Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

SENI & BUDAYA

07 Mei 2021|15:13 WIB

Dukung Penyintas Autisme Melalui Koleksi Fesyen

Brand Dama Kara memberdayakan para penyintas autisme untuk berkarya

Penulis: Gemma Fitri Purbaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageKoleksi volume ganjil Dama Kara. Penjualan koleksi ini digunakan untuk membantu terapi menggambar bagi anak autisme. Sumber foto: ModestFFF 2021

JAKARTA - Ajang Modest Fashion Founders Fund (ModestFFF) 2021 baru saja selesai, dengan menghadirkan 20 top finalis dan tiga pemenang. Ada kisah menarik dari salah satu peserta, yakni brand Dama Kara.

Brand yang didirikan pada 2019, meraih juara satu dari ajang ModestFFF 2021. Dalam ajang ini, Dama Kara mengusung konsep volume ganjil dan genap, yang memiliki ceritanya masing-masing.

Pada volume ganjil, Dama Kara menggunakan kain tradisional dengan menciptakan motif batiknya sendiri. Motif tersebut berbentuk dua garis sejajar, yang menurut penuturan Nurdini Prihastiti, founder brand Dama Kara, menggambarkan dua sisi manusia.

"Jadi dua garis ini seperti manusia yang memiliki dua sisi, ada kelebihan dan kekurangan, dan itu yang mau kami angkat. Sama seperti anak-anak autisme, mereka juga memiliki dua sisi seperti itu," cerita Nurdini, beberapa waktu lalu.

Untuk tekniknya sendiri, Dama Kara masih menggunakan teknik tradisional seperti batik cap, tulis, dan jumputan. Sedangkan untuk pewarnaan, masih belum menggunakan pewarnaan alam. Ia memadukan warna teracota dengan warna yang tidak biasa, seperti hijau atau biru tua pada koleksi di volume ganjil ini.

Menariknya, hasil dari penjualan produk di volume ganjil akan digunakan untuk membantu terapi anak-anak austisme. Nurdini bercerita kalau anak autisme seringkali dipandang sebelah mata oleh banyak orang.

Kemudian, Dama Kara terinspirasi dengan seorang anak perempuan di Inggris yang menderita autisme dan berkarya dengan cara menggambar. Ia pun bertekad untuk memberikan terapi menggambar untuk anak autisme.

“Di Indonesia sendiri banyak anak autisme yang masih belum mendapatkan penerimaan dengan baik, di lingkungan maupun keluarga. Karenanya, dengan memberikan bantuan terapi menggambar pada anak-anak austime melalui penjualan koleksi, mereka jadi memiliki ruang,” tuturnya.

Tidak berhenti di situ, di volume genap, karya-karya anak autisme yang mengikuti terapi menggambar dijadikan motif dalam koleksinya. Motifnya beragam. Bahkan, Nurdini sempat terkejut ketika melihat hasil gambar yang dibuat anak-anak itu sangat bagus.

Dengan menggunakan gambar dari anak-anak autisme, Nurdini memberikan royalti setiap bulannya pada setiap produk yang terjual. Saat ini, Dama Kara menggunakan dua gambar dari dua anak autisme untuk volume genap.

"Kami berharap bisa menjadi pioneer dalam memberikan terapi menggambar untuk autisme dan harapannya banyak orang bisa terinspirasi karena mereka bisa loh,” harap Nurdini. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER