Selamat

Sabtu, 23 Oktober 2021

07 Oktober 2021|15:11 WIB

Dieng Culture Festival, Pentas Tradisi Negeri Di Atas Awan

Dieng Culture Festival merupakan ajang kesenian tradisi tahunan yang digelar oleh masyarakat Dieng.

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageSesepuh adat memotong rambut Gimbal seorang anak Bajang pada ritual potong rambut Gimbal pada rangkaian Dieng Culture Festival V. Antara foto/dok

JAKARTA – Kawasan Wisata Dieng di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, selalu menjadi destinasi wisata favorit para pelancong lokal maupun internasional. Dataran Dieng yang berada di ketinggian 1.600-2.100 Mdpl, menjadikan tempat ini dijuluki sebagai negeri di atas awan. Dari sini, traveler bisa melihat hamparan awan tebal dari ketinggian.

Kawasan Dieng menawarkan panorama alam yang luar biasa. Masyarakat bisa menikmati hamparan perkebunan milik penduduk lokal setempat, yang biasanya didominasi oleh tumbuhan tembakau. 

Untuk menikmati suasana Kawasan Dieng yang dingin dan menyejukkan hati, tidak ada salahnya jika wisatawan yang datang bisa mampir ke Desa Wisata Dieng Kulon. Desa ini merupakan salah satu destinasi wisata yang banyak diminati karena berada di dataran tinggi 2.093 Mdpl. 

Daya tarik wisatanya antara lain Bukit Sikunir dan Kawah Sikidang. Di kawasan ini juga terdapat Candi Arjuna serta Museum Kailasa, tempat wisatawan dapat mengetahui sejarah terbentuknya Dieng. 

Wisatawan yang datang juga dapat menikmati berbagai suguhan seni seperti Tari Topeng Lengger, Kuda Lumping, dan Rampak Yakso.

Kemudian, yang paling menarik adalah Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal yang kemudian dikemas oleh Pokdarwis setempat menjadi agenda tahunan bertajuk "Dieng Culture Festival". Ruwatan rambut gimbal ialah upacara pemotongan rambut pada anak-anak berambut gimbal yang dilakukan oleh masyarakat. Ritual ini diadakan setiap tanggal satu Suro menurut penanggalan Jawa.

Rambut Gimbal yang dimiliki bocah Lereng Dieng ini tumbuh alami hanya pada anak-anak tertentu. Mitos yang berkembang dan dipercaya sebagian masyarakat Dataran Tinggi Dieng, rambut gimbal dianggap bisa membawa sukerta atau musibah dan masalah di kemudian hari.

Oleh karena itu, tujuan ruwatan ini supaya anak-anak ini bisa mendatangkan rezeki dan si anak dapat hidup dengan rambut yang normal. Masyarakat tradisional Dieng percaya bahwa anak-anak yang memiliki rambut gimbal adalah keturunan Kiai Kolodete, atau titipan Kanjeng Ratu Kidul sang penjaga laut selatan.

Selain itu, proses ini baru bisa dilakukan bila anak yang bersangkutan sudah menghendaki atau memintanya dan harus dilakukan melalui ritual ruwat atau ruwatan yang dipimpin tetua adat setempat. Uniknya, ruwatan ini hanya dapat dilakukan setelah orang tua memenuhi semua permintaan yang diajukan oleh sang anak.

Konon, jika pemotongan rambut gimbal tidak dilakukan melalui ritual sakral, rambut gimbal akan kembali tumbuh dan si anak cenderung sakit-sakitan Sebelum upacara pemotongan rambut, akan dilakukan ritual doa di beberapa tempat agar upacara dapat berjalan lancar.

Tempat-tempat tersebut adalah Candi Dwarawati, kompleks Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatot Kaca, Telaga Balai Kambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, kompleks Pertapaan Mandalasari (goa di Telaga Warna), Kali Pepek, dan tempat pemakaman Dieng. 

Kemudian, malam harinya akan dilanjutkan upacara Jamasan Pusaka, yaitu pencucian pusaka yang dibawa saat kirab anak-anak rambut gimbal untuk dicukur. Keesokan harinya baru dilakukan kirab menuju tempat pencukuran. 

Perjalanan dimulai dari rumah sesepuh pemangku adat dan berhenti di dekat Sendang Maerokoco atau Sendang Sedayu. Selama berkeliling desa anak-anak rambut gimbal ini dikawal para sesepuh, para tokoh masyarakat, kelompok-kelompok paguyuban seni tradisional, serta masyarakat.

Tidak hanya proses ruwatan saja, Dieng Culture Festival juga mempersembahkan banyak kesenian daerah Dieng. Selain itu, festival ini juga menghadirkan Jazz di atas awan dan menghadirkan musisi kenamaan Tanah Air. Juga, ada prosesi penerbangan lampion yang sangat menawan.

Ketua Pokdarwis Dieng Pandawa, Alif Fauzi mengatakan, Dieng Culture Festival merupakan agenda tahunan yang selalu menarik minat wisatawan dan memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat. Pada 2018, sebelum pandemi covid-19 melanda, ajang yang berlangsung selama tiga hari itu dapat menarik minat 180 ribu pengunjung.

"Dan memberikan manfaat bagi masyarakat di 18 desa sekitar. Kita sudah melakukan penelitian, bahwa wisatawan rata-rata pengeluarannya per hari selama festival tersebut sebesar Rp450 ribu. Sehingga total dalam tiga hari tersebut perputaran uang sekitar Rp90 miliar," kata Alif Fauzi, Kamis (7/10).

Dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga, banyak masyarakat yang memanfaatkan dengan mendirikan homestay. Saat ini, tercatat terdapat 350 homestay dari awalnya yang hanya berjumlah 5. 

"Berkat perjalanan yang panjang, dan dukungan pemerintah desa sekarang masyarakat sudah bisa mendapatkan manfaat yang begitu banyak,” ujarnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER