Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

GAYA HIDUP

10 Juni 2021|11:15 WIB

Efek Psikologis Dalam Budaya TGIF

Istilah TGIF kadung melekat di kalangan anak muda. Band One Last Dinosaur sampai membuat lagu berjudul TGIF (Tulung Gusti I’m Frustasi).

Penulis: Chatelia Noer Cholby,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageIlustrasi perayaan TGIF. Pixabay/dok

JAKARTA – Istilah Thank God It’s Friday (TGIF) tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat perkotaan, khususnya anak muda. Momen hari Jumat ini paling ditunggu-tunggu karena menjadi hari terakhir bekerja dalam sepekan. Para pekerja bebas berkegiatan hingga larut tanpa khawatir terlambat bangun esok harinya. 

Seperti yang dirasakan Sherly (25), aura positif selalu terpancar di wajah karyawan swasta ini setiap hari Jumat. Sherly mendadak lebih semangat bekerja di hari itu, berbeda dengan hari-hari biasanya.

“Awalnya, saya tahu istilah TGIF itu dari Twitter sekitar 2017 lalu. Ketika sudah bekerja saya baru mengerti arti istilah tersebut sesungguhnya. Saya merasa lelah selama empat hari kemarin terbayarkan dengan libur,” kata Sherly kepada Validnews.

Sherly mengaku, biasanya pada hari Jumat dia bakal nongkrong bareng teman-temannya untuk sekadar makan dan minum. Kegiatan ini hanya bisa leluasa dilakukan di hari Jumat. Senin sampai Kamis, Sherly sudah sibuk dengan pekerjaan sehingga jarang berinteraksi dengan kawan.

Senada, Meyulinda (23) juga merasakan euforia positif dari TGIF. Ia mengaku ada positive vibe di setiap hari Jumat. Sadar tidak sadar, hari Jumat membuat mood-nya menjadi lebih baik. Saking senangnya, terkadang hari itu terasa lebih cepat dari hari biasanya.

“Entah bagaimana tapi setiap hari Jumat itu pasti orang-orang di kantor seperti happy. Nggak jarang juga orang-orang kantorku itu merencanakan untuk menghabiskan waktu di hari tersebut usai jam pulang,” ujarnya kepada Validnews

Lain Meyulinda, lain juga Dipa (23). Pemilik kedai kopi ini menggunakan momen TGIF untuk promosi kedainya. Jumat menjadi satu-satunya hari kerja yang menyediakan promo. 

“Akhirnya, saya coba terapkan promo menyambut TGIF karena banyak orang yang mengidamkan hari itu. Apalagi besoknya juga libur jadi tidak sulit bagi mereka yang ingin nongkrong sepulang bekerja,” paparnya saat dihubungi Validnews.

Psikolog klinis dewasa, Denrich Suryadi, menjelaskan, ungkapan TGIF ini muncul pertama kali di Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Pada masa itu, perusahaan di AS menggaji karyawannya setiap hari Jumat. Empat kali gajian, berarti empat kali TGIF.

“Di saat itu, mereka juga bersenang-senang di kafe, makan, maupun minum dengan gaji tersebut. Jadi, hari Jumat memang saat bagi mereka untuk menikmati sekaligus bersyukur,” ujarnya saat dihubungi Validnews, Rabu (9/06).

Lama kelamaan, bukan cuma di AS, ungkapan TGIF memiliki makna serupa di banyak negara, termasuk Indonesia. Hari Jumat dianggap sebagai momen yang membahagiakan, meskipun gajian tetap akhir bulan. Namun secara psikologis, kata Denrich, Jumat memang hari kerja terakhir dalam seminggu sehingga patut disyukuri.

“Sebenarnya, ungkapan ini serupa dengan efek “I hate Monday” pada hari minggu malam. Di mana efek psikologisnya jadi negatif karena artinya bersiap mental untuk bekerja lagi selama 5 hari. Senin menjadi hari menyebalkan, sedangkan Jumat jadi hari bahagia,” jelasnya.

Menurut Denrich, pada dasarnya setiap hari itu baik selama seseorang itu mampu mengelola dirinya untuk menjadi produktif. Seseorang dapat menjadikan Senin sebagai awal target baru dan memiliki empat hari untuk menindaklanjuti pekerjaan tersebut.

“Hanya karena perbedaan di awal dan akhir saja yang membuat efek psikologis menjadi jauh berbeda. Oleh sebab itu, kita tetap harus bersyukur karena semua hari memberikan kebaikan,” pungkasnya.

 

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA