Dambus, Gitar Unik Berukir Kepala Rusa Khas Babel | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

24 November 2021|20:08 WIB

Dambus, Gitar Unik Berukir Kepala Rusa Khas Babel

Alat musik dambus diyakini sudah ada sejak zaman pra Islam di Babel. Hal itu terlihat dari segi desain dan penggunaan bahannya yang memiliki corak yang dekat dengan kebudayaan animisme.

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Rendi Widodo

Dambus, Gitar Unik Berukir Kepala Rusa Khas BabelPengrajin dan Pemetik Dambus asal Bangka Belitung, Tok Memet. Dok. Indonesiana TV

JAKARTA – Gambus selama ini umumnya diketahui merupakan produk kebudayaan tradisional dari Riau, yang berkembang dan menyebar hingga ke berbagai daerah di Indonesia. Gambus sebagai alat musik petik menyerupai gitar, sering ditampilkan dalam berbagai helatan adat maupun keagamaan di daerah asalnya.

Namun, tahukah Anda bahwa di Bangka Belitung (Babel) juga ada alat musik menyerupai gambus yang dikenal dengan dambus? Instrumen musik satu ini bahkan memiliki keunikannya sendiri, yang tidak ada pada gambus di daerah-daerah lainnya.

Dambus di Babel mengadopsi bentuk kepala rusa. Alat musik ini badannya mirip seperti gambus pada umumnya, namun tangkainya dibuat menyerupai kepala rusa. Bentukannya benar-benar meniru kepala rusa, dengan moncong, hidung dan tanduknya yang bercabang-cabang.

Dambus ini mirip dengan gitar, tapi biasanya berbentuk setengah buah labu air, kemudian di bagian perut dilubangi dengan pahat sehingga menghasilkan ruang kosong sebagai ruang resonansi.

Dambus adalah produk hasil penemuan seni dan artistik masyarakat Babel tradisional. Masyarakat di masa lalu membuat alat musik ini dipengaruhi oleh lanskap alam sekitar yang membuat masyarakatnya sangat familiar dengan hewan rusa.

Menurut cerita, di daerah Babel dulunya adalah habitat besar bagi kawanan rusa. Masyarakat bisa dengan mudah menemukan rusa berkeliaran di sekitar rumahnya. Kehadiran hewan ini kemudian juga menjadi bagian dari ekspresi sosial dan budaya masyarakat, di mana setiap rumah masyarakat di masa lalu selalu dihiasi dengan simbol kepala rusa.

Alat musik dambus diyakini sudah ada sejak zaman pra Islam di Babel. Hal itu terlihat dari segi desain dan penggunaan bahannya yang memiliki corak yang dekat dengan kebudayaan animisme, terutama pengadopsian rupa kepala binatang hidup yang pada dasarnya dilarang  dalam Islam.

Namun, penggunaan simbol kepala rusa bukanlah karena hewan tersebut sebagai hewan mistis yang diposisikan sama seperti berhala di alat musik dambus. Masyarakat mengadopsi rupa kepala rusa karena hewan itu memiliki fungsi penting sebagai sumber pangan masyarakat di masa lalu.

Pembuatan dambus dengan kepala rusa di Babel dibuat menggunakan jenis kayu pilihan dan keras. Bilah-bilah kayu yang digunakan sebagai bahan diambil dari bahan-bahan alami pilihan, seperti kayu cendana, bidara cina, kayu kenanga, kayu pohon nangka, hingga penggunaan kulit monyet pada bagian perut dambus agar menghasilkan kualitas suara terbaik.

Menurut salah-seorang pengengerajin dambus di Babel, Tok Memet, mengatakan bahwa dambus adalah ciri khas daerah Babel yang tidak dimiliki daerah-daerah lainnya. Dambus dari Babel selalu menggunakan desain kepala rusa, serta dengan pemilihan bahan terbaik sehingga bisa bertahan hingga puluhan tahun lamanya.

“Gambus ini dibuat bentuknya menyerupai kepala rusa. Ini jadi ciri khas Babel, nggak ada di daerah lain seperti ini. Ini dibuat dari pohon nangka, dibuat langsung dari satu kayu, nggak disambung, bahannya kuat dan nggak patah,” ungkap Tok Memet dalam tayangan video eksplorasi budaya Babel yang ditayangkan dalam program Pekan Kebudayaan Nasional 2021 di Indonesiana TV, Selasa (23/11).

Ditinggalkan Generasi Muda

Dambus dalam perkembangannya telah bertransformasi ke dalam pertunjukan musik dan tari. Di Babel hari ini, Dambus memiliki arti ganda, yaitu sebagai nama instrumen musik sekaligus nama pertunjukan seni musik dan tari. Pertunjukkan dambus sering dihadirkan dalam berbagai helatan, seperti kawinan, sunatan dan lain sebagainya.

Namun, dambus hari ini juga memiliki problematikanya sendiri, yaitu umumnya hanya dimainkan oleh orang-orang dari kalangan usia tua. Ini merupakan problematika banyak jenis kesenian tradisional dari berbagai daerah di Indonesia hari ini.

Tok Mamet yang merupakan seorang pengrajin sekaligus seniman dambus memandang problem itu dengan prihatin. Ia mengatakan, hari ini sudah jarang ada anak muda yang tertarik untuk mempelajari kesenian tradisional tersebut.

“Harapan saya adalah generasi muda tetap mau mendukung dambus ini. Anak anak sekarang pada nggak mau belajar main dambus. Kalau mau belajar, saya mau mengajarkannya, tanpa biaya. Tapi nggak mau, apa mereka gengsi atau bagaimana,” tuturnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA