Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

GAYA HIDUP

11 Mei 2021|19:31 WIB

Ingat! Agar Imun Tak Terganggu, Batasi Garam Saat Lebaran, 

Dalam tiga jam setelah terpapar konsentrasi garam tinggi, sel kekebalan menghasilkan lebih sedikit energi, atau adenosin trifosfat (ATP)

Oleh: Faisal Rachman

ImageIlustrasi garam meja. ist

 

JAKARTA – Lebaran tiba! Beragam hidangan khas Idulfitri pun menyapa sebagian besar masyarakat. Ketupat, opor ayam, rendang, dodol dan makanan lainnya memang sulit ditolak saat merayakan Lebaran. 

Tapi ingat, tetap perhatikan asupan garam Anda termasuk saat Lebaran. Pasalnya, bila terlalu banyak dikonsumsi, bisa mengurangi jumlah energi yang dapat dihasilkan sel sistem kekebalan juga mencegahnya bekerja secara normal. Begitu setidaknya menurut sebuah penelitian dalam jurnal Circulation.

Laporan yang dipublikasikan Live Science sebelumnya menunjukkan, kelebihan natrium berhubungan dengan banyak masalah di tubuh. Termasuk tekanan darah tinggi, risiko stroke yang lebih tinggi, gagal jantung, osteoporosis, kanker perut, dan penyakit ginjal.

"Tentu hal pertama yang Anda pikirkan adalah risiko kardiovaskular. Tetapi banyak penelitian telah menunjukkan garam dapat mempengaruhi sel kekebalan dengan berbagai cara. Bila garam mengganggu fungsi kekebalan untuk jangka waktu yang lama, hal itu berpotensi mendorong penyakit inflamasi atau autoimun dalam tubuh," kata profesor di Hasselt University di Belgia, Markus Kleinewietfeld seperti dikutip dari Live Science, Selasa (11/5). 

Beberapa tahun yang lalu, sekelompok peneliti di Jerman menemukan, konsentrasi garam yang tinggi dalam darah dapat secara langsung memengaruhi fungsi sekelompok sel sistem kekebalan bernama monosit. Padahal monosit ini berfungsi mengidentifikasi dan melahap patogen dan sel yang terinfeksi atau mati di dalam tubuh.

Dalam studi baru, Kleinewietfeld dan rekan-rekannya melakukan serangkaian eksperimen untuk mencari tahu caranya. Mereka menemukan, dalam tiga jam setelah terpapar konsentrasi garam tinggi, sel kekebalan menghasilkan lebih sedikit energi, atau adenosin trifosfat (ATP).

Secara khusus, para peneliti melihat konsentrasi garam yang tinggi menghambat sekelompok enzim yang menyebabkan mitokondria menghasilkan lebih sedikit ATP. Dengan lebih sedikit ATP (lebih sedikit energi), monosit matang menjadi fagosit yang tampak abnormal.

Menurut peneliti, fagosit yang tidak biasa ini lebih efektif dalam melawan infeksi. Namun, hal itu belum tentu baik, karena peningkatan respons kekebalan dapat menyebabkan lebih banyak peradangan dalam tubuh, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Para peneliti kemudian melakukan beberapa percobaan pada manusia, yakni melibatkan para partisipan pria sehat yang mengonsumsi tablet suplemen garam setiap hari sebanyak 6.000 miligram (hampir tiga kali lipat jumlah yang disarankan) selama dua minggu. Dalam eksperimen lain, sekelompok peserta, makan pizza utuh dari restoran Italia.

Hasilnya, setelah makan pizza, yang mengandung 10000 mg garam, mitokondria partisipan menghasilkan lebih sedikit energi. Tetapi efek ini tidak bertahan lama. Sekitar delapan jam setelah partisipan makan pizza, tes darah menunjukkan mitokondria mereka berfungsi normal kembali.

Namun, tidak jelas apakah mitokondria terpengaruh dalam jangka panjang apabila seseorang secara konsisten makan makanan tinggi garam. Para peneliti berharap untuk memahami apakah garam dapat berdampak pada sel lain, karena mitokondria ada di hampir setiap sel di tubuh. 

Sejatinya, kaitan antara mengkonsumsi garam berlebih dengan turunnya sistem imun tubuh juga pernah diungkap oleh para peneliti dari University of Bonn, Jerman yang diterbitkan dalam jurnal universitas pada Maret 2020.

Para ilmuwan menemukan bahwa efek konsumsi garam berlebihan dapat menekan kinerja hormon yang memengaruhi sistem imun tubuh. Konsumsi garam berlebihan juga disebut dapat memicu penumpukan zat sisa buangan tubuh (urea) di ginjal.

Kondisi tersebut dapat menekan kemampuan sel darah putih untuk memerangi infeksi bakteri.

Kurangi Asupan Garam
Pakar kesehatan sekaligus Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Profesor Hardinsyah mengatakan, ada beberapa cara untuk mengendalikan asupan garam yang sesuai dengan kebiasaan atau pola konsumsi masyarakat Indonesia.

Tak bisa dimungkiri, kebiasaan masyarakat Indonesia dalam membuat masakan memang banyak menggunakan bumbu dan rempah yang memiliki cita rasa tinggi. Ndilalah, dalam berbagai bumbu dan rempah itu juga sudah cukup banyak terkandung natrium. 

“Nah cara yang sesuai jika masakan kita sudah banyak menggunakan berbagai bumbu rempah adalah dengan hanya menambahkan garam dapur dalam jumlah yang sedikit sekali," kata Prof Hardinsyah beberapa waktu lalu. 

Untuk diet rendah garam, Profesor Hardinsyah menyarankan agar mengganti garam dengan bumbu umami seperti MSG sebagai solusi.

"Banyak penelitian di luar negeri seperti di Jepang, menunjukkan bahwa penggunaan MSG bisa menjadi strategi diet rendah garam. Sebab, kandungan natrium dalam MSG hanya sepertiga dari kandungan natrium pada garam dapur biasa," tuturnya. 

Profesor Hardinsyah menegaskan, MGS aman dikonsumsi karena Asam glutamat dalam MSG sama dengan asam glutamat yang ditemukan secara alami.

Bahkan menurut JECFA (Joint Expert Committe on Food Additive) WHO/FAO, nilai ADI (Acceptable Daily Intake) untuk MSG tidak dinyatakan (not specified). Sementara, berdasarkan Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Pangan, penggunaan MSG di Indonesia diijinkan dengan batas maksimum penggunaan “secukupnya”.

“Secara alami, sensor rasa di lidah akan membatasi jumlah MSG dengan sendirinya, “ cetusnya. (Faisal Rachman) 


 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA