Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

GAYA HIDUP

11 Mei 2021|18:40 WIB

Eiger Sulap Botol Plastik Dan Bambu Jadi Carrier

Selain frame dari bambu, material kain dan aksesoris buckle carrier ini dibuat dari setidaknya 50 botol plastik PET 500ml yang diolah dan didaur ulang

Oleh: Faisal Rachman

ImageBeragam Produk EIGER Adventure (ANTARA/Maria Cicilia Galuh)

JAKARTA- Kian kemari, sampah plastik tidak hanya mencemari lautan saja, gunung dan hutan pun ternyata tidak luput dari ancaman plastik. Catatan pada bulan Maret 2020, misalnya, ada lebih dari 1 ton sampah plastik yang diturunkan dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat

Survey Indonesia National Plastic Action Partnership tahun 2017 menunjukkan, Indonesia memproduksi kurang lebih 6,8 juta ton sampah plastik setiap tahunnya. Dengan besarnya angka sampah plastik yang diproduksi, hanya 10% yang sudah masuk ke proses recycle.

Kajian yang disusun oleh Dr Costas Velis dari Universitas Leeds menyatakan, diperkirakan sebanyak 1,3 miliar ton sampah plastik akan mencemari daratan dan lautan dunia pada tahun 2040 mendatang.

Berdasarkan fakta tersebut, produsen perlengkapan outdoor lokal, Eiger Adventure, berinovasi mengembangkan produk-produk yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya dengan merilis carrier atau tas gunung berkonsep keberlanjutan (sustainability), ECOSAVIOR 45L.

Bagian inti dari carrier ini, seperti material kain dan aksesoris buckle dibuat dari setidaknya 50 botol plastik PET 500ml yang diolah dan didaur ulang (polyester daur ulang Reboyarn). Kemudian, keunggulan lain dari carrier ini adalah penggunaan "Ergocomfort Eco Natural Flexibility" sebagai adjustable backsystem yang menggunakan bambu sebagai bahan dasar frame.
 

 


 

Pendeknya, Backsystem Ecosavior dirancang menggunakan frame bambu sebagai material alam pengganti alumunium, fiber, atau kawat baja yang biasa digunakan sebagai frame untuk carrier. 

Frame bambu ini sudah dirancang sesuai kurva tulang punggung dan memiliki fungsi untuk memperkokoh konstruksi tas sehingga tetap stabil saat digunakan," ujar Oki Lutfi, Eiger Product Designer melalui rilis resminya, Selasa (11/5). 

Oki mengatakan penggunaan frame bambu sudah melalui berbagai tahapan dan pengujian. Misalnya, teknik yang digunakan adalah dengan menggabungkan tiga lapis bambu yang dibentuk dengan cetakan, lalu dikeringkan dan dilaminasi.

Berbagai tahapan termasuk uji kekuatan bambu dilakukan untuk memastikan frame bambu dapat menopang beban sekaligus memiliki daya tahan terhadap iklim dan cuaca.

"Dalam pembuatan frame bambu, kami bekerjasama dengan para pengrajin bambu di area Temanggung, Jawa Tengah. Harapannya, langkah kecil yang kami lakukan dapat membantu para pengrajin bambu di sana," kata Oki.

Dari segi fungsional, teknologi adjustable backsystem yang digunakan dapat memudahkan pengguna dalam mengatur backsystem sesuai ukuran torso masing-masing. Inovasi ini, lanjutnya, merupakan langkah awal Eiger dalam mengembangkan produk-produk yang lebih ramah lingkungan, untuk menjadi bagian dari solusi permasalahan lingkungan.

sekadar informasi, Carrier Ecosavior berkapasitas 45 liter ini berhasil memenangkan Indonesia Good Design 2020 di kategori Best 3 Design Concept. Hadir dengan dua warna yaitu olive untuk men series dan putih untuk women series. Carrier ini dilengkapi pula dengan kantong sampah yang dapat dilepas-pasang (detachable). 

20 Item

Sebelumnya, Deputy CEO PT Eigerindo Multi Produk Industri (MPI) Christian Hartanto Sarsono, mengatakan, alam telah memberikan banyak peluang untuk belajar. Karena itu, ucapnya, sudah sepatutnya masyarakat menjaga melalui tindakan nyata dan sistematis.

 


Nah, menurutnya, salah satu cara untuk menjaga alam melalui produk-produk Eiger adalah dengan menggunakan material ramah lingkungan dan produk daur ulang.

"Saat ini kami memang belum sepenuhnya sustainable, tapi tiga tahun ke depan produk kami bisa ramah lingkungan," kata Christian.

Saat ini Eiger sudah memiliki kurang lebih 20 jenis produk yang menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan seperti kaus dari organic cotton atau katun bambu, serat kayu memanfaatkan bahan sisa produksi hingga mengembangkan produk dari limbah botol plastik.

Produk-produk ini dapat ditemukan dalam kaus, jaket serta aneka jenis tas mulai dari tote bag, sling bag hingga carrier atau tas gunung.

"Kami akan mengutamakan produk-produk seperti ini karena enggak mungkin zero waste, tapi bagaimana kota meminimalisir dampaknya terhadap lingkungan," tuturnya. (Faisal Rachman) 


 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA