Selamat

Senin, 17 Mei 2021

TEKNO

04 Mei 2021|10:22 WIB

Ancaman Sunyi Gelombang Bawah Laut

Perairan Indonesia salah satu potensial gelombang internal

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Yohanes Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi gelombang laut. Pixabay/dok

JAKARTA – Beberapa kawasan perairan dalam di dunia diketahui memiliki potensi gelombang bawah laut atau internal solitary wave yang cukup besar. Gelombang ini terbentuk dengan karakteristik yang beragam. Gelombang dengan amplitudo besar disebut berbahaya bagi aktivitas penyelaman laut dalam.

Gelombang bawah laut adalah fenomena normal yang terjadi di laut dalam. Berbagai penelitian bawah laut, sejauh ini telah memberikan gambaran yang cukup banyak tentang fenomena tersebut. Namun, belum semua teka-teki gelombang bawah laut itu terjawab, misalnya, terkait kapan waktu terjadinya gelombang bawah laut.

Sebuah studi yang dilakukan angkatan laut Amerika Serikat pada 1966, berjudul “Internal Waves: their Influence Upon Naval Operations” menyebutkan, gelombang internal merupakan salah-satu fenomena bawah laut yang dapat menyebabkan tenggelamnya kapal selam.

Hal itu terjadi saat kapal tidak memiliki tenaga pendorong yang sebanding dengan kekuatan gelombang (kecepatan kapal rendah). Gelombang internal membuat kontrol kedalaman kapal menjadi sulit dilakukan. Jika dalam situasi seperti ini, kapal bisa tenggelam lebih dalam daripada kemampuan ia menyelam.

Selain itu, gelombang bawah laut dengan amplitudo tinggi juga bisa memengaruhi kemampuan sonar kapal untuk mendeteksi posisi dan areal di sekitarnya.

Studi ini menyebutkan, tingkat bahaya gelombang bagi kapal selam tergantung pada kekuatan gelombang itu. Jika gelombang itu hanya setinggi 10 kaki, tidak akan memengaruhi operasional kapal dan merepotkan kapal selam.

Karena itulah, fenomena alam bawah laut itu menjadi salah-satu perhatian angkatan laut AS sejak lama. Disebutkan dalam penelitian ini, beberapa kawasan perairan dikenal memiliki potensi gelombang internal yang tidak biasa, seperti kawasan selat Gibraltar, lalu Malaka. Namun secara garis besar, Samudra Atlantik dan Pasifik disebutkan memiliki potensi gelombang internal yang besar, mencapai amlitudo 300 meter.

Lantas, bagaimana dengan perairan Indonesia?

Kawasan perairan Indonesia juga termasuk salah satu sumber gelombang internal potensial, terutama di bagian timur. Selat Lombok adalah salah satu titik gelombang internal itu. Di bagian dalam perairan ini, terdapat potensi gelombang yang bisa mencapai amplitudo 100-200 meter.

Diketahui, Selat Lombok bersentuhan langsung dengan perairan utara Bali, tempat kejadian nahas kapal selam KRI Nanggala-402 yang tenggelam di kedalaman 800-an meter. Meski sejauh ini belum ada kesimpulan pasti terkait hubungan kapal yang tenggelam dengan fenomena gelombang besar di bawah laut.

Seperti diberitakan sebelumnya, peneliti bidang Oseanografi LIPI yang pernah mengamati perairan Bali dan Selat Lombok, Adi Purwandana menjelaskan, gelombang internal dengan amplitudo besar itu bisa menenggelamkan kapal jauh ke dasar laut.

Ia merinci, gelombang internal di Selat Lombok terbentuk karena gundukan bawah laut yang mengintervensi arus air, sehingga menciptakan gelombang yang menjalar hingga membesar. Gelombang bawah laut dengan ketinggian seperti itu terbilang ekstrem. Gelombang itu menjalar ke utara Lombok, sampai sisi utara Pulau Bali, sebelum akhirnya pecah di selatan Pulau Kangean.

"Kita harus mewaspadai bahwa di Selat Lombok ada sebuah tonjolan (gundukan) bawah laut yang kemudian bisa memicu aktivitas gelombang internal, gelombang bawah laut yang amplitudonya yang paling ekstrem bisa 100–200-an meter yang pernah diobservasi," ungkap Adi kepada Validnews, beberapa waktu lalu. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER