Selamat

Sabtu, 23 Oktober 2021

13 Oktober 2021|15:01 WIB

JICON Dance Festival 2021 Resmi Dihelat Mulai Hari Ini

Helatan menjadi semacam rumah besar dari beragam platform seni pertunjukan tari yang diinisiasi oleh Komite Tari DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), untuk memajukan tari di masa pandemi.

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Rendi Widodo

ImagePoster Jakarta International Contemporary Dance Festival. Dok. DKJ

JAKARTA – Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) resmi menghelat Jakarta International Contemporary (JICON) Dance Festival 2021 mulai hari ini. Pembukaan ditandai dengan opening act yang digelar di Hall Mbloc Space, Jakarta Selatan, berupa sesi diskusi ekosistem tari bersama para pegiat tari.

Dibuka dengan sambutan dari Ketua Pengurus Harian DKJ Danton Sihombing, pembukaan hari ini juga dibuka dengan sesi pembicaraan santai tentang tari dan ekosistemnya yang dibahas oleh Avianti Armand dari simpul seni DKJ, Wendi Putranto dari Mbloc Space, Rama Thaharani dari SEACN dan Yola Yulfianti selaku ketua komite tari DKJ.

Acara pembukaan pada Rabu sore akan ditutup dengan penyerahan hadiah oleh Plt. Kepala Disparekraf DKI Jakarta, Gumilar Ekalaya, untuk pemenang Jakarta Mari Menari, sebuah lomba tari yang diselenggarakan oleh Komite Tari DKJ dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta dalam rangkaian JICON Dance Festival.

Ketua Pengurus Harian DKJ Danton Sihombing mengatakan, JICON adalah ruang bagi pengembangan praktik pertunjukan tari di era kontemporer. 

Helatan ini adalah semacam rumah besar dari beragam platform seni pertunjukan tari yang diinisiasi oleh Komite Tari DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), untuk memajukan tari di masa pandemi.

Ia menjelaskan, selaku mitra pemerintah DKI Jakarta, DKJ melaksanakan perannya dalam memberikan advokasi yang terkait dengan pemajuan kesenian di Jakarta. 

Salah satu bentuk advokasi yang diajukan adalah Simpul Seni, sebuah operating system untuk ekosistem kesenian di Jakarta yang berbasis empat platform; pendanaan, kolaborasi, infrastruktur, dan program. Termasuk juga dalam rangkaian advokasi ini adalah usulan pembentukan dana abadi kesenian untuk Jakarta.

“Selain program advokasi DKJ juga melaksanakan program-program kesenian yang diinisiasi oleh 6 komite DKJ; teater, musik, tari, film, sastra, dan seni rupa. Selama pandemi kegiatan-kegiatan kesenian sebagian besar dilaksanakan secara daring, dan yang menariknya justru memunculkan peluang-peluang eksplorasi dan eksperimentasi yang menggunakan teknologi digital dan pemanfaatan media-media online,” ungkap Danton dalam keterangannya, Rabu (13/10).

Lebih lanjut, direktur festival Soni Marti Lova mengatakan ada berbagai program yang diusung DKJ dalam helatan JICON Dance Festival 2021. 

Ragam program itu dipersembahkan dalam tujuan menghubungkan seniman tari, seniman pertunjukkan, seniman media baru dan juga masyarakat sehingga ekosistem seni khususnya tari tetap mendapatkan tempat di masyarakat.

“Akan ada program Choreo Talk Tukar Tangkap Koreografi Indonesia (TTKI) - Artistik Development Program yang diselenggarakan berlangsung tanggal 14–15 Oktober secara daring. Di sini, 10 orang seniman dari berbagai latar belakang berinteraksi dan bertukar ide tentang seni,” ungkap Soni.

Selain itu, ada Digital Dance Lab, program eksperimental antara koreografer dan seniman media baru. Sebanyak 6 orang pelaku seni dilibatkan untuk program ini untuk bekerja secara kelompok demi menghasilkan 3 karya yang merespons tantangan seni tari di masa pandemi.

Keenam seniman tersebut yaitu Rimbawan Gerilya yang berkolaborasi dengan Bathara Saverigadi Dewandoro dengan karya “SERANGKAITIGA”, Ara Ajisiwi dan Harry Setiawan dengan karya “IF”, serta Kelvin Djunaidi dan Rheza Oktavia, dengan karya “Body Construction”. Keseluruhan karya ini akan ditayangkan melalui website dan YouTube Jicon.id mulai tanggal 16 Oktober.

Ada juga sajian karya kolaborasi internasional antara Indonesia-Jepang, yaitu antara seniman Nurhasanah dan Shin Shakuma. Kolaborasi ini melibatkan komunitas berkebutuhan khusus dari Politeknik Negeri Jakarta dan masyarakat berkebutuhan khusus dari Tanpopo-No-Ye yang berada di Osaka, Jepang.

Lalu “Faith”, yang menjadi judul dari karya kolaborasi antara koreografer Irfan Setiawan dari Indonesia dan De Idio dari Maputo, dan karya ini ditafsirkan oleh komunitas tari di Jakarta yaitu Dew Cultura yang berada dibawah naungan Ongen Petuary. Dua karya kolaborasi di atas akan ditayangkan pada 23–24 Oktober.

“Selain berbicara mengenai Karya, JICON Dance Fest juga berbicara mengenai arsip tentang seni tari dan juga seniman yang terlibat di dalamnya. Untuk pengarsipan ini komite tari DKJ meluncurkan website yang bertajuk telisik tari yang di dalamnya ada pembacaan tentang arsip dan juga podcast tentang arsip tari yang dipandu oleh Saras Dewi dan Akbar Yumni,” terang Soni.

Rangkaian JICON Dance Fest nantinya akan ditutup dengan screening festival film internasional - IMAJITARI pada tanggal 28–30 Oktober yang dilakukan secara offline dan online. Untuk akses online, masyarakat bisa menyaksikannya melalui platform bioskop online Kineforum, atau bisa disaksikan langsung di Creative Hall Mbloc Space.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA