Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

SENI & BUDAYA

29 April 2021|09:41 WIB

Film Musyrik, Gambaran Tentang Realita Pesugihan

Cerita tentang klenik dan mistis yang masih marak di zaman modern

Penulis: Yohanes Satrio Wicaksono,

Editor: Yohanes Satrio Wicaksono

ImageCuplikan Film Musyrik. Sumber foto: Antara/dok

JAKARTA - Diakui atau tidak, percaya atau tidak, budaya Indonesia sebenarnya sangat erat dengan mitos dan mistis. Baru-baru ini, kita digemparkan dengan tertangkapnya seekor babi di kawasan Depok, yang diduga sebagai babi ngepet. Babi ngepet sendiri merupakan salah satu praktik ritual pesugihan.

Kata pesugihan sendiri sejatinya cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, bahkan dianggap wajar jika ingin mendapat kekayaan dalam waktu instan. Bahkan hal itu masih saja terjadi di era modern dan teknologi saat ini.

Pesugihan adalah suatu cara untuk memperoleh kekayaan secara instan tanpa harus bekerja keras layaknya orang bekerja pada umumnya. Dalam prosesnya pesugihan adalah bentuk kerjasama perjanjian antara manusia sebagai pelaku pesugihan dengan makhluk gaib/jin/siluman.

Berdasarkan banyak cerita tentang pesugihan, rumah produksi WD Enterteiment menggarap sebuah film dengan judul "Musyrik (Doa Terkutuk)".

"Ceritanya mengangkat realita kehidupan bahwa pada zaman yang sudah modern ini, masih banyak yang percaya akan dunia mistis terutama pesugihan. Selama ini banyak masyarakat kita yang datang ke makam imam besar dengan tujuan berharap dapat kekayaan," kata Rofiq Ashari, produser film "Musyrik" dilansir Antara, Kamis (29/4).

Film ini melibatkan beberapa pemain seperti Wulan Guritno, Sahila Hisyam, Bishma Mulia, Mathias Muchus, Muammar Emka, Inggrid Wijanarko, Wedananda dan pemain stand up komedi.

Sahila Hisyam mengaku sangat tertarik terlibat dalam film Musyrik. Menurutnya ini menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan. "Film ini ceritanya lebih menonjolkan tentang Indonesia, jadi lebih exited banget ceritanya. Dengan budaya Indonesia yang kental dan niat banget," ujar Sahila.

Dalam Musyrik, Sahila mengubah penampilannya agar terlihat berbeda. Ia diceritakan sebagai anak kampung yang berasal dari sebuah daerah di Jawa.

"Ceritanya tidak dideskripsikan cerita dari daerah mana, hanya tentang cerita di Jawa. Jenis film ini dibedakan dari jenis horornya, horornya bisa dibilang klenik, sebelumnya juga pernah main horor, tapi horornya horor biasa, bukan tentang pesugihan, ini cerita horor yang tradisional," kata Sahila.

Belum lama ini sedang marak tentang penemuan babi ngepet di daerah Depok, Jawa Barat yang diyakini sebagian orang sebagai praktek pesugihan. Sahila sendiri sebenarnya tidak terlalu yakin dengan adanya babi ngepet, namun kejadian seperti ini sering dibicarakan oleh masyarakat.

"Percaya enggak percaya sih sebenarnya, tapi memang masih sangat kental di masyarakat kita," kata Sahila. (Satrio Wicaksono)
 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER