Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

TEKNO

02 Juni 2021|14:51 WIB

Guru Besar IPB Ciptakan BakPo SABDO, Pengolah Sampah Tanpa Bau

Proses pengomposan sampah organik yang tidak menimbulkan bau

Penulis: Chatelia Noer Cholby,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageBak Komposting SABDO. Sumber foto: IPB

JAKARTA – Pengelolaan sampah masih menjadi masalah, termasuk di Indonesia. Sebenarnya jika sampah-sampah, khususnya yang bersumber dari rumah tangga dikelola dengan baik dan benar, justru mendatangkan bagi masyarakat.

Kini, tidak sedikit pihak yang melakukan inovasi terkait pengelolaan sampah, salah satunya Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Arief Sabdo Yuwono. Belum lama ini, dia berhasil menciptakan bak komposting dengan metode Sebelas Detik Aja Biodegradasi Organik (SABDO). Lewat metode ini, proses pengomposan sampah organik terjadi tanpa menimbulkan bau.

“Bedanya bak komposting pada umumnya dengan BakPo SABDO terletak pada agen biodegradasinya. Bak komposting pada umumnya menggunakan agen biodegradasi berupa konsorsium bakteri, sedangkan pada Bak Komposting Metode (BakPo) SABDO ini agen biodegradasinya adalah larva BSF (Black Soldier Fly),” terang, beberapa waktu lalu. 

Inovasi tersebut memiliki proses biodegradasi yang berlangsung dengan skala kebauan sangat rendah, yaitu -0.1. Skala kebauan itu membuat proses biodegradasi limbah organik dalam BakPo SABDO hampir tidak menimbulkan bau. Berbeda dengan proses biodegradasi dalam bak komposting yang ada di pasaran, yang menimbulkan bau tidak sedap dengan intensitas kuat.

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian itu menjelaskan, larva BSF yang terdapat di dalamnya juga dapat dipanen. Selain itu, bisa menjadi sumber protein dalam pembuatan ransum unggas, ikan, atau ternak lainnya.

“Larva BSF mengandung protein sebesar 30–40%. Jadi, larva BSF sangat potensial sebagai pilihan sumber protein pakan yang selama ini sebagian besar masih diimpor,” imbuhnya.

Uniknya, larva BSF yang berubah menjadi lalat BSF tidak akan menjadi vektor (pembawa) penyakit. Berbeda dengan lalat rumah yang hinggap dari bermacam-macam lokasi sampah, kemudian terbang masuk ke dalam rumah hingga menjadi vector.

Jika seseorang mulai menggunakan BakPo SABDO, maka proses biodegradasi limbah organic dapat langsung berjalan pada hari yang sama. Jadi, tidak perlu menunggu kedatangan lalat BSF untuk bertelur hingga sepekan atau dua pekan. Hal ini karena inovasi tersebut diaplikasikan sekaligus dengan larva aktif BSF di dalamnya.

Sementara itu, metode yang baru dikembangkan dua tahun belakangan, pemakainya masih terbatas pada keluarga dengan tingkat kepedulian tinggi terhadap pengelolaan limbah padat. Daerah tempat uji cobanya, yaitu Cilegon, Bogor, Yogyakarta, dan Magetan.

"Jumlah BakPo SABDO yang dibuat baru sekitar 30 unit karena masih inovasi baru. Namun, tahun ini akan dilakukan sosialisasi yang lebih masif dan luas. Lewat sosialisasi tersebut diharapkan akan terjadi peningkatan jumlah pemakai secara signifikan. Kami perkirakan jumlahnya akan mencapai hingga seratus unit yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia," ujarnya.

Menariknya, inovasi tersebut merupakan salah satu teknologi tepat guna IPB yang langsung dapat diterapkan kepada masyarakat umum. Apalagi mereka dapat memanfaatkan teknologi ini secara gratis. Nah, masyarakat dapat membangun sendiri teknologi tersebut atau memesan ke konstruktor BakPo SABDO.

“Dengan adanya inovasi ini saya berharap agar masyarakat sebaiknya segera memilah sampah organik maupun anorganiknya, sesuai dengan Pasal 12 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 dan Pasal 16 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 81 Tahun 2012 tentang pengelolaan sampah,” pungkasnya.

 


Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER