Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

GAYA HIDUP

27 Mei 2021|21:00 WIB

Berpakaian ‘Lebih Utuh’ Dengan Sustainable Fashion

Pemahaman mengenai sustainable fashion di Indonesia masih sering keliru.

Penulis: Arief Tirtana, Chatelia Noer Cholby,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageIlustrasi sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan. Shutterstock/dok

JAKARTA Sehari sebelum peristiwa nahas itu terjadi, ribuan buruh pabrik garmen di Rana Plaza, Dhaka, Bangladesh, ribut meminta libur. Bukan karena upah yang terlalu kecil atau jam kerja yang tidak adil. Mereka meminta libur karena khawatir bangunan runtuh. Alasan tersebut bukan mengada-ada, garis-garis retak tidak biasa terlihat jelas di beberapa bagian gedung.

Namun, alasan buruh tidak masuk logika perusahaan. Permintaan itu tidak digubris. Hingga pada pukul 08.30 waktu setempat, bangunan delapan lantai itu ambrol. Ketakutan para buruh menjadi nyata pada 24 April 2013 silam. Sebanyak 1.113 buruh meninggal akibat tertimpa bongkahan beton dan 2.500 lainnya mengalami luka-luka. 

Peristiwa di Rana Plaza menancapkan luka mendalam bagi dunia fesyen. Tragedi ini menegaskan nyatanya praktik eksploitasi buruh di industri fesyen. Andai perusahaan meliburkan buruh satu hari saja, ribuan nyawa yang memproduksi pakaian bermerek terkenal dunia itu tidak akan hilang sia-sia.

Bangladesh memang primadona tempat produksi pakaian banyak merek terkenal. Biaya upahnya rendah sehingga mampu meminimalkan ongkos produksi. Merek-merek pakaian terkenal yang biasa ada berbagai butik di Tesco, Wal Mart, JC Penney, H & M, Marks & Spencer, Kohl dan Carrefour banyak bercap made in Bangladesh.

Berangkat dari tragedi itu, sebagian penikmat dan perancang busana mulai menyelami konsep sustainable fashion atau fesyen yang berkelanjutan. Konsep tersebut dalam praktiknya adalah produksi garmen dan pakaian yang tidak hanya ramah lingkungan. Pakaian dan proses produksinya diharap juga mendukung kelangsungan hidup pekerja yang terlibat, dan lingkungannya.

Di Indonesia, beberapa merek lokal juga sudah menggaungkan sustainable fashion. Yuna & Co yang berkolaborasi dengan Liberty Society memastikan setiap produknya menggunakan kain yang diproduksi secara ramah lingkungan. Produsen pakaian ini melakukannya dengan memberdayakan perempuan-perempuan pengungsi bencana, untuk mendapatkan penghidupan dan penghasilan dari produk fesyen ramah lingkungan.

Dalam setiap pembelian koleksi ini, pembeli ikut berkontribusi mendukung dan menyediakan akses pelatihan menjahit bagi 20 pengungsi perempuan yang dibina di House of Freedom by Liberty Society.

Begitu juga dengan merek SVH melalui Drips by SVH Volume 1. Koleksi lini pakaian asal Bandung yang berkibar sejak 2017 ini tidak berbahan polyester. Hal yang dipakai adalah serat kapas yang bisa menyerap keringat tinggi sehingga cocok dikenakan di iklim tropis seperti Indonesia.

Serat kapas tersebut memiliki celah mikro dan lubang mikro yang memungkinkan penyerapan kelembaban dan ventilasi yang lebih baik. Nuansa ecofriendly dihadirkan lewat serat kapas ramah lingkungan.

Desainer Ali Charisma juga turut menerapkan konsep serupa. Sustainable fashion diusungnya dengan mendonasikan lebih dari 1.000 busana rancangannya pada awal tahun ini. Seluruh koleksi baju Ali Charisma ini bisa dimiliki secara gratis, hanya dengan mendonasikan minimal 10% dari nilai baju melalui BenihBaik.com.

Sayangnya, pemahaman mengenai sustainable fashion di Indonesia masih sering keliru. 

Konsep ini disimplifikasi sebagai fesyen yang berbahan ramah lingkungan. Padahal, ada tanggung jawab besar ketika sebuah brand menyebut dirinya menerapkan sustainable fashion. Hal yang dilakukan bukan sekadar menggunakan bahan-bahan minim pencemaran, atau sulit didaur ulang.

Kian Banyak Peminat
Apa yang terjadi di Rana Plaza juga menjadi salah satu alasan Bivisyani Questibrilia (28) beralih ke konsep ini. Delapan tahun lalu, dirinya mendengar kabar buruk tersebut dari beberapa blogger yang diikutinya.

“Hingga akhirnya saya tahu bagaimana seorang buruh diperlakukan oleh pemilik pabrik. Terkadang mereka tidak dibayar sesuai tenaganya. Sejak saat itu saya semakin sadar soal sustainable fashion. Itu penting,” ujar copywriter di salah satu agency iklan di Jakarta ini, saat berbincang dengan Validnews, Senin (24/05).

Tiga tahun belakangan, Bivisyani mulai membeli produk non-fast fashion alias bukan pakaian-pakaian yang diproduksi secara massal. Menurutnya, desain dan kualitas sustainable fashion tidak kalah dengan fast fashion.

Sustainable fashion ini unik karena produknya handmade. Barang apapun yang diciptakan pastinya enggak akan sama dengan produk lainnya. Desain limited ini yang membuat sustainable fashion dicintai, apalagi stoknya terbatas jadi enggak pasaran,” tuturnya.

Senada, Safira Larasati (28) juga berpandangan sama. Ia memilih sustainable fashion karena tiap langkah produksi pakaian yang dipakai tidak sembarangan. Proses produksinya mempertimbangkan kualitas siklus kehidupan produk, mulai dari awal produksi hingga ke tangan konsumen. Berbeda dengan fast fashion yang cepat berganti setiap kuartal mengikuti tren musim di negara subtropis.

“Selain pemilihan material yang cukup thoughtful (bijaksana), proses produksinya juga meminimalkan jejak karbon yang lebih sedikit dibanding fast fashion. Dengan begitu fashion sustainable juga dapat menekan limbah pakaian,” katanya saat dihubungi oleh Validnews, Sabtu (22/05).

Bagi Safira, desain produk fashion sustainable cenderung timeless dan kualitasnya jauh lebih tahan lama. Meski berkali-kali dikenakan, pakaian tak mudah rusak. Tak heran jika harganya pun jauh lebih mahal dibandingkan fast fashion.

“Terkadang harga produk yang cenderung mahal itu membuat sulit didapat oleh semua kalangan,” sambungnya.

Ketertarikannya terhadap konsep ini dimulai sejak 2011. Saat itu, Safira memulainya dengan membiasakan diri membeli pakaian secondhand yang masih layak pakai. Baru pada tahun 2019, ia mulai mengonsumsi produk dari brand yang mengusung sustainable fashion. Sekali membeli outer atau blouse, Safira harus merogoh kocek sekitar Rp 375 ribu hingga Rp 550 ribu.

“Setelah berpenghasilan sendiri, baru bisa mencukupi kebutuhan tersier, seperti beli produk fashion yang ramah lingkungan. Soalnya harga yang ditawarkan juga lumayan menguras kantong. Jadi, produk yang dipunya juga sedikit tapi masih awet hingga sekarang,” ujarnya.

Ceruk Bisnis 
Menjamurnya orang meminati konsep fesyen berkelanjutan, tentu menjadi ceruk bisnis baru bagi bisnis pakaian. Selama pandemi covid-19 misalnya, semakin banyak brand beralih ke konsep ini, meski pertama kali muncul jauh sebelum pandemi menyerang. 

Ayudya Paramitha lewat brand lokal miliknya, Hlaii, melakukan ini. Ketertarikannya terhadap isu lingkungan dan dunia fesyen memantiknya menciptakan pakaian wanita dengan konsep zero waste pattern.

“Setiap satu baju itu penggunaan kainnya sampai kebutuhannya dihitung, agar tidak ada sisa limbah atau perca guntingan kecil. Misalnya, kain ukuran dua meter, ya, harus dipakai semuanya hingga benar-benar habis. Apalagi di sini produksinya dengan teknik draping, tanpa menggunting pola dan jahit,” ujarnya saat dihubungi Validnews, Kamis (20/05).

Namun menerapkan zero waste pattern tidak selalu mudah. Kesulitan bukan terletak pada proses pengolahannya, melainkan kreativitas yang harus terus menerus digali. Jika tidak, bisnis milik Ayu harus siap ditelan produk yang diproduksi massal.

“Di sini kita butuh belajar dan riset juga, agar tetap bisa mengeluarkan pattern-pattern baru,” katanya.

Kreativitas memang menjadi kunci. Andreas Bimo Wijoseno, pemilik sekaligus pengrajin brand lokal GunaGoni menjalaninya dengan upcycle. Bisnisnya ini bermula saat terkena PHK tahun 2014 lalu, dia merasa benar-benar tidak bernilai di umurnya yang tak lagi muda.

“Beberapa orang mungkin berpikir goni bekas itu hanya sebuah sampah. Namun, nyatanya goni jadi simbol sesuatu sampah yang bisa berarti lagi. Nah, saya itu ibarat sampah yang bisa berarti lagi. Semangat juang itu yang selalu suarakan agar tetap berkembang hingga sekarang,” ujarnya kepada Validnews, Senin (24/05)

Kala itu, Andreas bertekad mengubah pandangan orang lain soal goni menjadi barang yang keren dan fashionable. Goni-goni bekas disulapnya menjadi tas, topi, bantal hingga apron.

Dengan konsep upcycling itu, mudah bagi GunaGoni menempelkan label sustainable fashion pada brand-nya. Namun, Andreas memilih untuk tidak. Bagi Andreas, itu sekadar label saja. Ia tidak peduli orang mau melabeli apa, yang ia tahu, ia hanya menjadikan goni bekas menjadi berarti lagi.

“Saya lihat konsumen kurang peduli soal campaign sustainable fashion. Intinya, sebagian konsumen akan beli barang tersebut kalau desainnya keren. Ada, sih, beberapa orang yang membeli karena alasan lingkungan, seperti orang aktivis, LSM, atau sejenisnya,” jelasnya.

Euforia 
Pengamat sustainable fashion, Sadikin Gani, mengatakan perkembangan aliran ini di Tanah Air masih sangat jauh dari ideal. Hingga kini, dia menilai yang ada baru sekadar kampanye. Setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan agar sebuah brand bisa benar-benar disebut sustainable fashion, antara lain mempertimbangkan nilai kemanusiaan (sosial), lingkungan, dan ekonomi dalam tiap langkah produksi.

“Industri tersebut harus memperhatikan kehidupan para buruhnya, membayar upah secara adil sesuai dengan kinerja para buruhnya, dan terakhir tidak membebani lingkungan dengan limbah fashion. Jika ketiga poin telah direalisasikan, maka suatu brand dapat dikatakan sustainable fashion,” paparnya kepada Validnews, Kamis (19/05).


Dengan begitu, sebuah brand tidak bisa disebut sustainable semata karena material produk berasal dari bahan organik. Konsumen sering keliru dalam hal ini, kata Gani. Maka dari itu, diperlukan perubahan mindset produsen dan konsumen soal definisi sustainable.

“Mau sehebat apapun suatu brand mewujudkan sustainable. Kalau mindset konsumennya tidak sustainable, maka konsep tersebut enggak akan ketemu. Ada salah satu ahli yang bilang keberhasilan sustainable fashion itu sangat tergantung pada kesadaran konsumennya,” ujarnya.

Lebih jauh lagi, perubahan fast fashion ke sustainable fashion di Indonesia membutuhkan kesadaran dari seluruh stakeholder, mulai dari masyarakat, pemilik brand, desainer, institusi pendidikan hingga pemerintah. Oleh sebab itu, ada tiga hal yang perlu dilakukan agar sustainable fashion dapat berkembang di Indonesia.

Pertama, masyarakat membutuhkan pengetahuan dan literasi tentang sustainable fashion. Kedua, stakeholder yang mendukung penguatan cara pandang dan bisnis. Ketiga, menambah estetika dan kreativitas dalam menciptakan produk. (Chatelia Noer Cholby, Arief Tirtana)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER