Selamat

Senin, 17 Mei 2021

SENI & BUDAYA

04 Mei 2021|15:53 WIB

Hajar Aswad Terlihat Sangat Jelas Dalam Foto Beresolusi Tinggi

Foto-foto dengan kejernihan berbeda digabungkan untuk menghasilkan satu foto dengan tingkat akurasi dan kualitas tinggi. Butuh tujuh jam untuk mengambil foto hingga 49.000 megapiksel

Penulis: Faisal Rachman,

Editor: Faisal Rachman

ImageFoto zoom Hajar Aswad (Antaranews/Reasahalharmain)

JAKARTA – Hajar Aswad, buat para jamaah umrah maupun haji, kerap menjadi perbincangan hangat. Kesempatan untuk menciumnya menjadi kebahagiaan tersendiri. 

Nah, saat ini ada kabar terbaru soal Hajar Aswad. Presidensi Umum Urusan Dua Masjid Suci Arab Saudi baru-baru ini mendokumentasikan foto Hajar Aswad di Ka'bah dalam Masjidil Haram menggunakan teknik fokus panorama bertumpuk.

Dalam teknik itu, foto-foto dengan kejernihan berbeda digabungkan untuk menghasilkan satu foto dengan tingkat akurasi dan kualitas tinggi. Butuh tujuh jam untuk mengambil foto hingga 49.000 megapiksel.

Dikutip dari Antara, Selasa (4/5), saat ini adalah kali pertama dunia bisa melihat lebih dekat Hajar Aswad. Gambar yang diambil sangat jelas sehingga setiap orang bisa melihat setiap bagian batu yang tidak terlihat sebelumnya.

Sekadar mengingatkan, Hajar Aswad terletak di sudut tenggara Kakbah dan terlihat seperti satu batu yang terlindung dalam bingkai perak. Padahal sebetulnya Hajar Aswad kini terdiri dari 15 batu dengan delapan batu kecil yang bisa dilihat dan digabung dengan frankincense (kemenyan) Arab. Batu ini memang dalam sejarahnya pernah pecah berkeping-keping. 

Batu terkecil ukurannya tak lebih dari 1 cm, yang terbesar tidak melebihi ukuran 2 cm. Bingkai yang dibuat dari perak berfungsi sebagai pelindung dari batu suci itu. Berdasarkan sejarah, Hajar Aswad yang berasal dari surga ditempatkan di Kakbah oleh Nabi Ibrahim setelah diberikan oleh malaikat Jibril.

Berdasarkan riwayat, Hajar Aswad dahulunya adalah sebongkah batu besar berwarna putih. Ibnu Abbas RA mengatakan; Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad adalah batu dari surga. Batu tersebut lebih putih dari salju. Dosa orang-orang musyriklah yang membuatnya menjadi hitam,” (HR Ahmad).

Jangan Memaksakan
Buat sebagian besar jamaah Indonesia, Hajar Aswad masihlah ibarat bintang dalam rangkaian ibadah haji. Meski menciumnya adalah sunah, namun kebanggaan tersendiri bisa dibawa jamaah pulang tatkala berhasil menyimpan kisah menyentuh bahkan mencium batu hitam tersebut.

Jamak di kalangan masyarakat Tanah Air, saat pulang berhaji justru yang ditanyakan adalah sudahkah mencium Hajar Aswad dan bukan kebanggaan pada rukun dan wajib hajinya. Bahkan, tak jarang kesuksesan mencium batu yang terletak di salah satu sudut Kakbah itu kadang menjadi melampaui sesuatu yang tak seharusnya.

Kepala Daerah Kerja Makkah PPIH 2019 Subhan Cholid semakin prihatin tatkala memperoleh laporan beberapa anggota jamaah haji yang terluka ketika berusaha mencium batu berwarna hitam itu.

Dia mengimbau jamaah untuk tidak memaksakan diri mencium Hajar Aswad. “Saat melaksanakan ibadah, perhatikan juga keamanan diri. Ukur kemampuan fisik, jangan sampai karena ingin mengejar sunahnya, malah menjadi mudharat,” kata Subhan Cholid.

Konsultan ibadah Daerah Kerja (Daker) Mekkah KH Ahmad Wazir menyebutkan bahwa mencium Hajar Aswad bisa menjadi haram hukumnya jika tidak mempertimbangkan aspek-aspek mudharat, kesehatan, dan keamanannya.

Ahmad Wazir yang juga pengelola Pondok Pesantren Denanyar Jombang Jawa Timur itu mengisahkan pada zaman Nabi, boleh jadi populasi penduduk masih sedikit sehingga tidak ada kesulitan untuk mencium batu Hajar Aswad.

Namun, dalam konteks sekarang, hal itu menjadi sulit karena semua orang berlomba ingin mendekat dan mencium Hajar Aswad. Menurut dia, tentu di satu sisi mengejar sunah ada sisi baiknya, tapi di sisi lain harus mempertimbangkan aspek-aspek mudharat, mempertimbangkan aspek kesehatan, dan keamanan.

Ia menekankan dalam Islam juga menjaga kesehatan, keamanan, sangat dikedepankan sehingga intinya, kalau sampai mengejar sunnah, mencium Hajar Aswad dengan cara-cara tidak terpuji menjadi haram hukumnya.

Namun, ia kembali menekankan, ada solusi, kalau yang dikejar afdholiah atau keutamaan, toh masih ada tempat-tempat yang bisa dikunjungi dan dilakukan ibadah di dalamnya yang juga masih utama.

“Dalam kondisi tidak memungkinkan sampai ke hajar aswad karena ramai dan padat (crowded), dan lain sebagainya cukup melambaikan tangan dan dicium, itu juga tidak mengurangi pahalanya,” katanya.

Hukum Bagi Perempuan
Di sisi lain, jamaah perempuan yang memaksakan diri berdesakan dengan laki-laki untuk mencium Hajar Aswad, disebut oleh Konsultan Ibadah Daerah Kerja Mekkah KH DR Ahmad Kartono sebagai tindakan yang justru haram dilakukan.

Oleh karena itu, ia menyarankan kepada jamaah perempuan untuk melihat situasi dan kondisi jika ingin menjalankan sunah mencium batu tersebut.

Menurut dia, lebih utama mengerjakan sesuatu yang menjadi wajib dan rukun dalam berhaji ketimbang mengejar yang sunah, namun mendapatkan lebih banyak mudharatnya.

“Jika ada keinginan untuk mencium Hajar Aswad adalah harus lihat situasi dan jaga kesehatan diri sendiri adalah wajib daripada kita jatuh dalam kebinasaan,” katanya.

Di sisi lain, ada pula orang yang rela membayar jasa orang lain untuk bisa membantu mencium Hajar Aswad. Jasa tersebut memang banyak ditawarkan oleh oknum-oknum di Masjidil Haram.

Kartono menyebut hal itu sebagai pelanggaran karena tidak ada ketentuan dan adabnya dalam Islam.

“Ini pelanggaran seseorang yang menjajakan jasanya untuk mencari orang yang ingin mencium Hajar Aswad kemudian harus bayar, tidak ada ketentuan tentang itu bahwa adab dan tata kramanya tidak ada, orang dalam situasi semestinya sedang khusyuk beribadah tapi dipengaruhi dengan cara-cara lain malah membayar, ini suatu pelanggaran dalam pelaksanaan ibadah,” katanya.

Hajar Aswad hanya satu dari sekian banyak amaliah sunah, seyogianya tidak menjadi batas dan ukuran kebanggaan dalam beribadah haji. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER