Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

17 Juli 2021|17:45 WIB

Bertahan Di Tengah Ketatnya Pembatasan

Kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat yang diterapkan pemerintah, membuat banyak orang harus berjuang memenuhi kebutuhan makan sambil terus menjaga kesehatan

Penulis: Gemma Fitri Purbaya, Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageSejumlah sukarelawan membawa hidangan makanan di Dapur Umum Peduli COVID-19 di kawasan Karet, Semanggi, Jakarta Selatan. Antara foto/dok

JAKARTA – Lagi dan lagi, masyarakat kembali harus "dirumahkan", oleh kebijakan pemerintah yang diterapkan lantaran kasus covid-19 yang meroket dalam waktu terakhir. Untuk kesekian kalinya, apapun namanya, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang serupa ini.

Pemerintah memang seperti hanya bermain diksi, agar terlihat selalu ada kebijakan baru untuk mengatasi masalah yang sulit diselesaikannya. Masih ingatkah Anda tahun lalu dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)?

Kebijakan tersebut kemudian diubah namanya dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), PPKM Mikro, dan terakhir, PPKM Darurat yang mulai diterapkan sejak 3 Juli lalu.

Alasan paling kuat kenapa nama kebijakan berubah, semata-mata hanya berdasarkan siapa yang mengusulkan dan memutuskan kebijakan tersebut.

Apakah pemerintah pusat, atau pemerintahan daerah? Selain itu, intinya, sama-sama membatasi mobilitas masyarakat untuk menekan penyebaran kasus covid-19 yang telanjur melonjak.

Jika dilihat sepintas, upaya membatasi mobilitas orang untuk menekan penyebaran virus, terlihat cukup bijak. Namun jika dilihat dari sudut lain, kebijakan ini bukan tanpa konsekuensi. Bahkan berpotensi besar membuat hidup kebanyakan orang, khususnya kelas ekonomi menengah dan bawah jadi terpuruk.

Karena tak bisa dimungkiri, masih banyak masyarakat yang mengandalkan makan hanya dari pendapatan harian. Sebagian lagi, hidup dengan penghasilan sangat pas-pasan, bahkan cenderung kurang sekalipun mendapatkan penghasilan bulanan.

Nah, jika tanpa pandemi dan pembatasan saja banyak dari masyarakat yang sudah harus banting tuang, peras keringat, untuk menafkahi diri dan keluarga, saat ini kondisinya makin getir.

Tengok saja, seberapa banyak ladang penghasilan andalan yang harus ditutup demi mematuhi kebijakan pemerintah? Apalagi, jika usaha itu tak dianggap esensial atau kritikal yang menjadi syarat masih bisa dibukanya suatu usaha.

Bertahan Semampunya
Menekan tombol survival mode pun jadi pilihan yang mau tak mau diambil. Padahal, mencari celah agar tetap berpenghasilan dan bertahan hidup juga tak mudah. Perut tak bisa menunggu terlalu lama lapar.

Sementara, tak semua jenis usaha bisa dilaksanakan dengan cara bekerja dari rumah atau lewat jalan online, seperti yang dianjurkan pemerintah.

Andiyawati (27), misalnya, perempuan ini bekerja sebagai pegawai salon di salah satu mal di kawasan Jakarta Selatan. Sementara suaminya, berprofesi sebagai seorang sopir bus pariwisata. Dua profesi yang harus disudahi untuk sementara waktu. 

"Sekarang paling kerja kalau ada panggilan aja, misalnya ada yang minta bersihin kuku. Tapi gitu-gitu aja. Itu juga jarang. Apalagi sekarang orang pada takut juga kan karena pandemi," ceritanya pada Validnews, Minggu (11/7).

Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, kini Andiyawati bergantung pada sang suami, yang banting stir menjadi pencari cacing. Cacing-cacing itu dijual kepada orang-orang yang hobi memancing atau memiliki ikan peliharaan di rumah. Setidaknya dengan begitu, ia dan suami masih bisa makan dan membayar kosan.

Baginya, dan mungkin bagi banyak orang lain yang perekonomiannya mirip dengan dia, bantuan tentu menjadi harapan. Bisa menjadi penyegar di situasi yang kian tak menentu ini.

Namun sepertinya Andiyawati belum seberuntung seperti awal-awal masa pandemi tahun lalu. Dulu dia pernah merasa menerima bantuan sembako dari pemerintah. Sekarang, dua minggu setelah penerapan PPKM Darurat, belum juga ada tanda-tanda bantuan serupa bakal diterima. Padahal berita sudah jauh-jauh hari didengarnya.

"Pas pandemi awal yang ada PSBB, saya dapat sembako dari ibu kos karena kebetulan ibu kosnya pengurus RT. Isinya beras, sarden. Tapi ketika diganti jadi uang, tidak ada anak kos yang dapat," tuturnya.

Berjuang Sendiri
Lain lagi cerita dari Muthia (26), salah satu warga Kota Bekasi. Kesulitan yang dihadapinya dalam kurun PPKM Darurat kali ini, jauh lebih pelik. Tak sekadar pusing mencari penghasilan untuk makan saban hari, ia juga harus mengalami sulitnya mencari rumah sakit dan tabung oksigen, untuk ayahnya terpapar covid-19.

Ayahnya yang bekerja sebagai peternak burung puyuh, harus berhenti bekerja karena positif covid-19. Sementara adiknya, juga tidak bisa bekerja gara-gara mal tempatnya bekerja ditutup. Morat-marit, mencari bantuan atau sekadar pinjaman untuk bertahan.

“Jadi saya yang sebisa mungkin membantu mereka, dari uang makan hingga oksigen, meski saya sendiri tidak bekerja. Saya meminjam uang sana-sini untuk bayar cicilan ayah karena oksigen wajib sekali ada," kisahnya kepada Validnews, Senin (12/7).

Ironisnya lagi, tetangga-tetangga terdekat pun tak bisa berbuat banyak dalam memberi bantuan. "Bahkan Pak RT juga bingung setelah saya lapor keadaan ayah saya dan meminta bantuannya," tuturnya.

Untuk obat-obatan bagi sang ayah, ia mengandalkan bantuan dari puskesmas setempat. Sementara untuk keperluan lainnya, Muthia harus berjuang sendiri, termasuk mencari tabung oksigen.

Untungnya, di balik kesulitan yang dihadapi saat itu, masih banyak orang-orang baik di luar sana. Tabung oksigen justru dia dapat dari seseorang yang tidak dikenalnya. Ada orang yang bersedia membantunya, setelah Muthia mengunggah di media sosial kalau sedang membutuhkan tabung oksigen.

Muthia merasa sangat bersyukur karena ada yang bersedia meminjamkan tabung oksigen untuk ayahnya yang diketahui hingga saat ini saturasi oksigennya masih di bawah 95. Belum lagi sang ayah juga punya penyakit penyerta.

Kisah tak kalah memilukan datang dari Risna (28), warga Cileungsi, Kabupaten Bogor. Dia harus kehilangan salah satu orang tercintanya, karena kesulitan mendapat layanan kesehatan. Meski terpapar covid-19 dan memiliki komorbid, ayah Risna tak juga kunjung mendapat rumah sakit.

Bahkan ketika keadaan ayahnya semakin memburuk, ia tetap tidak memperoleh penanganan yang dibutuhkan. Akhirnya, Ayah Risna pun meninggal di rumah.

"Kalau disebut kendala, membiarkan orang sekarat di rumah saja, sudah termasuk wujud dari kendala," ujarnya.

Kesal, sudah pasti. Namun apa lacur, tak banyak yang bisa diperbuat di kondisi seperti ini. Tanpa mengecilkan para pejuang-pejuang kesehatan yang berjibaku melawan covid-19, pelayanan kesehatan harus diakui masih jauh dari kata optimal.

"Bayangkan, saya ada uang untuk membayar pengobatan atau perawatan, tetapi fasilitas kesehatan yang ada hanya dari puskesmas. Klinik yang sedang, besar, hingga rumah sakit tidak bisa diandalkan," tandas Risna.

3M (Masyarakat Membantu Masyarakat)
Namun dibalik cerita-cerita pahit, kepanikan, kesedihan, kegetiran dan kekesalan, selalu ada hikmah yang bisa diambil. Setidaknya, pada masa sulit seperti ini, muncul beragam bentuk gerakan kemanusiaan di tengah-tengah masyarakat.

Paham kalau pemerintah tak bisa melayani semua, muncul gerakan-gerakan kecil yang diinisiasi sesama.

Seperti Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia. Sejak awal Juli lalu, gerakan ini aktif meminjamkan tabung oksigen ke masyarakat sekitar Jabodetabek secara gratis.

Diceritakan oleh tim pelaksana Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen, Arief Bobhil, mereka melihat semenjak masa PPKM Darurat banyak sekali orang-orang yang butuh dan kesulitan mendapatkan tabung oksigen, seperti yang Muthia alami.

"Ini berdasarkan apa yang kami lihat dalam rentang waktu sampai 13 hari ini, kebutuhan oksigen masih sangat tinggi, sementara ketersediaan belum bisa memenuhi itu," ungkap Arief pada Validnews, Selasa (13/7).

Sampai saat ini, jumlah masyarakat yang telah mengisi formulir pengajuan peminjaman sudah lebih dari empat ribu orang. Sementara, mereka hanya memiliki 275 tabung oksigen yang telah dipinjamkan ke lebih dari 400 pasien isoman, dengan durasi waktu sekitar lima sampai tujuh hari.

Selain dari jumlah tabung oksigen yang terbatas, pihaknya juga kesulitan untuk mencari suplai oksigen dan tempat penyedia regulator. Sama seperti warga lainnya, para relawan ini juga harus berjibaku mencari suplai oksigen dan regulator karena tidak memiliki penyuplai tetap.

Beruntung, mereka mempunyai orang-orang baik yang bersedia menjadi donatur, agar bisa membiayai pengisian oksigen, biaya transportasi, dan juga regulator untuk pasien isoman.

Seperti yang dilakukan oleh Jessica (29), seorang wirausaha. Hatinya tergerak membantu orang-orang isoman dengan memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, khususnya makanan.

Ia melihat banyak orang yang mengalami kesusahan secara finansial dan sosial, karena dikucilkan oleh tetangga dan lingkungan akibat positif covid-19. Untuk itu, ia pun berinisiasi memesankan paket catering dan makanan bagi mereka yang sedang isoman hingga sembuh, di daerah Jakarta dan Tangerang.

"Saya tergerak untuk ikut bantu, karena bisa saja mereka yang isoman ini sedang kesulitan dana atau kesulitan masak atau mempersiapkan makanan atau sekeluarga sedang sakit. Jadi saya pikir harus melakukan sesuatu meskipun kecil," kata Jessica pada Sabtu (10/7).

Saat ini, sudah ada sekitar 38 orang yang Jessica bantu. Menurutnya, seharusnya bukanlah hal yang sulit buat pemerintah untuk memberikan bantuan finansial, logistik, dan juga psikologis pada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Ia menilai pemerintah tidak bisa hanya memberlakukan PPKM Darurat tanpa memberikan bantuan. Apalagi banyak orang yang bergantung pada pekerjaannya untuk pemenuhan kebutuhan dasar sehari-harinya, seperti yang dialami oleh Anindyawati.

Tradisi Berderma
Untungnya, kita masih bisa melihat sikap tolong menolong yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. Sikap-sikap kemanusiaan tersebut merupakan wujud kepedulian yang sangat amat nyata.

Tak heran, jika Indonesia berada di urutan nomor satu di dunia, sebagai masyarakat paling dermawan menurut World Giving Index 2021.

Masyarakat Indonesia bahkan menduduki peringkat pertama untuk kedermawanan dalam sumbang uang dan kerelawanan pada orang asing dan orang tidak dikenal. Sementara negara-negara barat seperti Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Australia, hanya masuk urutan 20 besar.

"Hal ini tentunya sangat baik ya karena dipengaruhi oleh kearifan sosial, khususnya ajaran tradisi dan agama untuk derma dan menolong sesama. Meskipun ekonomi kita sedang dihantam, tetapi kita cukup stabil. Apalagi dengan adanya praktik menyumbang digital, ini sangat baik," kata Pengamat Sosial, Devie Rahmawati kepada Validnews, Senin (12/7).

Begitu juga dengan sosiolog Universitas Padjajaran Yusar Muljadji. Aksi saling membantu seperti ini menurutnya penting adanya, sebagai pengisi kekosongan dari peran negara yang belum bisa meng-cover keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.

Apalagi, Indonesia memiliki letak geografis dan demografis yang sangat beragam. Penanganan pandemi covid-19 seperti ini, tentu tidaklah semudah seperti yang bisa dilakukan negara-negara Eropa yang umumnya berada pada daratan yang sama.

"Adapun anggapan negara atau pemerintah kurang mampu membantu masyarakat yang terdampak, ya sah-sah saja. Dilihat dari perspektif manapun, faktanya menunjukkan demikian. Tetapi ingat, dengan kondisi demografis dan geografis seperti Indonesia ini, merupakan tantangan bagi negara untuk bisa hadir menjangkau warga negaranya,” tutur Yusar, Selasa (13/7).

Mengenai PPKM Darurat sendiri, ia melihat kebijakan ini sudah tepat, meski menurutnya ada hal yang harus dikorbankan. Semisal, masyarakat yang sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari, atau mendapatkan pelayanan kesehatan karena meledaknya kasus covid-19.


Keputusan Dilematis
Yusar memang tidak bisa menampik bahwa PPKM Darurat saat ini memberikan dampak besar bagi masyarakat. Tetapi pada hakikatnya PPKM Darurat memiliki tujuan agar penyebaran virus corona bisa berhenti.

"Kalau dipikir-pikir PPKM ini dilematis, membatasi aktivitas masyarakat tapi berdampak pada mata pencaharian mereka. Tapi tujuan utamanya adalah memutus penyebaran covid-19," jelasnya.

Namun, apapun itu, ia menilai aspek kesehatan lebih utama. Pasalnya, kalau pandemi bisa berakhir lebih cepat, masyarakat bisa memulai semuanya menjadi lebih leluasa.

“Sebab kalau terus berlangsung, pihak yang paling tersiksa adalah masyarakat itu sendiri," lanjut Yusar.

Maka dari itu, dia juga mewanti-wanti kepada seluruh masyarakat untuk tetap waspada. Mengingat pandemi belum juga berakhir. Diperparah lagi dengan masih adanya varian-varian virus baru yang penularannya semakin cepat dan ganas.

Sementara itu, sosiolog Universitas Indonesia, Ida Ruwaida mengatakan, masyarakat seharusnya sejak awal membantu pemerintah, agar tidak terjadi kondisi pandemi berkepanjangan seperti sekarang

Menurutnya, masyarakat harus aktif dalam upaya pencegahan dan edukasi. Sebab, kondisi seperti ini terjadi karena kontribusi dari masyarakat itu sendiri yang mulai lengah dan menganggap enteng covid-19. Seolah dengan adanya vaksinasi, kehidupan sudah menjadi normal kembali, dan seakan lupa penyebaran virus corona terjadi melalui mobilitas penduduk.

Di pihak lain, tenaga kesehatan yang masih bekerja keras melayani mulai kewalahan karena melonjaknya kasus covid-19. Apalagi dengan adanya varian delta yang penyebarannya lebih cepat dan tidak mengenal usia.

“Ibaratnya, kapal laut yang hanya bisa angkut 50 penumpang dipaksa melayani 100 penumpang. Tentu tidak siap dan ada risiko sana-sini. Tidak semua rumah sakit pun siap melayani pasien covid-19. Sebab itu, sudah selayaknya masyarakat membantu pemerintah. Di negara lain juga demikian, meski tidak dalam situasi darurat,” kata Ida pada Validnews, Senin (12/7).

Untuk itu, Ida berharap agar masyarakat dan pemerintah bisa sama-sama terus bersinergi untuk kepentingan publik dalam memerangi pandemi di Indonesia. Sebab, masyarakat tidak melulu harus mengandalkan pemerintah.

Di sisi lain, Ida juga merasa pemerintah harus tegas dalam membuat kebijakan agar masyarakat bisa patuh dengan peraturan yang dibuat.

Namun satu yang pasti, masyarakat tetap harus makan dari hari ke hari dan tidak bisa menunggu pandemi berakhir. Mereka bukan orang malas yang hanya berpangku tangan berharap bantuan.

Mereka ingin hanya sekadar ingin bekerja, bukan untuk menumpuk kekayaan, tapi hanya untuk bisa bertahan tetap makan, bisa berpakaian dan terlindungi dari panas dan hujan.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER