Selamat

Sabtu, 23 Oktober 2021

12 Oktober 2021|17:33 WIB

Desa Nglanggeran Dan Inspirasi "Banyu Langit" Didi Kempot

Gunung Api Purba yang ada di lirik lagu ciptaan Didi Kempot, bisa menjadi alternatif tujuan wisata saat mengunjungi Gunungkidul, Yogyakarta

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageWisatawan mengunjungi Desa Wisata Nglanggeran di Patuk, Gunungkidul, DI Yogyakarta. Antara foto/dok

JAKARTA – "Banyu langit sing ono dhuwur khayangan, Watu gedhe kalingan mendunge udan, Telesono atine wong seng kasmaranSetyo janji seprene tansah kelingan. Ademe gunung merapi purbo, Melu krungu swaramu ngomongke opo, Ademe gunung merapi purbo, Sing ning langgran Wonosari, Yogyakarta."

Potongan lirik lagu "Banyu Langit" ciptaan sang maetro campursari, Didi Kempot itu, sudah kadung menghiasi ratusan ribu bahkan jutaan telinga masyarakat Indonesia. Dalam akun YouTube resminya, tidak kurang dari 65 juta masyarakat sudah ambyar bersama dengan lagu dari "The God Father of Broken Heart" itu.

Lagu ini memiliki makna keteguhan hati seseorang yang ditinggalkan oleh pasangannya. Rasa rindu, kangen, ingin bertemu sudah menjadi makanan sehari-hari. Akan tetapi hingga waktu yang dijanjikan, sang pujaan tak kunjung datang. Kesedihan pun melanda entah kapan akan berakhir.

Ada hal menarik di balik pembuatan lagu "Banyu Langit". Tidak lain karena Didi Kempot menjadikan Gunung Api Purba di Desa Ngalanggeran, Kecamatan Patuk Gunungkidul, Yogyakarta, sebagai sumber inspirasinya. Gunung ini sendiri memiliki elevasi ketinggian maksimal 700 Mdpl dan masuk ke dalam kawasan Geosite Gunung Sewu, yang menyandang gelar sebagai UNESCO Global Geopark.

Secara fisiografi, Gunung Api Purba Nglanggeran terletak di Zona Pegunungan Selatan Jawa Tengah-Jawa Timur, atau tepatnya di Sub Zona Pegunungan Baturagung dengan kemiringan lerengnya yang cukup curam. Berdasarkan sejarah geologinya, gunung ini merupakan gunung api purba yang berumur tersier atau 0,6–70 juta tahun yang lalu.

Material batuan penyusun Gunung Nglanggeran merupakan endapan vulkanik tua berjenis andesit (Old Andesite Formation). Jenis batuan yang ditemukan di Gunung Nglanggeran antara lain breksi andesit, tufa dan lava bantal. Singkapan batuan vulkanik klastik yang ditemukan di Gunung Nglanggeran kenampakannya sangat ideal. Oleh karena itulah, satuan batuan yang ditemukan di Gunung tersebut diberi nama Formasi Geologi Nglanggeran.

Beberapa bukti lapangan mengungkap fakta bahwa dahulu pernah ada aktivitas vulkanis dengan banyaknya batuan sedimen vulkanik klastik, seperti batuan breksi andesit, tufa dan adanya aliran lava andesit di Gunung Nglanggeran. Bentuk kawah Gunung Api Purba Nglanggeran dapat ditemukan di puncak.

Pada era saat ini, Gunung Api Purba Ngalenggeran menjadi salah satu lokasi terbaik untuk wisatawan yang ingin mencari sunrise. Untuk mencapai ke Puncak Gedhe—puncak tertinggi—wisatawan harus melakukan pendakian sekitar 60 menit. Puncaknya sendiri merupakan dataran yang cukup lapang, dimana wisatawan bisa duduk-duduk bersantai sambil menikmati suasana kota dan Puncak Gunung Jari.

Dan jika ingin menginap atau berkemah, wisatawan bisa berjalan turun sekitar 50 meter untuk menuju lokasinya. Di sana wisatawan dapat berkemah dengan tenang, karena campgpround tersebut lebih tertutup vegetasinya dan bisa menahan angin pegunungan.  

Selain keindahan puncaknya ada pula potensi flora dan fauna di kawasan gunung ini yang terbilang sudah mulai sulit. Seperti tanaman tremas--tanaman obat yang hanya hidup dikawasan ekowisata Gunung Api Purba dan kera ekor panjang.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER