Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

SENI & BUDAYA

11 Juni 2021|12:06 WIB

Cerita Seniman Reog Beradaptasi Di Masa Pandemi

Mau tidak mau, mereka harus bertranformasi jika tak ingin "mati"

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageTari Reog Ponorogo dalam Festival Budaya Pecut Pusaka Ksatria Mahottama. Antara foto/dok

JAKARTA – Kelompok-kelompok kesenian reog termasuk yang terdampak cukup parah karena pandemi. Seniman-seniman reog kehilangan panggung pertunjukannya. Dengan begitu, mereka pun kehilangan sumber pendapatan.

Ketua Paguyuban Reog Ponorogo Jabodetabek, Catur Yudianto mengatakan, masa pandemi adalah masa tersulit yang pernah dihadapi oleh para seniman. Menurutnya, pandemi memberi beban dan tantang lebih bagi mereka untuk tetap bisa eksis dengan berkesenian.

"Kalau dulu sebelum pandemi, kita hanya direpotkan bagaimana cari anggaran untuk mewujudkan program-program. Sekarang ini, sekalipun kita punya anggaran, hanya sekadar untuk menjalankan program pertunjukan pun sulitnya setengah mati,” ungkap Catur yang kerap disapa Cak Yud kepada Validnews.

Keadaan ini membuat teman-temannya sesama seniman reog kesulitan, karena harus tetap hidup tanpa penghasilan. Tak ada lagi undangan-undangan untuk tampil dalam helatan masyarakat atau acara-acara tertentu. Yang mana, itu dulunya merupakan sumber pemasukan para seniman reog.

"Mungkin dalam sejarah hidup saya berkesenian, mungkin sekarang ini masa yang paling sulit," tuturnya.

Namun, “api” reog tidak boleh sampai mati. Bagaimanapun, kesenian yang konon telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit ini mesti terus bergeliat di Ibukota, meski jalannya memang sulit. 

Hal ini pula yang dipikirkan Cak Yud, terkait ratusan kelompok seniman reog yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Cak Yud dan teman-temannya mencoba berbagai cara agar kesenian reog tetap menggeliat di masa pandemi. 

Beberapa program pertunjukkan rutin yang dulunya dijalankan sebagai program bersama paguyuban, kini coba dihadirkan kembali dengan berbagai penyesuaian khas pandemi.

Salah satunya, kembali menghadirkan Reog Ponorogo Bulan Purnama, setiap bulannya di tanggal 28 di Taman Mini Indonesia Indah. Dulunya, kegiatan ini digelar secara berpindah-pindah di antara delapan koordinator wilayah yang dinaungi Paguyuban Reog Ponorogo Jabodetabek. Kini, semuanya dipusatkan di TMII, dan tanpa kehadiran penonton di lokasi.

"Makanya digelar kegiatan di tanggal 28 itu, penontonnya melalui virtual itu. Sebenarnya itu tombo kangen lah, menjaga semangat agar tak pupus,” tuturnya.

Transformasi ke Sinema
Cak Yud dan teman-temannya menyadari betapa zaman beralih dari “yang fisik” ke “yang virtual”. Itu berarti tuntutan terhadap seniman untuk melakukan perubahan-perubahan, bertransformasi ke sajian-sajian seni secara virtual.

Terkait itu, Paguyuban Reog Ponorogo Jabodetabek pun kini tengah menjajaki kemungkinan reog untuk tampil dalam kemasan sinema. Konsep ini akan memproduksi serta menampilkan pertunjukan reog dengan memanfaatkan berbagai teknologi digital yang berkembang saat ini.

“Saya menyebutnya sinema reog, kayak wayang, kan ada sinema wayang. Ke depan kita mau mengarah ke sana, jadi reog bukan saja untuk dipertunjukkan di lapangan atau panggung. Tapi ada kemasan lain juga, sinema reog,” kata Cak Yud.

Sinema reog yang dibayangkan Cak Yud bisa berupa film, namun bisa pula sebatas berupa pertunjukan virtual. Intinya yang hendak dicapai yaitu membawa reog lebih dekat dengan berbagai teknologi digital masa kini.

“Mungkin bisa dalam bentuk film, atau kemasan panggung tapi kemasannya lebih canggih lah,” kata Cak Yud.

“Misalnya, kita tidak perlu dekor panggung secara konvensional, tapi mengandalkan video mapping, atau pada saat tertentu dibikin karakter dalam pertunjukan itu dia bisa terbang. Itu kan sentuhan-sentuhan teknologi zaman sekarang,” pungkasnya.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA