Selamat

Sabtu, 23 Oktober 2021

21 September 2021|21:00 WIB

Gali Tutup Lubang dan Nestapa Berkepanjangan

Terdesak kebutuhan, akses yang mudah, dan kurangnya literasi keuangan, membuat tak sedikit orang yang terjebak pinjaman online

Penulis: Gemma Fitri Purbaya, Andesta Herli Wijaya,

Editor: Rendi Widodo

ImageSejumlah anak membaca bersama di dekat dinding bermural di kawasan Tempurejo, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (7/9/2021). ANTARAFOTO/Didik Suhartono

JAKARTA – Risau, gelisah, dan bingung. Perasaan ini dirasakan betul oleh Mawar (21), bukan nama sebenarnya, mahasiswa jurusan kesehatan yang mengaku tengah membutuhkan uang untuk mengganti beberapa alat praktik yang rusak.

Maklum, uang jajan sehari-hari dan beasiswa yang diterimanya, tidak cukup untuknya membeli alat-alat praktik yang harganya mahal. Berharap ke keluarga pun bukanlah pilihan yang tepat buatnya. Di keluarga, hanya kakaknya saja yang bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga.

Terdesak kebutuhan, Mawar pun tak punya pilihan lain. Februari 2021, ia memutuskan untuk mengajukan pinjaman online (pinjol) di salah satu aplikasi penyedia layanan tersebut. Ia berpikir, cara ini jadi cara yang paling praktis untuk mendapatkan suntikan dana segar dengan segera.

Sekali pinjam, ia langsung mengajukan Rp2 juta. Tidak perlu waktu lama, dana pun cair, sekalipun harus dipotong Rp150 ribu menjadi Rp1,85 juta. Aplikasi itu pun memintanya mengembalikan dana pinjaman menjadi Rp2,2 juta dalam waktu 21 hari.

Pendeknya, ada bunga 10% atau sekitar Rp9.500 per hari yang harus ditanggungnya dalam tiga minggu. Jika ditambah potongan di atas, bunga Rp350 ribu harus ditanggung sekitar Rp16.600 per hari.

"Saat itu saya berpikir kalau uangnya bisa diganti dengan uang beasiswa yang saya dapat dan uang jajan bulanan dari kakak saya. Tapi ternyata uang beasiswa turun telat hingga tujuh hari," cerita Mawar kepada Validnews pada Jumat (17/9).

Di sinilah malapetaka bermula. Bingung dan panik karena jatuh tempo sudah dekat dan uang bulanan yang diberikan tidak cukup, akhirnya Mawar memutuskan untuk mengunduh aplikasi pinjol lainnya, untuk menutup pinjaman sebelumnya. Persisnya, sistem gali lubang tutup lubang jadi pilihan.

Kala itu, Mawar kalut. Ia takut ditagih atau diteror oleh debt collector pinjol seperti yang banyak beredar di dunia maya. Belum lagi, membayangkan bagaimana respons orang tuanya kalau tahu ia memiliki utang di pinjol.

Ia tidak memikirkan lagi soal tenor dan bunga pinjaman yang diambilnya. Hanya satu hal dalam pikirannya, tagihan sebelumnya bisa segera tertutupi.

Mawar pun terus melakukan pinjaman online. Praktik “gali lubang tutup lubang” yang dilakukan oleh Mawar terus berlangsung. Makin panjang tenor, bunga yang harus ditanggungnya pun menggunung.

Sampai Juli 2021, utang yang awalnya hanya Rp2,2 juta pun menggembung menjadi Rp56 juta dari 21 aplikasi pinjol berbeda. Resah? Pastinya. Ia harus menanggung bunga pinjaman jauh lebih besar dari pokok pinjaman yang didapatnya.

Coba-coba
Mawar tidak sendirian, Rosa (25), bukan pula nama sebenarnya, juga melakukan praktik serupa. Utang sebelumnya ditutupinya dengan membuat utang baru. Awalnya, ia hanya coba-coba mengunduh aplikasi pinjol karena butuh uang akibat belum gajian. Ingin pinjam orang tua rasanya segan sehingga tidak ada cara lain untuk meminjam uang selain dari pinjol.

Mulanya, Rosa meminjam Rp800 ribu dengan potongan Rp100 ribu untuk membiayai kehidupannya sehari-hari yang tidak tinggal dengan orang tua. Dalam kurun waktu 28 hari, ia harus mengembalikan uang pinjamannya di aplikasi online sebesar Rp1 juta.

Untuk menutupinya ketika jatuh tempo, ia kemudian meminjam lagi di aplikasi kedua. Pinjaman sekitar Rp600 ribu disetujui, meski ia hanya menerima Rp540 ribu, sedangkan tagihannya sekitar Rp700 ribuan.

Tak disangka, terjadi pengeluaran tidak terduga pada saat menjelang jatuh tempo kedua pinjol itu. Uangnya untuk bayar utang, kurang! Akhirnya, mau tidak mau Rosa meminjam lagi di aplikasi pinjol lainnya senilai Rp2 juta, meski hanya Rp1,8 jutaan saja yang masuk ke rekeningnya. Untuk pengembaliannya sendiri, ia harus membayar sekitar Rp3 juta.

Bukannya merasa lega, Rosa malah semakin pusing karena bingung harus mencicil utang yang terakhir ini setiap 10 hari sekali, karena luput membaca ketentuan tenor pinjaman.

"Ini malapetaka banget bagi saya yang pekerja swasta dengan gaji per bulan. Saya mesti bayar Rp2 juta itu yang dicicil tiap 10 hari. Akhirnya, ya itu, saya bayar dengan pinjaman online yang lain," tutur Rosa, Kamis (16/9).

Tidak terhitung berapa aplikasi pinjol yang Rosa gunakan. Ia hanya tahu, utangnya menumpuk hingga Rp13 juta. Masalah keuangan ini pun membuatnya stres, tidak bisa tidur nyenyak dan keringat dingin. Bahkan ia sampai mengalami tidak nafsu makan karena terus-terusan terpikir utang.

Takut bertambah banyak, Rosa melapor pada orang tuanya. Keduanya marah, namun akhirnya ikut membantu. Mereka melakukan peminjaman di bank sejumlah dengan utang Rosa yang digunakan untuk melunasi semua utang pinjolnya. Sekarang, ia hanya mempunyai utang di bank yang masih bisa dicicilnya beberapa bulan lagi.

Sama halnya dengan Rosa, Mawar juga belakangan menceritakan utang pinjolnya pada keluarganya sebelum utang itu semakin mencekik. Orang tuanya juga melakukan solusi serupa, melakukan peminjaman di bank dengan menggadaikan sertifikat tanah karena nominalnya yang besar. Utangnya di bank masih berjalan hingga saat ini.

Akses Mudah
Praktik “gali lubang, tutup lubang” sejatinya sudah bukan hal yang baru. Lelaku itu sudah sejak lama ada dalam masyarakat. Hanya saja, pada era digitalisasi ini, caranya saja yang berubah. Aksesnya pun makin mudah.

Sosiolog Universitas Indonesia, Ida Ruwaida, membenarkan. Akses peminjaman yang semakin cepat dan mudah membuat cerita Mawar dan Rosa makin menjamur. Kemudahan mendapatkan dana dengan hitungan detik, membuat orang terlena.

Apalagi meminjam uang bukan lagi hal yang baru dalam masyarakat, jauh sebelum ada pinjol.

Salah satu faktor pendorongnya adalah, belum adanya budaya menabung. Padahal, menabung bisa menjadi salah satu upaya untuk mengantisipasi apabila ada kebutuhan mendesak atau tidak terduga.

Data dari Survei Konsumen Bank Indonesia di Maret 2021 pun menunjukkan, pendapatan masyarakat yang disimpan hanya sebesar 14,7%. Sementara itu, proporsi untuk dikonsumsi sebesar 73,5% dan membayar utang sekitar 11%.

Senada, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juli 2021 pun menunjukkan adanya kenaikan proporsi peminjaman dari perbankan.

"Budaya menabung masyarakat kita masih rendah, khususnya di bank. Meski ada program-program yang menjangkau masyarakat pedesaan agar mau mengakses bank, seperti Agen Laku Pandai, hasil kajian kami menyebutkan, akses meminjam lebih besar daripada menabung," kata Ida pada Validnews, Sabtu (18/9).

Faktor lainnya adalah adanya kebutuhan mendadak atau gangguan finansial, seperti kehilangan pekerjaan atau kegiatan usaha yang gagal. Apalagi, pada masa pandemi seperti ini, yang membuat hampir semua sektor industri terdampak.

Seperti yang dialami Rosa, misalnya. Setelah meminjam uang dari pinjol, nasibnya pun memburuk karena ia terdampak PHK di perusahaan tempatnya bekerja.

Agar kebutuhan dan kewajibannya membayar utang terpenuhi, ia pun terus meminjam uang lagi dari aplikasi pinjol lainnya. Akhirnya, peminjaman uang pun dilakukan secara gegabah, karena sudah telanjur buntu dan tidak punya solusi efektif untuk masalah keuangannya.

Minimnya Literasi
Selain kebiasaan menabung yang masih minim dan banyaknya keperluan mendesak yang harus segara terpenuhi, sebenarnya literasi keuangan yang kurang di tengah masyarakat juga masih menjadi momok. Padahal, pengetahuan keuangan cukup penting dimiliki masyarakat, khususnya mengenai risiko dari meminjam uang.

Lewat cerita Mawar dan Rosa, misalnya, keduanya sama-sama tahu mengenai risiko dari pinjol. Mereka sadar, jika pembayaran utang mereka mengalami masalah, mereka akan berhadapan dengan debt collector. Akan tetapi, mereka seakan mengabaikan risiko lain, dengan mengambil lelaku “gali lubang tutup lubang” yang justru makin menjerat hidup mereka sendiri.

Ironisnya, Rosa sebelumnya pernah bekerja di perusahaan pinjol selama beberapa waktu, sebelum akhirnya diberhentikan untuk efisiensi karyawan.

"Kan saya kerja di kantor pinjol, jadi tau sistem tagihnya seperti apa. Makanya saya berusaha biar gak gagal bayar, jadi saya pinjam lagi dan lagi ke tempat pinjol lain. Sialnya, habis pakai pinjol terjadi pandemi dan terkena PHK massal dari kantor pinjol itu," jelas Rosa.

Budi Raharjo, Perencana Keuangan OneShildt menuturkan, literasi keuangan sebenarnya dapat membantu masyarakat dalam membuat keputusan keuangan yang lebih bijak, percaya diri, dan terhindar dari kesalahan-kesalahan yang tidak diinginkan.

Mereka yang mempunyai literasi keuangan yang tinggi pun disebut bisa menyaring produk keuangan dengan baik. Dengan begitu, mereka cenderung terhindar dari masalah keuangan dan investasi bodong di masa depan.

"Sebelum berutang pinjol sebenarnya tidak jauh berbeda dengan teknik manajemen utang lainnya. Ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu menentukan tujuan utama berutang, memperhatikan kemampuan bayar, dan memperhatikan besar bunga dan tenor," papar Budi, Sabtu (18/9).

Budi menghimbau agar masyarakat tidak berutang apabila tidak mempunyai kemampuan bayar dan penghasilan terganggu. Salah satunya adalah dengan mengetahui batas maksimal dalam berutang.

Secara teoretis, maksimal pinjaman atau berutang adalah 50% dari total aset yang ada dengan tenor tidak lebih dari tiga tahun untuk utang konsumtif. Itu karena semakin lama utang tersebut dilunasi, maka bunga yang diperoleh juga akan semakin besar.

Tenor jadi hal yang tidak boleh luput jadi pertimbangan, mengingat jika terjadi ketidaksesuaian jadwal pengembalian, bisa menyebabkan kekacauan cashflow. Semisal tenor pinjaman harus dikembalikan dalam kurun waktu 10 hari, sementara uang yang digunakan untuk membayar pinjaman baru ada 12 hari ke depan.

Karena panik, hal ini berpotensi mendorong para pelaku pinjol untuk kembali menarik dana dari pinjaman lainnya, seperti yang dialami oleh Mawar.

Pinjol Ilegal
Merebaknya pinjol, ditengarai disokong olah kemudahan akses peminjaman melalui smartphone. Apalagi penetrasi internet di Indonesia sudah cukup baik, sehingga masyarakat semakin dekat dengan pinjol. Kedekatan akses ini pun diamplifikasi dengan pandemi covid-19 yang membuat interaksi dan mobilitas masyarakat menjadi terbatas.

Tak hanya interaksi dengan smartphone yang akhirnya meningkat, penambahan jumlah pengangguran mendadak membuat mereka sangat rentan pada aplikasi pinjol.

Aktivitas pinjol pun semakin mudah dengan persyaratan yang jauh lebih ringkas dibandingkan metode peminjaman uang lain seperti di bank ataupun koperasi. Atas dasar kepraktisan itulah, popularitas pinjol meningkat tajam.

Namun, sayangnya di tengah maraknya pinjol, tidak sedikit pula pinjol-pinjol ilegal yang berkeliaran bebas di dunia maya. Padahal, kemudahan yang ditawarkan tidak “gratis”.

Kemudahan tersebut harus ditebus dengan akses ke informasi pribadi, seperti kontak telepon, foto, video, lokasi, dan sejumlah data pribadi dari ponsel pengguna.

Seringkali, data-data tersebut akan dipergunakan untuk meneror peminjam yang terlambat membayar tagihan dengan cara-cara yang tak beretika, seperti aksi intimidasi dan pelecehan secara verbal.

Asal tahu saja, sejak 2018, OJK telah berhasil memblokir dan menutup lebih dari 3.000 aplikasi dan situs pinjol ilegal. Sementara itu, per 8 September 2021, hanya ada 107 penyelenggara pinjol yang mengantongi izin OJK. So, masyarakat harus cerdas menyikapi hal ini.

"Jangan terkecoh hanya dari mencantumkan logo OJK di situs ataupun aplikasinya. Namun, cek ulang di situs OJK apakah nama perusahaan tersebut terdaftar dan berizin OJK. Melihat ulasan pengguna lain juga penting untuk melihat pengalaman pengguna dengan lembaga pinjol yang bersangkutan," saran Budi.

Sementara itu, Ida berharap negara dapat bekerja sama dengan berbagai pihak, untuk lebih gencar melakukan literasi keuangan, khususnya yang berkaitan dengan keuangan digital.

Selama ada pangsa pasar, beragam entitas “rentenir” online ilegal akan terus bergentayangan mencari mangsa yang lemah, terdesak dan tak punya pilihan.

Jangan tanya soal etika dan aturan, wong mereka ilegal. Hanya keuntungan sebesar-besarnya yang jadi tujuan.             

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER