Selamat

Rabu, 22 September 2021

30 April 2021|20:54 WIB

Hampers Jadi Penyambung Tali Silaturahmi

Meski raga tak jumpa saat lebaran, hampers bisa menunjukkan rasa perhatian dan kasih sayang

Penulis: Satrio Wicaksono,

Editor: Satrio Wicaksono

ImagePaket hampers dari Box Bahagia. Sumber foto: Antara/Instagram @boxbahagia

JAKARTA - Lebaran tinggal menghitung hari. Namun karena masih dalam situasi pandemi, silaturahmi pun terpaksa dibatasi. Untuk tetap terhubung dengan orang-orang terdekat, mengirim hantaran, parcel atau hampers, kini menjadi pilihan yang menarik.

Sekarang, hampers tidak lagi seperti dulu, yang berisi makanan kering, gelas keramik dan sarung. Kini beraneka ragam, mulai dari tanaman, perhiasan, lilin aroma terapi, makanan siap santap hingga berbagai jenis hobi lain.

Pengemasannya pun menarik, rata-rata serba guna atau didapat difungsikan kembali. Bisnis hampers pun menjadi bisnis yang menjanjikan, khususnya saat hari raya di masa pandemi.

Peluang itu dilirik Dina Fitri Anisa, dengan mendirikan Atnic Project atau usaha pengemasan hampers di awal Ramadan tahun ini. Sejak tahun lalu ia telah memperhatikan bahwa peluang pasar hampers sangatlah besar.

"Alasan lainnya karena pas nanti Idul Fitri kan kita enggak ketemu saudara atau sahabat, jadi hampers tuh kayak tali penyambung silaturahmi," kata Dina, dilansir Antara, Jumat (30/4).

Memang bisnis yang dilakoninya belum terlalu besar. Malah, tujuan awal membuka usaha pengemasan hamper karena ingin membantu usaha temannya, yang menjual makan secara daring namun kemasannya kurang menarik.

"Usaha ini aku mikirnya bisa bantu teman-teman yang jualan makanan biar laku di pasaran luas. Jadi selain mereka jualan makanan online, aku juga bantu penjualan makanan mereka lewat hampers," tuturnya.

Paket hampers yang dijual bervariasi, mulai dari Rp79 ribu hingga Rp209 ribu. Isi pun beraneka ragam, seperti kue kering, frozen food, rendang daging, cumi lada hitam, ayam lado hitam, mie ayam frozen, cookie dough, bakpao dan lainnya.

"Sekarang lagi fokus ke makanan, kemarin ada juga yang request barang gitu tapi kita belum ready," ceritanya.

Tak jauh berbeda dengan Atnic Project, Box Bahagia milik Dimursi Maryati juga hadir di tengah pandemi pada Mei tahun lalu. Namun, awalnya memang toko ini menjual produk-produk souvenir dan merchandise.

Lantaran penjualan turun drastis, Dimursi melihat peluang baru, apalagi saat adanya larangan mudik dan saling berkunjung di hari Lebaran. Ia langsung berpikir untuk membuat hampers.

"Project pertama tembus hingga 400 paket padahal persiapannya kurang dari seminggu. Ini omset yang cukup fantastis bagi kami yang baru memulai bisnis hampers kala itu, dari sana kami melihat bahwa bisnis ini cukup punya peluang di masa depan," kata Dimursi.

Berbeda dengan penyedia hampers lain, Box Bahagia hanya menawarkan kebutuhan untuk masyarakat muslim saja seperti sajadah, buku dzikir yang dipadukan dengan kue kering, tumbler atau peralatan makan lainnya.

"Mungkin ini value yang berbeda yang kami tawarkan kepada masyarakat. Dengan adanya Box Bahagia, kita bisa mengganti sarana silahturahmi yang dianjurkan dalam Islam, karena pandemi tetap bisa dilakukan dengan berkirim hadiah. Jadi walau raga tak berjumpa tapi tetap saling menunjukkan kasih sayangnya," kata Dimursi.

Tahun lalu omset Box Bahagia mencapai Rp130 juta, padahal saat itu tokonya terbilang masih sangat baru. Harga yang ditawarkan pada paket hampers Box Bahagia cukup bervariasi, mulai dari Rp95 ribu sampai Rp1,250 juta.

Strategi dagang
Karena bisnis hampers sedang naik daun, tentu Atnic Project dan Box Bahagia memiliki banyak pesaing di bidang yang sama.

Dina mengatakan, saat ini Atnic Project berusaha untuk konsisten berpromosi melalui media sosial, menyebarkan lewat grup WhatsApp hingga promosi dari mulut ke mulut.

"Biasanya mereka yang di grup suka ikut bantu promosiin. Kemarin sempat ada yang mesen jauh-jauh juga kayak dari Bogor sampai Kalimantan," kata Dina.

Sementara itu, Box Bahagia memiliki strategi untuk mengeluarkan tema dan desain yang berbeda di tiap musim. Berbeda dari kebanyakan produk hampers yang terlihat elegant, Box Bahagia seperti namanya tampil dengan desain yang ceria dan dengan warna warna yang cerah.

"Selain itu kami fokus pada produk-produk yang memiliki nilai pakai tinggi dan bisa digunakan ulang. Begitu pula dengan packaging-nya. Oleh karena itu penggunaan tas bambu, tas kanvas, bahkan kotak kayu menjadi pilihan karena bisa digunakan ulang," ujar Dimursi. (Satrio Wicaksono)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER