Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

GAYA HIDUP

10 Juni 2021|12:56 WIB

Auckland Jadi Kota Paling Layak Huni

Memiliki nilai tertinggi untuk kelima indikator

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageKota Auckland di malam hari. Pixabay/dok

JAKARTA – Sebuah kajian terbaru yang dirilis Economist Intelligence Unit (EIU) menempatkan kota Auckland, Selandia Baru, sebagai kota paling layak huni di dunia pada tahun 2021. Bersamaan, Wina, Austria yang sejak 2018 menempati posisi paling layak huni, kini hilang dari deretan 10 besar.

Survei yang dilakukan EIU mencakup 140 kota di dunia. Proses survei terhadap kota-kota tersebut berlangsung selama Februari hingga Maret 2021. Survei ini mengukur tingkat kelayakan dengan memperhatikan lima indikator, yaitu stabilitas, kesehatan, pendidikan, budaya dan lingkungan, serta infrastruktur.

Laporan ini menyebutkan, skor kelayakan hidup rata-rata global secara keseluruhan telah turun tujuh poin, dibandingkan dengan rata-rata skor pra-pandemi. Begitu juga dengan skor layanan kesehatan, yang turun sejak awal pandemi di sebagian besar kota di seluruh dunia.

EIU menganalisis sejauh mana kota-kota bisa bertahan, dengan terlindung oleh penutupan perbatasan yang ketat. Serta bagaimana pula kemampuan untuk menangani krisis kesehatan dan kecepatan peluncuran kampanye vaksinasi berperan dalam hal itu.

Hasilnya, Auckland dinobatkan sebagai kota yang memiliki nilai kelaikan tertinggi di kelima indikator tersebut. Kajian ini menganalisa, bagaimana penanganan pandemi di Selandia Baru berhasil membuat kota-kota tetap ‘hidup’, stabil dan menyenangkan bagi warganya.

"Auckland, di Selandia Baru, berada di puncak peringkat Liveability Unit Economist Intelligence, karena kemampuan kota untuk menahan pandemi virus corona (Covid-19) lebih cepat dan dengan demikian bisa melonggarkan pembatasan, tidak seperti yang lainnya di seluruh dunia,” tulis EIU dalam laporan yang diakses Kamis (10/6).

Selandia Baru disebut mampu mempertahankan teater, restoran, dan atraksi budaya lainnya tetap buka, saat negara-negara lain di dunia menerapkan pembatasan yang ketat. Siswa di kota-kota pun tetap dapat melanjutkan sekolah. Hal ini pula yang membuat Auckland menyabet skor 100% untuk pendidikan.

Enam dari sepuluh kota teratas dalam laporan EIU berada di Selandia dan Australia. EIU menilai dua negara ini memiliki kebijakan perbatasan yang ketat sehingga kehidupan di kota-kota bisa berjalan relatif lebih normal.

Adapun di Asia, kota-kota di Jepang relatif lebih mampu menahan dampak pandemi dan menjaga keadaan di kota-kota tetap normal.

Urutan 10 kota paling layak huni versi laporan EIU yakni: Auckland, Osaka, Adelaide, Wellington, Tokyo, Perth, Zurich, Ganeva, Melbourne, lalu Brisbane.

Sementara itu, banyak kota di Eropa dan Kanada yang turun peringkatnya. Tak lain akibat terjangan gelombang kedua pandemi. Sedangkan beberapa kota di Amerika, mengalami pemulihan kondisi menuju normal. Namun belum sebaik kota-kota dalam 10 daftar teratas.

EIU juga menyorot terjadinya tekanan pada sumber daya rumah sakit, terutama di sebagian besar kota di Jerman dan Prancis sehingga menyebabkan skor layanan kesehatan pun memburuk. Masalah itu juga berdampak pada budaya dan kelayakan hidup secara keseluruhan.

Dalam laporan EIU tahun ini, beberapa kota yang tercatat berada di urutan paling bawah sebagian besar berada di Asia dan Afrika. Damaskus tetap menjadi kota dengan kehidupan paling sulit karena perang, sehingga angka kelayakan hidup di kota ini adalah yang paling rendah.

Daftar 10 kota dengan angka kelayakan hidup terendah yaitu Caracas, Douala, Harare, Karachi, Tripoli, Algiers, Dhaka, Port Moresby, Lagos, lalu Damascus.

Lantas, kira-kira, di mana posisi kota-kota di Indonesia dalam survei ini? Sayangnya, tidak ada penjelasan soal kota di Indonesia dalam laporan EIU kali ini.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER