Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

SENI & BUDAYA

28 April 2021|19:46 WIB

Chairil Anwar, Pelopor Puisi Modern Indonesia

28 April, hari puisi nasional

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Yohanes Satrio Wicaksono

ImageChairil Anwar. Sumberfoto: Wikipedia/dok

JAKARTA – Penyair Chairil Anwar merupakan tokoh penting dalam sejarah perpuisian Indonesia. Karyanya menjadi penanda zaman baru puisi. Menjadi tonggak perpuisian modern di zamannya.

Maka, tak heran kalau Chairil disebut-sebut sebagai pelopor Angkatan '45. Tak heran pula, tanggal kematiannya, 28 April, dirayakan sebagai Hari Puisi Nasional.

Chairil tumbuh di zaman penjajahan Jepang. Terlahir di Medan, Sumatra Utara pada Juli 1922. Setamat SD di Medan, ia menempuh pendidikan di MULO di Jakarta. Sejak bersekolah MULO, sosok ini sudah gemar membaca karya-karya sastra dunia, berkat penguasaannya terhadap bahasa Belanda serta Inggris yang dimilikinya.

Dari situlah Chairil kemudian muncul sebagai salah satu penyair di zamannya, dengan menuliskan banyak puisi-puisi di berbagai media. Chairil muda pernah menjadi redaktur majalah Gema Suasana pada 1948. Dia juga menjadi bagian dari forum Gelanggang Seniman Merdeka, bersama sastrawan lainnya yaitu Asrul Sani, Ida Nasution hingga Rivai Apin.

Posisi Chairil Anwar dalam peta puisi Indonesia adalah sebagai pembaharu bentuk puisi modern. Sebelum Chairil, puisi-puisi Indonesia umumnya masih sangat terikat dengan bentuk baku yang berisi aturan lirik yang rapi, berima serta menggunakan bahasa Melayu tinggi. Namun di tangan Chairil, puisi digubah dalam bentuk yang lebih bebas dan ekspresif.

Tri Sutjianingsih dalam buku Chairil Anwar; Hasil Karya dan Pengabdiannya (1981) menyebutkan, dalam menuliskan sajak-sajaknya, Chairil membawa perubahan yang radikal. Ia menggunakan bahasa Indonesia yang hidup, berjiwa. Bukan lagi bahasa buku, melainkan bahasa percakapan sehari-hari yang dibuatnya bernilai sastra.

Puisi "Aku", adalah salah-satu ekspresi seni Chairil yang paling otentik. Lewat puisi ini, ia muncul sebagai ‘Si Binatang Jalang’ yang mengembara, memberontak dari segala kekakuan dalam sastra lama. Puisi ini dan puisi-puisi Chairil lainnya, merupakan penemuan baru dalam bentuk puisi Indonesia, dan tercatat sebagai pelopor puisi baru Indonesia.

Selain menulis puisi, Chairil juga seorang penulis prosa yang cukup berhasil, walaupun jumlahnya tidak sebanyak yang dihasilkan dalam puisi. Ia menulis prosa asli maupun terjemahan.

Dalam prosesnya yang berjudul Hoppla, Chairil menyambut kemerdekaan Indonesia dengan gembira. Karena kemerdekaan suatu negara akan berarti kemerdekaan juga bagi seniman-seniman dalam menulis dan berkarya.

Keikutsertaan Chairil dalam kelompok Gelanggang Seniman Merdeka, merupakan bentuk persetujuannya terhadap ideologi berkesenian. Ideologi itu diungkapkan melalui 'Surat Kepercayaan Gelanggang', surat yang menyebut para sastrawan-seniman di dalamnya sebagai ahli waris kebudayaan dunia, yang beragam, luas dan tak terbatas, serta luwes. Ideologi itu pula dipakai Chairil dalam menjalani proses kreatifnya pada masa-masa perang kemerdekaan 1945.

Sayang, usia hidup Chairi tak begitu panjang. Gaya hidup bohemian yang tak ingin terikat, yang selalu mengembara dan hidup sesukanya, membuat Chairil mesti menanggung masalah kesehatan serius. Ia dinyatakan mengidap penyakit tuberkulosis (TBC). Dan pada 28 April 1949, Chairil meninggal dunia di usia mudanya.

Chairil meninggalkan sejumlah karya masterpiece bagi generasi sesudahnya. Karya-karya itu ada yang dicetak di masa kehidupannya, ada pula yang diterbitkan kemudian hari oleh pihak lain. Karya-karya itu antara lain kumpulan puisi Deru Campur Debu (1949), Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), Kena Gempur (1951) yang merupakan terjemahan dari karya John Steinbeck, Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus (1949), serta Aku Ini Binatang Jalang (1986), Derai-derai Cemara (1998). (Andesta Herli)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER