Selamat

Selasa, 21 September 2021

01 September 2021|20:51 WIB

Arsitek "Kuda Jingkrak"

Sejak pertama menyaksikan perlombaan adu cepat mobil, dia sudah terpesona, dan bertekad menggapai mimpi sebagai penguasa sirkuit balapan

Oleh: Satrio Wicaksono

ImageEnzo Anselmo Ferrari. Sumber foto: Ferrari/dok

JAKARTA – Dikeluarkan dari Alfa Romeo, tidak menyurutkan semangat Enzo Anselmo Ferrari, meski telah 10 tahun berkontribusi. Perselisihan dan gaya kepemimpinannya yang otokratis, menjadi alasan pemberhentian. 

Enzo dikenal kerap memancing para pembalap naungannya, untuk saling berkompetisi. Menurutnya, tekanan psikologis bisa memberi dampak terbaik bagi prestasi mereka.

Belum genap satu tahun setelah pemecatan, Enzo membangun tim balap yang lebih kuat untuk mengalahkan Alfa Romeo. Pada 1940, bersama dengan Fiat, ia membuat dua mobil balap.

Mobil itu dikemudikan oleh dua pembalap muda, Alberto Ascari dan Marquis Lotario Rangoni Machievelli. Sayang, rakitannya menemui kegagalan. Aral tak berhenti di situ. Letusan perang Dunia II memaksa mendek pabrik Enzo, Auto Avio Costruzioni, di Maranello Italia. Agar dapur tetap mengepul, pabrik pun banting stir memproduksi mesin penggiling.

Barulah ketika perang usai di 1945, mobil pertama mulai dirancang. Juluk Ferrari disematkan pada kendaraan balap yang menggunakan mesin V12 itu.

Untuk pertama kali pada 1948, Ferrari memenangkan balapan Mille Miglia, yang kemudian diikuti keberhasilannya dalam ajang 24 Jam Le Mans, 1949. 

Bersama pembalap Alberto Ascari, Ferrari mencicil kesuksesan. Meraih podium untuk pertama kalinya di GP Inggris Formula 1, 1951. Sementara Ascari menjadi juara dunia F1 dalam dua tahun berturut-turut, setahun berikutnya.

Kegemilangan terus dijelang. Nyaris saban tahun, Ferrari mendapat kemenangan. Sebut saja, 24 Jam Le Mans, 24 Jam Spa, 24 Jam Daytona, 12 Jam Sebring, 12 Jam Bathurst, Formula 1, dan masih banyak lagi.

Ferrari bahkan menjadi tim dengan kemenangan terbanyak ketiga di Le Mans 24 Jam. Dan tampil sebagai tim yang paling banyak meraih gelar konstruktor di Formula 1 hingga saat ini, dengan perolehan 16 kemenangan.

Jatuh Cinta Pada Dunia Balap
Kegemaran dengan balapan telah dirasakan Enzo sejak masih kecil. Saat usia 10 tahun, ia dan kakaknya, Alfredo, diajak sang ayah menyaksikan balapan di Via Emilia di Bologna. Pengalaman pertama itu membuatnya takjub. Lambat laun, keinginan untuk terjun berkecimpung di industri balapan pun kian membesar.

Belum juga melangkah menggapai mimpi, di tahun 1916, keluarga Enzo didera duka. Ayah dan kakaknya meninggal dunia akibat Flu Spanyol. Enzo harus mencari pekerjaan, menjadi tulang punggung keluarga. 

Saat Perang Dunia I terjadi, Enzo bergabung menjadi tentara Italia. Sayang, ia jatuh sakit dan harus menjalani operasi. Dia pun dikeluarkan. Bingung, frustrasi, hingga ingin mengakhiri hidup, Enzo berusaha bangkit. Usai pulih, ia mulai mencoba mencari kerja di industri otomotif.

Beruntung, ia mendapatkan pekerjaan di sebuah pabrik mobil kecil di Lancia. Dia menjadi pengemudi untuk uji coba mobil, sekaligus pengantar barang. 

Tidak lama bekerja, Enzo berkenalan dengan sejawat yang sebidang tugas dengannya, bernama Ugo Sivocci.

Lewat Sivocci inilah, Enzo mulai menapak di dunia balap yang dikaguminya sejak kecil. Keduanya mengikuti balapan Targa Florio pada 1919. Meski tidak menang, penampilan mereka menarik perhatian Alfa Romeo, sebuah tim dan pabrikan mobil balap yang besar di masa itu.

Pada 1920, keduanya diminta untuk mengikuti balapan Targa Florio dengan mengemudikan mobil Alfa Romeo. Enzo sukses memenangkan di kelasnya. Ia kemudian direkrut sebagai pembalap resmi Alfa Romeo, dan dipersiapkan untuk berpartisipasi di ajang GP Prancis, tahun berikutnya.

Namun, tiba-tiba Enzo mengalami krisis kepercayaan diri. Ia merasa kurang pengalaman dan tidak mempunyai kemampuan untuk ikut dalam balapan bergengsi itu. Ia lantas memutuskan mundur dari ajang tersebut.

Beruntung Alfa Romeo tidak mendepaknya. Sebaliknya, Enzo menjalani pekerjaan lain, di bawah arahan Giorgio Rimini.

Memulai Scuderia Ferrari
Rentang tahun 1929, Enzo mendirikan Scuderia Ferrari, disponsori oleh Caniano bersaudara, Augusto dan Alfredo. Keberadaan Scuderia sendiri untuk mendampingi pelanggan Alfa Romeo, yang ingin menjadi pembalap. Sebab sejak 1925, Alfa Romeo sudah undur diri dari dunia balap. 

Dalam satu tahun, Enzo berhasil memiliki 50 pembalap di bawah Scuderia Ferrari. Mereka juga telah berpartisipasi dalam 22 kompetisi dengan meraih delapan kemenangan.

Enzo menggunakan gambar Cavallino Rampante atau kuda jingkrak, sebagai simbol perusahaan. Lambang tersebut pernah dipergunakan Count Francesco Baracca, seorang pilot Italia terkenal di masa Perang Dunia I, yang tergambar di pesawatnya. 

Enzo mengagumi sosok Baracca. Simbol tersebut kemudian dipadukan dengan latar belakang warna kuning, yang khas kota Modena. Corak lain kemudian ditambahkan. Tiga warna dalam bendera Italia diambil, yakni hijau, putih, dan merah, demi menambah kekuatan identitas pada keseluruhan logo.

Dampak dari segala kesuksesan yang diraih Scuderia Ferrari, menggerakkan Alfa Romeo untuk membentuk departemen balap, lalu memasukkan perusahaan Enzo itu ke dalamnya. Pembalap-pembalap profesional lantas direkrut. Antara lain, Giuseppe Campari, Louis Chiron, Achille Varzi, dan Tazio Nuvolari.

Suatu kali, Enzo menyarankan agar Alfa Romeo membuat mesin baru demi mendongkrak performa mobil tim balap. Namun, usulan tersebut ditolak. Insiden itu menjadi pemantik perseteruan, yang berujung pada pemecatan Enzo. 

Enggan mundur dari industri, Enzo pun mendirikan perusahaan sendiri. Ia mulai mengembangkan mobil dan membentuk tim, dengan pembalap, Alberto Ascari. Seorang kolega bernama Gioacchino Colombo, yang telah dikenal Enzo sejak berada di Alfa Romeo, diajak berkolaborasi. 

Mereka tampil mendominasi melalui Ferrari Tipo pada awal 1950-an, baik di ajang balapan jarak jauh maupun Formula 1. Meski begitu, jalan Ferrari masih belum mulus.

Ascari, yang telah mengantongi dua gelar juara dunia Formula 1 bersama Ferrari, memutuskan hengkang, dan pindah ke Lancia. Ferrari juga tengah terancam oleh tim-tim balap asal Inggris.

Pasalnya, walaupun mereka memasok mesin dari Ferrari atau pabrikan lainnya, tim asal Inggris itu dapat membuat desain chasis dan aerodinamik sendiri. Satu hal yang tidak bisa dilakukan Ferrari.

Ferrari pun memutar otak untuk memproduksi mobil dengan chasis berdesain sendiri. Usaha itu berhasil. Melalui tangan Battista Farina, satu rangkaian mobil ditopang chasis tangguh bernama Gran Turismo, sukses terwujud. 

Melalui Scuderia Ferrari, Enzo telah banyak memenangkan ajang balapan bergengsi dan membuat nama Ferrari terkenal ke seluruh dunia. Bahkan melebihi Alfa Romeo, kawan lama mereka.

Perjalanan Hingga Saat Ini
Tahun 1955 adalah mimpi buruk buat Ferrari. Mereka dikalahkan oleh tim balap dan pabrikan lain, seperti Mercedes-Benz. Di sisi lain, perusahaan itu juga mulai terlanda masalah keuangan dan mekanis. 

Keadaan yang miris itu masih dibuntuti dengan kenahasan yang lain. Sejumlah pembalap Ferrari, tewas di sirkuit. Seperti, Alberto Ascari, Eugenio Castelletti, Alfonso de Portago, Luigi Musso, Peter Collins, Wolfgang von Trips, dan Lorenzo Bandini.

Nama Ferrari pun anjlok. Bahkan, surat kabar di Vatikan, L'Osservatore Romano menyebut kalau Ferarri seperti dewa Saturnus, yang memakan anak-anaknya sendiri.

Beberapa pihak mengatakan bahwa penyebab kejatuhan itu adalah gaya manajemen Enzo yang otokratis. Namun tak sedikit pula yang menilai, rentetan insiden maut di sirkuit yang dialami Ferrari itu, karena kegagalan mesin. 

Di tengah masa kegelapan yang menggelayuti Ferrari, datang tawaran dari Ford, pada tahun 1962. Perusahaan mobil asal Amerika itu bermaksud membeli Ferrari dengan harga US$18 juta atau sekitar Rp257 miliar, agar tim dan pabrik tetap bertahan.

Namun, ada hal yang mengganjal hati Enzo. Ketika tawaran itu dibarengi dengan permintaan untuk membongkar "dapur" Ferarri selama terjun di dunia balap, khususnya di Le Mans 24 Jam.

Ferrari tegas menolak tawaran itu. Apalagi setelah Ford mengatakan, untuk bisa ikut balapan, Ferrari harus mendapat persetujuan pihak Ford. Enzo pun naik pitam.

Namun, masalah finansial semakin menjadi-jadi. Untuk tetap bisa bertahan, Ferrari hanya memproduksi mobil dalam jumlah yang lebih sedikit.

Ketika itulah, Fiat dan Gianni Agnelli datang dan menawari bantuan. Mereka membeli 50% saham Ferrari dan memberi kuasa penuh pada Enzo untuk mengelola tim balap, Scuderia Ferrari.

Berkat bantuan Fiat, Ferrari selamat dari krisis dan bisa terus mengembangkan mobil. Pada tahun 1974, Enzo memutuskan pensiun dari Ferrari, dan menunjuk Luca Cordero di Montezemolo sebagai penggantinya dalam pengelolaan tim balap F1. Meski tak aktif sehari-hari, Enzo tetap terlibat dalam setiap keputusan perusahaan.

Tahun 1988, kesehatan Enzo memburuk. Ia bahkan tidak mampu menemui langsung Paus John Paul II yang datang ke Maranello.

 Akhirnya, Enzo meninggal pada tanggal 14 Agustus tahun tersebut. Namun berita dukanya baru diumumkan dua hari kemudian.

Hingga saat ini, Ferrari tetap memproduksi mobil dan seringkali dijadikan simbol kecepatan sekaligus kemewahan. Ferrari juga menjadi satu dari sedikit brand terkuat di dunia, seperti yang dirilis Brand Finance pada 2014.

Perusahaan itu juga masih aktif mengikuti kompetisi balap, termasuk F1. Ferrari menjadi tim paling tua dan paling sukses mengikuti ajang mobil balap ban terbuka itu.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA