Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

PARIWISATA

04 Mei 2021|17:35 WIB

Fenomena Matahari Di Atas Ka'bah, Momentum Meluruskan Kiblat

Fenomena ini berlaku di seluruh dunia dan Indonesia, kecuali sebagian Provinsi Maluku

Penulis: Dwi Herlambang Ade Putra,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageIlustrasi Kabah. Pixabay/dok

JAKARTA – Dua pekan setelah Hari Raya Idulfitri, masyarakat akan melihat fenomena astronomi matahari di atas Ka'bah, tepatnya pada 27 Mei 2021. Fenomena ini disebut Istiwa'ul A'zham (Great Culmination).

Menurut laman edukasi.sains.lapan, fenomena ini terjadi ketika deklinasi matahari bernilai sama dengan lintang geografis Ka'bah. Jadi ketika pada saat tengah hari, matahari tepat berada di atas Ka'bah.

"Akibatnya setiap bayangan yang terbentuk pada saat tersebut akan mengarah ke Ka'bah," bunyi penjelasan tersebut, Selasa (2/5).

Fenomena ini dapat dijadikan momentum bagi umat Islam di seluruh dunia untuk meluruskan arah kiblat. Di Indonesia, kecuali di sebagian Provinsi Maluku mulai dari Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram bagian Timur, Kabupaten Kep. Tanimbar, Kabupaten Kep. Kai, dan Kota Tual.

Momen meluruskan kiblat ini berlaku di Kabupaten Maluku Barat Daya kecuali Pulau Wetar, Kabupaten Kepulauan Aru juga Provinsi Papua Barat serta Provinsi Papua. Untuk meluruskan arah kiblat, masyarakat harus terlebih dahulu mengkalibrasikan jam menggunakan platform jam.bmkg.go.id.

Masyarakat bisa ke tempat yang ingin ditentukan sebagai ruang salat dan menggunakan tongkat atau bandul untuk menandai bayangan matahari yang masuk. Pastikan tegak lurus dan amati bayangan pada jam yang telah ditentukan. Puncak fenomena ini terjadi pada pukul 16:17 WIB. 

Sejarah mencatat, masjid-masjid tua sering menentukan kiblat dengan metode-metode sederhana berdasarkan tradisi atau ilmu populer yang tidak berdasarkan astronomi. Sebagian Muslim awal selalu berkiblat ke arah selatan karena secara harfiah mengikuti hadis bahwa Nabi Muhammad SAW berkiblat ke arah selatan ketika berada di Madinah. 

Beberapa masjid tua di Al-Andalus—kini Spanyol—dan Asia Tengah mengarah ke selatan walaupun kedua tempat tersebut berada jauh di barat dan timur Makkah.

Selain itu, terdapat kiblat para sahabat yaitu arah kiblat yang pernah digunakan para sahabat Nabi di tempat tersebut. Arah ini diikuti selama berabad-abad, walaupun para ahli falak Muslim kemudian menggunakan perhitungan astronomi dan menemukan arah kiblat yang berbeda.

Contohnya, kiblat para sahabat di Syam dan Palestina mengarah ke selatan, di Mesir mengarah ke arah terjauh matahari terbit musim dingin, dan di Irak mengarah ke matahari terbenam di saat yang sama.  Arah matahari terbenam dan matahari terbit di musim dingin juga dipilih karena kedua arah ini sejajar dengan orientasi tembok Ka'bah.

Selain itu, Ka'bah bukanlah arah kiblat pertama bagi umat Islam untuk menjadi arah dalam salat. Sebelumnya, kiblat umat Muslim adalah Masjidil Aqsa atau Baitul Magdis di Yesusalem. Pada tahun kedua hijrah, turun perintah dari Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad SAW untuk mengubah arah kiblat.

Perubahan arah kiblat terjadi pada bulan Rajab dari Makkah ke Madinah. Saat di Makkah, Rasulullah SAW dikisahkan mengambil posisi sedemikian rupa sehingga tidak membelakangi Ka'bah dengan wajah yang menghadap Masjid Al-Aqsa.

Posisi tersebut sulit diterapkan di Madinah karena lokasinya yang berbeda dengan Makkah. Namun faktor utama perubahan arah kiblat adalah konflik yang terjadi antara muslim dan kelompok yang menentang ajaran Islam. Kelompok tersebut menganggap ajaran Islam sama dengan mereka karena arah dan cara ibadah yang serupa.

Setelah melewati jalan berliku dan pertentangan yang terjadi antara umat Muslim, Nabi Muhammad melalui penjelasan Surah Al Baqarah Ayat 144 akhirnya menjadikan Ka'bah sebagai kiblat saat salat. Baru pada tahun 622-623 masehi seluruh umat Muslim dunia menggunakan Ka'bah menjadi kiblat dan meninggalkan Masjid Al Aqsa.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER