Atlet Esports; Panggung, Karier, Dan Masa Depan | Validnews.id

Selamat

Rabu, 01 Desember 2021

30 Oktober 2021|18:00 WIB

Atlet Esports; Panggung, Karier, Dan Masa Depan

Atlet esports sejatinya sama seperti profesi lainnya, punya batas usia pensiun. Ia harus bisa membayar waktunya yang tersita dengan merencanakan karier selanjutnya

Penulis: Gemma Fitri Purbaya, Andesta Herli Wijaya,

Editor: Rendi Widodo

Atlet Esports; Panggung, Karier, Dan Masa DepanIlustrasu pertandingan e-sports. Shutterstock/dok

JAKARTA – Mampu menghasilkan uang dari sebuah hobi mungkin jadi impian banyak orang. Tidak terkecuali Sakaria Hontong (23) alias Ryas. Siapa yang menyangka, jika hobinya bermain gim yang dimulai dari rental PlayStation (rental PS) di dekat rumah, berhasil mengantarnya menjadi seorang atlet esports profesional. 

Ia bercerita, saking gairahnya bermain gim, saat rental PS dekat rumahnya harus tutup, ia pun lekas beralih mencari hiburan lainnya yang tak jauh dari gim. Di sinilah ia mulai berkenalan dengan warung internet (warnet). Ribuan jam Ryas habiskan di warnet dan memainkan gim seperti Call of Duty.

Posisinya sebagai operator warnet yang digelutinya sejak kelas enam SD, dimanfaatkan betul olehnya. Ia pelajari seluk beluk gim online. Salah satu gim yang hits kala itu adalah Point Blank.

Ryas yakin dengan caranya itu, karena melihat banyak orang sukses dari bermain gim online seperti yang disaksikannya di YouTube. Dari situ tekadnya pun membulat untuk menjadi pemain gim profesional. Ditunjang berlimpahnya akses internet sebagai operator warnet, pelan-pelan kemampuannya pun meningkat.

Ia pun menjadi ‘joki’ teman-teman sebayanya yang mulai bermain gim online lewat ponsel. Saat itu, ia tak memiliki ponsel sendiri karena orang tuanya tak mampu membelikannya. Namun berkat menjadi ‘joki’, sekali rengkuh dua pulau terlampaui. Hasratnya bermain gim online di ponsel terpenuhi, uang pun mengalir ke koceknya.

"Jadi dari SD sampai naik ke SMP itu aku mulai bekerja sebagai operator warnet sampai lulus SMK. Masih main gim terus di warnet itu. Kemudian tahu kalau gim bisa menghasilkan uang (dengan jadi joki)," ceritanya pada Validnews, Jumat (29/10).

Singkat cerita, Ryas akhirnya berhasil mendapatkan gawai yang diinginkannya dan menggeluti gim PUBG Mobile, mengingat animo terhadap gim itu sedang tinggi-tingginya.

Nah, saat itulah, ia dikenalkan dengan tim Genesis Dogma yang kala itu bernama Bos Squad. Genesis Dogma melihat ada potensi professional gamers dalam diri Ryas. Mereka pun merekrutnya untuk masuk ke tim pada tahun 2018.

Tanpa pikir panjang, Ryas langsung tertarik bergabung. Apalagi mereka siap untuk mengakomodasi Ryas dengan memberikan perangkat gim yang lebih mumpuni, agar ia bisa tampil lebih kompetitif.

"Waktu itu aku di-support, dikasih device baru juga. Dengan Genesis Dogma, aku berharap banget melalui gim aku bisa membanggakan kedua orang tuaku. Soalnya pandangan saudaraku, kalau gim ini enggak bisa untuk masa depan atau bantu ekonomi orang tua. Aku mau buktiin kalau ada kemauan pasti semua bisa," cerita Ryas berapi-api.

Ryas kemudian mulai mengikuti berbagai turnamen offline lokal yang mempertandingkan PUBG Mobile. Jadwalnya pun makin padat sejak bergabung dengan tim, antara latihan dan juga ikut turnamen. Dalam kurun dua bulan, ia dengan tim sukses bisa berpartisipasi dalam PMPL (PUBG Mobile Pro League) Indonesia dan menjadi juara.

Hasil yang diraihnya buat sebagian besar orang mungkin terdengar instan. Namun dibalik itu semua, keberhasilannya ini adalah buah dari kerja keras dan ribuan jam bermain gim yang dulu dianggap buang-buang waktu oleh orang lain.

Kemenangan di PMPL pun memantapkan Ryas untuk terus berkarier sebagai atlet esports. Ia ingin membuktikan pada orang-orang, kalau atlet esports bisa menjadi sebuah profesi yang menjanjikan.

Gilanya Esports
Perjalanan hidup orang-orang seperti Ryas tentu tak akan terjadi tanpa menggilanya dunia esports itu sendiri. Ya, harus diakui, perkembangan esports di Indonesia memang terbilang pesat beberapa tahun belakangan.

Terlebih ketika KONI telah meresmikan esports sebagai salah satu cabang olahraga resmi di Indonesia. Esports sendiri sudah diperlombakan dalam Southeast Asean Games 2019 lalu di Filipina dan PON XX Papua kemarin.

Menurut Wakabid Perwasitan dan Pelatihan Pengurus Besar Esports Indonesia (PBESI) Stanley Tjia, perkembangan esports di Indonesia sebenarnya dapat dilihat lewat banyaknya turnamen esports yang sering digelar dengan berbagai jenis gim, dari yang amatir hingga ke level profesional. Meski harus diakui, gim yang paling berkembang pesat adalah gim-gim yang tersedia di ponsel.

"Yang berkembang pesat di Indonesia adalah beberapa game yang menggunakan platform mobile karena mungkin lebih mudah dibeli. Saat ini, baik pihak swasta maupun pemerintah sudah sering mengadakan turnamen esports skala nasional sehingga daya saing pemain baru yang ingin menjadi profesional sangat tinggi," ucapnya, Selasa (26/10).

Dengan perkembangannya yang cukup pesat ini, atlet esports pun kian menjadi profesi yang menjanjikan. Orang-orang yang dulu hanya bermain gim untuk kesenangan semata, kini bisa menghasilkan uang dan diakui eksistensinya sebagai atlet, karena telah menjadi cabang olahraga resmi.

Betapa tidak, untuk event-event besar sekelas SEA Games, Olimpiade, dan Asian Games dan kejuaraan berskala internasional lainnya, para atlet esports bisa mendapatkan bonus jumbo. Sama seperti atlet pada cabang olahraga lainnya.

Tidak sampai disitu, belakangan atlet esports kini bisa menerima gaji bulanan layaknya karyawan kantoran. Sama seperti atlet profesional lainnya, gaji seorang atlet esport kini makin melonjak, sejak ada proses transfer antar klub esports.

Maklum, sejumlah turnamen juga meningkatkan besaran hadiahnya. Jika di awal-awal adanya turnamen, hadiah baru berada di kisaran jutaan rupiah, kini makin banyak turnamen yang mengganjar pemenang dengan hadiah puluhan juta, ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Menggiurkan? Tentu saja. Tak heran, belakangan, makin banyak anak muda yang berbondong-bondong bermimpi menjadi atlet esports.

Ada Harga, Ada Usaha
Namun, kesuksesan atlet esports juga memiliki konsekuensi yang harus dibayar. Dengan jadwal latihan dan jadwal turnamen yang cukup padat, atlet esports seringkali harus ‘rela mengorbankan’ waktunya bersama keluarga, pacar, hingga teman, hanya untuk berlatih bermain gim secara terus menerus. Hal itu juga dirasakan oleh Ryas.

"Kita harus rela berkorban waktu untuk keluarga, pacar, teman-teman juga. Kadang di tongkrongan juga suka banyak yang nanya kenapa enggak kelihatan. Terus aku bilang enggak bisa gabung karena mau ada turnamen. Jadi, bangun tidur ya latihan untuk turnamen dengan maksimal waktu 12 jam,” papar Ryas.

Kondisi seperti inilah yang dikhawatirkan oleh psikolog anak dan pengajar di Universitas Mercubuana Tika Bisono. Ia melihat, atlet esports usia muda ini, rentan terhanyut dengan bermain gim sehingga teradiksi pada kompetisi dan gila kerja.

Dengan begitu, tugas-tugas perkembangan anak dan remaja berpotensi terganggu. Termasuk untuk berkenalan dengan lawan jenis, merencanakan masa depan dan membangun keluarga.

"Hal seperti ini tidak boleh dihilangkan gara-gara esports. Misalnya, lagi bertanggung jawab terhadap masa depan, itu sebenarnya masuk ke dalam tugas perkembangan masa remaja. Merencanakan masa depan, tugas itu enggak boleh dirusak, hanya karena dia harus bertanding (gim) terus," tutur Tika.

Ia bilang, atlet esports sejatinya sama seperti profesi lainnya. Artinya, seorang atlet esports juga mempunyai batas usia pensiun.

Meskipun belum ada aturan persis kapan seorang atlet esports untuk pensiun, kata Tika, ada baiknya mereka tetap berjaga-jaga mempersiapkan apa yang akan dilakukan setelah pensiun. Salah satunya adalah tidak dengan tidak mengabaikan tugas-tugas perkembangannya karena adiksi berkompetisi.


Pernyataan serupa diamini juga oleh Stanley. Menurutnya, pensiunannya atlet esports, bisa juga ditentukan oleh umur gim yang dimainkannya. Sementara itu, tidak ada yang tahu pasti kapan gim itu akan terus hype dan dimainkan oleh banyak orang.

Sebuah gim bisa saja tiba-tiba ‘menghilang’ karena sudah tidak laku. Inilah yang perlu dipersiapkan oleh atlet esports pada kemudian hari. Apakah memutuskan untuk pensiun atau beralih ke gim lainnya dan kembali memulai dari awal.

"Misal player-player sudah turun di gim itu, jadi fokus ke gim itu saja kan. Taunya gim itu hanya berusia dua tahun, jadi linglung kan (tidak tau harus berbuat apa lagi)? Makanya atlet yang diorbitkan oleh sebuah tim, perlu bersinar. Sehingga ketika gimnya mati, mereka bisa beralih profesi ke streamer, meski tentunya memiliki banyak hambatan," kata Stanley.

Profesi alternatif
Sebagai atlet esports muda, Ryas sendiri sadar. Ia harus memikirkan apa yang akan dilakukannya ketika pensiun menjadi atlet esports. Buat dirinya, ketika targetnya menaklukkan PUBG Mobile di Indonesia, Asia Tenggara, Asia, dan dunia, ia lebih memilih pensiun, ketimbang harus beralih ke gim lainnya.

Alasannya sederhana, ketika berada di puncak popularitas, akan lebih mudah untuknya beralih ke profesi baru yang biasa dilakukan oleh para pensiunan atlet esports. Seperti menjadi caster, streamer, atau event organizer yang bisa menggalang banyak massa untuk mendapatkan pemasukan.

“Mungkin bakal jadi streamer. Karena streamer itu sangat menjanjikan dan sudah terbukti, begitu player jadi juara dunia, bisa pergi ke streaming meskipun tidak menjadi atlet lagi,” serunya.

Ia pun yakin, tak harus berjibaku dan bersaing dengan streamer lain merebut viewers. “Karena yang dicari kan viewer dan itu tergantung kesukaan masing-masing orang. Kalau kita enggak dapat view, berarti cara kita aja mungkin yang salah," ujar Ryas dengan mantap.


Yudi Kurniawan, mantan atlet esports yang saat ini aktif sebagai Wakabid Bina Prestasi di PBESI tidak menampik hal itu. Ia merasakan, jenjang karier sebagai atlet esports saat ini sudah cukup jelas dan sangat menjanjikan.

Ketika seorang atlet esports pensiun, ia bisa memilih mau menjadi pembuat konten esports, menjadi coach, atau bergabung dalam organisasi esports untuk memajukan industri esports di Indonesia.

Yudi sendiri pensiun menjadi atlet esports beberapa tahun lalu. Alasannya karena dirinya sudah merasa cukup dengan pencapaian yang telah ia raih bersama tim.

Pernah diposisi sebagai seorang pemain, ia sudah merasakan berbagai tantangan ketika berkarier. Berbekal pengalamannya itulah, ia mantap memutuskan pensiun dan bergabung dengan Pengurus Besar Esports Indonesia (PBESI) dan Indonesia Esports Association (IESPA).

Tujuannya bergabung jelas, ia ingin agar generasi sekarang tidak mengalami tantangan yang ia rasakan ketika masih menjadi atlet dahulu.

“Di negara lain seperti China, itu mereka sudah ada sistem yang membuat esports terus regenerasi dan strukturnya sudah sangat bagus. Kalau kita kan masih gitu-gitu saja, jadi itu yang membuat saya merasa cukup dan lebih baik saya masuk ke asosiasi, agar esports di Indonesia bisa mempunyai struktur yang lebih bagus lagi,” pungkasnya.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER