi, saat itu, Jordan tidak memiliki alasan lain selain memberikan kesempatan untuk Schumacher membalap di timnya.

Akhirnya pada 25 Agustus 1991, Schumacher pun membalap untuk Jordan di GP Belgia menggantikan Gachot. Hasilnya, di luar dugaan dan membuat Jordan kagum. Pada sesi kualifikasi, Schumacher berhasil menempati posisi ketujuh dan mengungguli rekan timnya Andrea De Cesaris.

Sayangnya, keberuntungan Schumacher berakhir ketika ia mengalami masalah pada koplingnya di lap pertama. Pembalap Jerman itu pun harus "pensiun dini" dari debut balapannya. Meski begitu, ia sukses mengejutkan banyak orang di paddock. Semua terkesima dengan pembalap muda sukses menunjukkan potensinya.

Awal Mula Karier
Schumacher lahir di sebuah kota di barat Jerman, North Rhine-Westphalia pada 3 Januari 1969. Ayahnya, Rolf berasal dari kalangan kelas pekerja. Sejak kecil, ia telah memiliki minat pada balap. Karena keterbatasan biaya, ayahnya memilih memodifikasi gokar, agar Schumacher kecil bisa berkompetisi pada balapan lokal.

Pada usia enam tahun, Schumacher memenangkan balapan pertamanya di ajang gokar lokal. Menyadari balapan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, Rolf yang bekerja sebagai tukang konstruksi mulai mengambil pekerjaan lain yakni menjadi teknisi gokar. Sementara itu, istrinya bekerja di kantin lintasan gokart. Beruntung, ia mendapatkan dukungan biaya dari pengusaha lokal sehingga tidak terlalu membebani keluarga mereka.

Setelah mendapatkan lisensi gokar pada 1983, Schumacher bergabung dengan tim Eurokart agar bisa lebih banyak berkompetisi sambil meningkatkan kemampuannya dalam membalap. Tidak butuh waktu lama, ia berhasil menjadi juara gokar di Jerman dan Eropa pada 1987. Schumacher pun memutuskan untuk berhenti sekolah dan bekerja sebagai mekanik untuk mengejar mimpinya menjadi seorang pembalap.

Dua tahun berselang, Schumacher bertemu dengan Willi Weber dan membalap untuk tim WTS di Formula 3. Weber mendanai Schumacher agar bisa membalap di ajang balap itu. Ia berhasil berada di urutan ketiga klasemen, di belakang Karl Wendlinger dan Heinz-Harald Frentzen, serta memenangkan dua balapan.

Sebelum memulai debutnya di Formula 1, banyak manajer meragukan kemampuan Schumacher karena langsung naik kelas dari Formula 3 adalah sesuatu yang tidak biasa. Mereka juga tidak yakin kalau Schumacher akan sukses pada kemudian hari.

Sebaliknya, Weber percaya pada kemampuan Schumacher. Keduanya bahkan mampu membuat banyak orang terkesan pada debut Schumacher di Formula 1, tepatnya GP Belgia 1991.

Penampilannya membuat Jordan meminang Schumacher untuk membalap di timnya pada musim selanjutnya. Namun Weber dan Schumacher menolak. Mereka beranggapan Jordan akan tampil kurang kompetitif karena menggunakan mesin Yamaha sehingga mereka memilih bersama dengan Benetton yang menggunakan mesin Ford. Benar prediksi mereka, Jordan tampil kurang baik di musim selanjutnya.

Kemenangan Pertama
Bersama dengan Benetton, Schumacher berhasil meraih kemenangan pertamanya pada trek basah di sirkuit Spa-Francorchamps, Belgia yang merupakan lintasan debut pertamanya di Formula 1, setahun sebelumnya. Hasilnya pun tidak mengecewakan dengan berada di posisi ketiga dalam klasemen Juara Dunia Formula 1 1992 yang kala itu didominasi oleh pembalap Williams, Nigel Mansell.

Baru pada tahun 1994, Schumacher meraih gelar juara dunia Formula 1 pertamanya bersama Benetton. Sayangnya, pada tahun yang sama pembalap legendaris Senna meninggal dunia saat sedang membalap di GP San Marino.

Kala itu, posisi Schumacher persis berada di belakang Senna. Schumacher akhirnya memenangkan balapan, bersama dengan pembalap Ferrari Nicola Larini dan Mika Hakkinen.

Namun rupanya kemenangan Schumacher mendulang kontroversi. Usai GP San Marino, beberapa tim seperti Benetton, Ferrari, dan McLaren diinvestigasi karena diduga melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh FIA.

Mereka diduga menggunakan software ilegal yang menguntungkan mereka ketika balapan. Meski ditemukan adanya software itu, tetapi FIA tidak mampu membuktikan penggunaan software ketika balapan.

Musim selanjutnya, Schumacher kembali mempertahankan gelar juaranya bersama dengan Benetton yang menggunakan mesin Renault, seperti Williams. Ia berhasil unggul dari pembalap Williams yang mempunyai mobil yang lebih bagus, bahkan menghadiahkan gelar juara konstruktor pada Benetton. Schumacher memenangkan sembilan dari 17 balapan dan mendapat 11 podium.

Bangkit dan Jatuh
Perjalanan puncak karier Schumacher dimulai ketika dia hijrah ke Ferrari, tim balap asal Italia. Dalam F1 podcast 'Beyond the Grid', mantan pembalap F1 Jochen Mass mengaku menjadi salah satu orang yang membujuk Schumacher untuk pindah ke Ferrari. 

Menurutnya, kepindahan Schumacher ke Ferrari akan sangat membantu kariernya pada masa depan dan membuatnya menjadi seorang legenda balap.

"Saya bilang, 'meskipun kamu menang sekarang, itu karena mobilnya, bukan kamu, mobilnya terlalu bagus. Kamu butuh Ferrari, keluar dari sana, dan buat mereka jadi juara lagi, kamu akan jadi Raja Italia," katanya dikutip dari Essentially Sports.

Tidak butuh waktu lama, Schumacher pun memutuskan bergabung dengan tim kuda jingkrak. Awalnya tidak mudah memang, apalagi Ferrari tidak dalam kondisi bagus beberapa tahun terakhir.

Tetapi Schumacher tidak mau diam begitu saja. Ia kerap membantu tim agar dapat kembali ke performa terbaik mereka dengan mempelajari mesin dan memberikan berbagai masukan.

Pada tahun pertamanya, Schumacher berada di urutan ketiga klasemen juara dunia Formula 1 dan mengantarkan Ferrari menjadi runner up juara konstruktor. Meski begitu, Ferrari membutuhkan lebih banyak keseimbangan, apalagi Schumacher tidak finis di tujuh balapan dari total 16 balapan.

Baru pada tahun 2000, Schumacher berhasil meraih gelar juara dunia pertamanya bersama Ferrari. Ia sukses mengalahkan Hakkinen yang tampil cukup baik dan mendominasi bersama Tim McLaren.

Kemenangan Schumacher menjadi salah satu pencapaian terbesar Ferrari yang puasa juara selama hampir 21 tahun. Tidak hanya itu saja, ia juga mengantarkan Ferrari menjadi tim yang mendominasi pada dekade 2000-an.

Sampai pada 2004, Schumacher berturut-turut menjadi juara dunia Formula 1 yang mengantarkannya menjadi juara Formula 1 terbanyak sepanjang sejarah, dengan total tujuh gelar. Rekor tersebut masih belum dikalahkan hingga saat ini, tetapi berhasil disamai oleh Lewis Hamilton pada 2020.

Musim-musim selanjutnya menjadi kurang kompetitif untuk Ferrari dan Schumacher dengan hadirnya banyak pembalap muda baru. Dua musim selanjutnya, Schumacher dikalahkan oleh pembalap muda asal Spanyol Fernando Alonso bersama dengan Renault.

Ia pun memutuskan untuk mundur dan menjabat menjadi penasehat di Ferrari dengan terlibat dalam program pengembangan Ferrari di Jerez dan fokus uji coba elektronik dan ban untuk Ferrari di musim 2008. Ia juga melakukan berbagai uji coba mobil modifikasi Ferrari, agar tim kuda jingkrak itu bisa kembali berada di puncak klasemen.

Akhir Sang Legenda
Schumacher sempat kembali ke Formula 1 pada musim 2010 bersama dengan pembalap Jerman Nico Rosberg untuk Mercedes. Sayangnya, penampilannya tidak seprima dulu. Tiga musim bersama Mercedes dengan hasil yang tidak begitu bagus, Schumacher pun kembali pensiun. Posisinya di Mercedes digantikan oleh Hamilton.

Pada 2013 saat sedang ski bersama anaknya, Mick, Schumacher terjatuh dan kepalanya terbentur batu sehingga mengalami cedera kepala yang sangat serius. Ia segera dibawa ke rumah sakit Grenoble Prancis untuk mendapatkan perawatan dan menjalani dua operasi.

Usai operasi, Schumacher mengalami koma yang panjang akibat cedera di otak yang menimpanya. Butuh beberapa bulan kemudian, sampai ia akhirnya perlahan sadar.

Schumacher pun meninggalkan Rumah Sakit Grenoble untuk menjalani rehabilitasi di Lausanne University Hospital, Swiss. Kondisinya hingga saat ini masih tidak diketahui secara jelas. Namun mantan manajer Ferrari yang juga sahabat Schumacher Jean Todt mengatakan, kalau Schumacher membuat progres yang cukup baik meskipun sulit untuk berkomunikasi. Ia juga diceritakan sudah bisa menonton balapan Formula 1 di rumah.

Perjalanan kariernya yang luar biasa telah dibuatkan menjadi film dokumenter Netflix berjudul Schumacher yang rilis pada September 2021 lalu. Schumacher adalah sebuah contoh talenta yang tidak setiap saat ada di dunia olahraga. Dominasinya di Formula 1 telah mengantarnya menjadi legenda balap ‘jet darat’.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA