Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

GAYA HIDUP

03 Juni 2021|21:00 WIB

Iktikad Mengetuk Pintu Makkah Lebih Awal

Haji muda menjadi siasat mengantisipasi panjangnya antrean keberangkatan jemaah haji

Penulis: Gemma Fitri Purbaya, Arief Tirtana,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi ibadah haji. Shutterstock/dok

JAKARTA – Sabar. Mungkin, itulah kata yang tepat disandangkan bagi calon jemaah haji Indonesia. Alasannya jelas, karena mereka harus rela menunggu bertahun-tahun untuk bisa menjalankan ibadah di tanah suci.

Untuk saat ini saja, antrean haji sudah mencapai puluhan tahun. Ditambah lagi dengan adanya pandemi covid-19, dapat dipastikan akan menambah panjang waktu keberangkatan.

Maka wajar saja jika banyak yang bersiasat. Salah satunya dengan mendaftarkan haji sejak usia dini. Tentu hal ini dilakukan oleh para orang tua.

Harapannya, ketika anak-anak mereka mencapai usia dewasa, bisa dipastikan untuk berangkat menunaikan perintah agama. Tak lagi harus menunggu waktu lebih lama.

Hal ini yang dilakukan Indah Sulistiyowati, warga Sidoarjo, Jawa Timur. Belum lama ini, dia mendaftarkan ketiga anaknya menjadi calon jemaah haji, dengan masa tunggu 30 tahun. Angka tersebut memang sesuai dengan antrean haji di wilayahnya.

"Kalau menunggu mereka bayar sendiri saat dewasa, enggak kebayang deh mereka naik haji umur berapa. Bisa-bisa kakek-nenek baru naik haji," tutur wanita yang berprofesi sebagai dosen itu kepada Validnews (30/5).

Dengan alasan yang sama, Fitri Novita Sari juga mendaftarkan anaknya untuk mendapatkan antrean haji sejak kecil. Hal itu dilakukan setelah melihat unggahan Indah di salah satu media sosial.

"Keinginan untuk mendaftarkan sudah ada waktu anak saya kelas 6 SD, tahun 2018, tapi baru bisa untuk mendaftarkan tahun ini," terang Fitri.

Batas Usia
Mungkin bukan hanya Indah dan Fitri. Di luaran sana, banyak orang tua yang juga melakukan hal serupa. Lantaran khawatir akan lamanya masa tunggu keberangkatan haji. Hal itulah yang kemudian melatarbelakangi Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk menginisiasi program Gerakan Haji Muda pada tahun 2018, dan digencarkan setahun berikutnya.

"Gerakan Haji Muda, adalah program strategis Badan Pengelola Keuangan Haji RI (BPKH RI) yang digencarkan secara sistematis terstruktur masif sejak 2019 lalu, dengan menggalang seluruh organisasi dan kelompok pegiat haji di Indonesia termasuk PB FKAPHI," jelas Ketua Umum PB FKAPHI, Affan Rangkuti.

Dia meyakini, gerakan ini bisa membuat semakin banyak calon jemaah yang berangkat pada usia produktif. Atau, masih dalam keadaan fisik lebih baik, sebab sudah mendaftar sejak sedini mungkin.

Senada, pengamat haji yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI), Faried Aljawi, menyambut positif kesadaran orang tua untuk mendaftarkan haji anaknya sedini mungkin.

"Karena berdasarkan data, usia haji ini usia yang rentan penyakit. Berdasarkan data, 67% orang yang risiko tinggi dan usianya diatas 60 tahun," tutur Faried.

Maka tak bisa ditampik, kondisi tersebut juga menjadi problem tersendiri buat pemerintah. Dengan demikian, diharapkan Program Haji Usia Muda bisa menjadi solusi atas permasalahan yang selama ini dihadapi pemerintah, sebagai penyelenggara ibadah haji.

Di sisi lain, pihak Kementerian Agama, lewat Direktur Bina Haji Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Khoirizi, lebih menekankan mengenai penggunaan diksi haji usia muda itu sendiri. Jangan sampai ada salah persepsi bahwa anak usia 12 tahun sudah bisa berangkat haji.

Hal yang harus diperjelas, kata dia, adalah batasan usia tersebut adalah aturan untuk mendaftar antrian haji. Sebab menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019, tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, usia minimal orang yang boleh berhaji saat ini adalah 18 tahun.

"Program gerakan haji muda itu bukan punya Kementerian Agama tapi programnya BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji). Kami tidak tahu diksi yang haji muda seperti apa, mereka yang tahu. Menurut saya, ini bukan haji muda tapi mendaftar usia muda," ungkapnya.

Bahkan, soal batasan usia pendaftaran pun sampai dengan saat ini juga belum ada kesepakatan. Apalagi setelah BPKH baru-baru ini melakukan transformasi program Haji Usia Muda kedalam tiga segmen. Yakni Haji Usia Dini, Haji Usia Muda dan Haji Eksklusif.

"Kita transformasi Haji Muda yang sebelumnya di-launching pada 2018. Haji muda 2021, yaitu haji usia dini mulai enam tahun, haji muda mulai SMA, kemudian haji eksekutif," jelas anggota Badan Pelaksana BPKH, Iskandar Zulkarnain.

Haji Pada Usia Sehat
Dengan berlandaskan hasil Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia (Munas MUI) Desember 2020 dan hasil rapat dengan panitia kerja Komisi VIII DPR, transformasi itu merekomendasikan pendaftaran haji yang tadinya minimal di usia 12 tahun, diubah menjadi usia minimal 6 tahun.

Soal batasan usia minimal pendaftaran, Khoirizi menekankan bahwa hal itu belum disepakati oleh pihak Kementerian Agama. Di mana masih memegang aturan batas minimal di usia 12 tahun baru boleh mendaftar Haji.

Di luar belum adanya kesepakatan soal batas usia minimal anak boleh didaftarkan haji, program Haji Usia Muda dinilai positif. Salah satunya bisa menjadi solusi bagi keluarga yang memiliki rencana untuk berhaji bersama pada beberapa tahun mendatang. Risiko kesehatan jamaah lansia juga bisa dikurangi.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), KH Didin Hafidhuddin menilai, pertimbangan usia terkait kesehatan itu menjadi sangat penting. Sebab seseorang memang memerlukan fisik yang prima, untuk bisa menjalankan ibadah haji sekarang ini.

"Diharapkan dengan usia 30 tahun, 40 tahun sudah pada bisa berangkat (Haji)," Didin menerangkan.

Hukum Pendaftaran
Melihat munculnya pertanyaan dari masyarakat tentang hukum pendaftaran haji pada usia dini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhir tahun lalu dalam Musyawarah Nasional X, mengeluarkan Fatwa tentang Pendaftaran Haji Usia Dini

Dengan Nomor 002/Munas X/MUI/XI/2020, dua ketentuan hukum pun diatur. Pertama, pendaftaran haji pada usia dini untuk mendapatkan porsi haji hukumnya boleh (mubah), dengan beberapa syarat.

Seperti uang yang digunakan untuk mendaftar haji diperoleh dengan cara yang halal, tidak mengganggu biaya-biaya lain yang wajib dipenuhi, tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan, dan tidak menghambat pelaksanaan haji bagi mukallaf yang sudah memiliki kewajiban 'ala al-faur dan sudah mendaftar.

Sementara yang kedua, hukum pendaftaran haji pada usia dini bisa menjadi haram jika tidak memenuhi syarat-syarat yang disebutkan sebelumnya.

Didin pun menjelaskan, keluarnya fatwa itu berkaitan dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat ini. Termasuk perihal lamanya antrean Haji di Indonesia dan agar anak bisa berhaji sebelum tua.

Tak masalah jika anak-anak yang belum Mukallaf (dewasa) didaftarkan karena inisiatif orang tuannya, agar si anak bisa berhaji dalam usia yang masih relatif muda. Karena pada dasarnya, kesadaran untuk beribadah bisa datang dari mana saja. Bisa datang dari orang lain tidak melulu dari kesadaran diri sendiri.

"Inikan soal teknis pada mulanya, kemudian berkembang menjadi hukum. Sekarang kalau dilakukan secara biasa-biasa, mungkin agak susah haji sekarang ini. Bayangkan kalau usianya 60 tahun (baru mendaftar), 20 tahun menunggunya, 80 thn itu (baru berangkat)," Didin menerangkan.

Oleh karena itu menegaskan bahwa fatwa tersebut bukan menggugurkan kewajiban tidaknya soal anak. Akan tetapi, memberikan kesempatan karena faktor teknis tadi karena ada hal-hal di luar dugaan.

Pengertian Mampu Berhaji
Didin juga menilai, pendaftaran haji anak yang dilakukan oleh orang tua bisa dikaitkan dengan pengertian 'Berhaji bagi yang mampu', yang tertuang dalam rukun Islam. Penjelasan tentang pengertian 'Bagi yang mampu', dalam syarat wajib haji menurutnya ada beberapa hal.

Pertama, mampu secara fisik, secara jasmani dan rohani. Kedua, mampu secara finansial. Dan ketiga, faktor yang berkaitan dengan keamanan. Baik keamanan di perjalanan, juga keamanan ketika menjalankan ibadah di Arab Saudi.

Selain ketiga hal itu, ditambah dengan syarat sebagai mukallaf (orang yang sudah dewasa,) membuat tidak ada alasan apapun lagi bagi seorang muslim untuk tidak menunaikan Ibadah haji.

"Penyempurna rukun Islam itu kan haji, jadi jangan dianggap enteng. Jika misalnya orang punya uang, dia tidak mau haji, itu juga bisa-bisa kalau sengaja, bisa bahaya kepada keimanannya," jelasnya.

Apa yang dipertimbangkan dalam Fatwa itu, juga menyoal prioritas. Boleh saja orang tua mendaftarkan anaknya berhaji, namun harus dilakukan dengan tidak mengenyampingkan kewajiban lainnya terhadap anak.

"Jangan uangnya tidak banyak, tapi buat haji, Jangan. Buat pesantren, buat sekolah (dulu), baru kalau ada sisanya baru untuk itu (daftar Haji Anak)," tegas Didin.


Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER