Selamat

Senin, 17 Mei 2021

GAYA HIDUP

LIMBUNG RODA TERPASAK CORONA
03 Mei 2021|17:10 WIB

Awas, 'Mabuk Rumah' Akibat Kebanyakan WFH

Kita kerap tak sadari saat di rumah, karena terlalu fokus, malah sering abai untuk berkedip

Editor: Rikando Somba

ImageIlustrasi jurnalis bekerja dari rumah mengamati layar komputer saat berlangsungnya konferensi pers dari Menkumham Yasonna Laoly bersama Menko Polhukam

JAKARTA-Pernahkah Anda merasa kerap pusing, mata bengkak,  mata merah, selalu ngantuk, sering sensitif terhadap cahaya selama bekerja di rumah selama pandemi? Atau, Anda merasa pusing seperti usai menenggak banyak alkohol padahal tidak?  Kalau Anda mengalaminya berkali-kali, bisa jadi itu adalah gejala 'mabuk rumah'. Loh, apa penyebabnya? Ya, terlalu lama meeting daring dan bekerja menatap layar komputer atau laptop.

Para ahli mata jauh hari memang sudah mewanti-wanti bahwa kebanyakan memelototi layar tv atau komputer kelamaan akan berakibat 'mata kering'. Kondisi demikian jika lama dibiarkan berulang, berakibat bukan pada mata saja.  Dengan kondisi pandemi yang mewajibkan kita bekerja lebih lama di depan komputer karena agenda-agenda luring tak bisa dilakukan, pastinya 'mata kering' jadi kian berpotensi dialami.

Salah satu ahli, Orlagh Evans, mengatakan bahwa kondisi 'mabuk rumah' itu adalah kondisi yang dialami banyak orang ketika minim istirahat. Yang paling kerap dialami, adalah kesulitan bangun pagi. Individu yang kebanyakan di depan komputer atau televisi bisa mengalaminya. Mata seakan sukar diajak kompromi untuk melek. Menurut Evans, seperti dikutip dari  Independent.ie , gejala ini banyak atau umum dialami para pekerja di Irlandia selama lockdown.

"Kita kian sering menerima laporan-laporan begini sejak awal lockdown. Seperti saat ini, misalnya. Ada 12 orang yang saya periksa, dan 4 diantaranya punya gejala dan keluhan yang sama soal mata," katanya, Minggu (2/5).

Rumus Aman
Dia menguraikan, pada saat bekerja di kantor,  para pekerja biasanya bisa kurang berpotensi mengalami ini. Meski waktu kerja relatif sama dengan di rumah, tapi intensitas melihat layar komputer tidak sama. Di kantor, ada rapat dan istirahat. Sehingga, mata bisa beristirahat cukup. Sedang saat di rumah, kita kerap malah lebih fokus di depan komputer. Bahkan, makan juga di depan komputer, dan bisa rapat hingga berkali-kali secara daring.  Yang juga berpengaruh dan kita kerap tak sadari adalah saat di rumah, karena terlalu fokus, malah sering abai untuk berkedip.

Menurut penelitian ahli mata, biasanya di saat di depan layar komputer atau layar televisi, individu kurang berkedip. Setiap menitnya saat di depan layar, individu mengurangi 5 kedipan tiap menitnya. Padahal setiap berkedip, mata mengeluarkan cairan yang menjaga mata agar tak kering.

Lantas, apa yang bisa dilakukan? Nah, saran lainnya selain sering berkedip adalah selayaknya jika Anda bekerja di rumah, bekerjalah di dekat jendela.

Jadi, jika mata lelah, sesekali melihat ke luar jendela. Ya, iseng-iseng melihat ulah tetangga, atau orang lewat juga oke juga kan. Ada juga loh rumusan mudahnya. Menurut para ahli, rumusan itu adalah 20-20-20. Jadi, untuk setiap 20 menit kita di depan komputer, disarankan kita harus meluangkan waktu selama 20 detik untuk melihat sesuatu dalam jarak pandang 20 feet atau sekitar 6000 meter. 

Soal sampai kapan bekerja di rumah atau remote , menurut Microsoft, model kerja ini akan berlangsung lebih lama ke depan.  Banyak kantor akan menerapkannya dalam format kerja hybrid
Kerja secara hibrida adalah dengan menerapkan campuran bekerja di kantor dan di luar kantor.

"Kerja hibrida mendorong kita untuk mengesampingkan asumsi lama tentang bagaimana orang perlu bekerja di tempat yang sama, pada waktu yang sama, agar dapat menjadi produktif dan membawa dampak nyata. Ini adalah perubahan besar," kata Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Haris Izmee, dalam siaran pers, dikutip Sabtu.

Kerja hibrida berupa campuran model kerja, sejumlah karyawan bekerja di kantor, lainnya bekerja dari jarak jauh. Sejak pandemi virus corona, banyak perusahaan yang menerapkan metode kerja ini untuk menjaga jarak fisik dan agar kapasitas kantor tidak penuh.

Microsoft dalam laporan Work Trend Index 2021 "The Next Great Disruption Is Hybrid Work - Are We Ready? ada peluang dan tantangan dengan pola kerja hibrida, termasuk di Indonesia.

Menurut Microsoft, ada 83% pekerja di Indonesia yang menginginkan opsi kerja jarak jauh yang fleksibel. Sementara 72% pemimpin perusahaan berencana merancang ulang kantor untuk mendukung kerja hibrida.

Bahkan, metode kerja dari jarak jauh juga menjadi daya tarik bagi pencari kerja. Buat pekerja, adanya opsi kerja dari jarak jauh merupakan salah satu pertimbangan utama untuk pindah kerja.

Padahal, di saat sama, ada hal lain yang sebenarnya perlu dipikirkan. Dengan bekerja dari rumah, interaksi dengan rekan kerja menurun 40% dan beban kerja bertambah sekitar 61%.

Senada dengan yang diamati ahli mata, karyawan juga mengalami kelelahan digital, salah satunya karena intensitas dan durasi rapat.  
 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER