Selamat

Selasa, 21 September 2021

25 Maret 2021|08:55 WIB

Si Penggubah Tari Aceh

Berbekal pengetahuan seni tradisional Aceh, dia merantau ke Jakarta mengembangkan tari kreasi yang ternyata cepat populer, bahkan merajai berbagai kompetisi
ImageYusri Saleh,Seniman asal Aceh pencipta tari Ratoh Jaroe . Sumberfoto: Ist/dok

JAKARTA – Ratoh Jaroe, sebuah tari tradisional yang unik. Tercipta dan berkembang jauh dari kampung halamannya. Bukan di Aceh yang merupakan basis tradisinya, justru di Jakarta. Basis pelakonnya pun bukan orang-orang yang mengerti soal budaya, tapi kaum muda ibu kota.

Sedemikian digandrungi, tarian ini sampai menjadi ekstrakulikuler di puluhan sekolah, baik SMP maupun SMA. Sejak tahun 2000-an awal, telah menjadi bagian dari kesenian populer remaja perkotaan.

Bukti ketenaran Ratoh Jaroe terlihat pada pembukaan Asian Games 2018 silam. Ketika itu, penampilan ciamik 1.600 penari mampu memukau jutaan pasang mata. Tarian massal itu diapresiasi di mana-mana, seraya dibanggakan sebagai karya cemerlang.

Namun, di tengah gegap-gempita tersebut, tak banyak yang tahu kisah di balik Ratoh Jaroe itu. Apalagi mengenal Yusri Saleh alias Dekgam King, si pencipta tarian itu. Seorang seniman asal Aceh yang merantau ke Jakarta.

Lantas, di mana maestro itu saat maha karyanya memesona seisi penonton GBK? Dekgam berada di depan televisi. Menikmati Ratoh Jaroe yang megah dengan bahagia. Dia tidak dilibatkan jauh dalam pementasan kelas dunia itu.

"Semula, saat persiapan saya pernah diajak rapat oleh panitia pelaksana, tapi ya sampai di situ saja. Pihak panitia sudah menunjuk koreografer lain, dan saya hanya diminta untuk menyiapkan daftar pelajar anak didik kami untuk menari di kegiatan tersebut," ungkap Dekgam kepada Validnews, Senin 22 Maret lalu.

Dia berkisah panjang tentang tarian itu. Mulai dari sejarah penciptaan, dan perjuangan mengembangkannya hingga hari ini.

“Kalau bicara dulu, sedih sekali. Mulai dari untuk bertahan hidup di Jakarta, sampai untuk mengembangkan tarian tersebut," ujar Dekgam yang kini menyandang gelar 'King of Ratoh Jaroe'.

Seniman Perantau
Pada November 1999, Dekgam memutuskan meninggalkan Aceh yang saat itu masih larut dalam konflik bersenjata. Sebagai seniman tradisional, ia meratapi penyusutan ‘panggung’, semasa pertikaian berkecamuk.

Berbekal sedikit uang yang dikumpulkan dari sejumlah pementasan, Dekgam nekat merantau. Ia berangkat bersama seorang kawan, yang telah lebih dulu bekerja untuk kantor Badan Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta. Berkat kawan itu pula, dia bisa memperoleh tempat tinggal, yakni menghuni sebuah pojok ruangan di kantor tersebut.

Beruntung, langsung ada pekerjaan untuk untuknya. Namun bukan di bidang seni, melainkan sebagai cleaning service. Mencuci mobil para pejabat di kantor itu, menjadi rutinitas tambahannya.

Kesenimanan Dekgam cepat dikenal oleh orang-orang yang berkegiatan di kantor itu. Hingga suatu waktu, seorang pejabat memintanya mengajar sanggar tari tradisi asuhan Anjungan Provinsi Aceh, di Taman Mini Indonesia Indah.

Dekgam senang bukan kepalang. Dengan penuh semangat, setiap Sabtu dan Minggu, ia melatih pelajar yang tergabung dalam sanggar tersebut.

"Mulai dari situlah saya kembali beraktivitas sebagai seniman tradisional. Sabtu dan Minggu saya mengajar di sana, kalau Senin ke Jumat, saya bekerja seperti biasanya,” tutur Dekgam.

Semula, tari yang diajarkannya disebut Saman Kreasi. Gerakan-gerakannya tak jauh berbeda dengan berbagai tari tradisional Aceh lain. Seperti Ratep Meusekat, Likok Pulo, Rapai Geleng dan Ratok Batai.

Ada alasan khusus kenapa Dekgam tidak mengajarkan Tari Saman murni kepada kawula muda Jakarta. Lantaran, kebanyakan yang berminat menari, adalah kaum perempuan. Kecenderungan tersebut tak sejalan dengan pakem Saman yang lazim dimainkan oleh penari laki-laki.

Selain itu, tari kreasi bisa dibuat lebih leluasa dan dinamis, menyesuaikan semangat para pelajar. Cara ini juga menanggulangi keengganan anak-anak perempuan mempelajari tari tradisional, karena menganggapnya tidak cukup atraktif.

Dengan wawasan tarian tradisional yang dimiliki, Dekgam memadupadankan beragam gerakan menjadi sebuah tari kreasi baru. Kebetulan, dia juga seorang penabuh Rapai yang andal. Maka, unsur-unsur bunyi alat musik pukul tradisional Aceh itu dimasukkannya sebagai ciri khas tarian baru.

"Waktu itu kan modern dance sedang marak-maraknya. Nah saya berpikir, bagaimana menghadirkan tari berbasis tradisi yang menarik bagi kaum muda. Kalau tari tradisional tanpa kreasi mungkin mudah monoton. Harus ciptakan kreasi baru yang lebih atraktif, yang lebih bisa memacu semangat," Jelas Dekgam.

Jika diperhatikan saksama, tari ciptaan Dekgam itu, mirip dengan Saman. Sama-sama mengandalkan gerakan saat duduk, dipadu tepukan antartangan, dada, lutut, anggukan kepala dan ayunan tubuh bagian atas. Bedanya, kombinasi gerakan dalam karya Dekgam lebih beragam, dengan tempo lebih cepat.

Populer di Kalangan Pelajar
Singkat cerita, hasil kreasi Dekgam serta keuletan para penari di Ajungan Provinsi Aceh di TMII membuahkan hasil. Proses latihan panjang, mengantarkan mereka pada kemenangan di Festival Tari Nusantara tahun 2000. Saat bersamaan, Dekgam terpilih pula sebagai koreografer terbaik.

Tahun 2001, Dekgam mulai berkenalan dengan lingkungan sekolah umum. Ia diminta menjadi pelatih di SMA 70 Bulungan, mengajar tari Saman Kreasi. Tak genap sepuluh siswa yang minat bergabung.

Seiring waktu, kelompok tari tersebut semakin solid dan berkembang. Mereka kemudian memberanikan diri ikut lomba tari Saman Kreasi se-Indonesia pada 2003. Lagi-lagi, kelompok Dekgam keluar lagi sebagai pemenang.

Masa mengajar di SMA 70 itu menjadi titik awal perkembangan tari Saman Kreasi karya Dekgam. Lambat laun, kian banyak sekolah di Jakarta yang meminta Dekgam melatih tari.

"Masa perkembangan awalnya itu, di sekitar tahun 2004 hingga 2006. Ada sekitar 30 sekolah yang ekstrakurikuler-nya itu saya latih," cerita Dekgam.

Ada banyak faktor yang membuat popularitas tari kreasi tersebut cepat teraih. Antara lain, karena kemasannya yang selaras dengan selera kalangan pelajar.

"Karena memang tarian tradisi di Aceh sendiri banyak untuk syiar agama, banyak bermain di syair, tapi tidak banyak di ragam gerak,” jelasnya.

Tari ciptaan Dekgam harus bersaing dengan modern dance, yang kala itu sedang naik daun. Dekgam pun mesti bersiasat agar tak tersalip. Dia tak hanya memperkenalkan tarian atraktif, tapi juga menyelipkan pesan-pesan perjuangan bagi muda dalam gerakan-gerakan tubuh.

“Saya tanamkan bahwa mereka menari sebagai perempuan kuat, pejuang, perempuan yang tangguh dan tangkas, melambangkan Cut Nyak Dien,” kata Dekgam. “Jadi mereka, ketika menari tradisional pun, mereka merasa gagah,” imbuhnya lagi.

Bukan Saman
Sejak semula, tari gubahan Dekgam memang bukan Tari Saman. Lagipula, seniman kelahiran 7 Februari 1977 itu mengaku tidak sempat mempelajari mendalam mengenainya. Ditambah lagi, di Aceh sendiri, Tari Saman hanya dimainkan oleh masyarakat dari daerah Gayo.

Namun, seluruh tarian tradisional yang populer di Aceh, memiliki kesamaan. Yakni, mengandalkan ayunan serta tepukan tangan, berpadu gerakan tubuh dalam posisi duduk.

Pembeda yang mencolok hanya dari pakem masing-masing. Seperti soal penarinya. Misal Saman, yang lazim dimainkan laki-laki, sedang tarian lainnya bisa dimainkan oleh perempuan. Atau jika tarian yang satu memakai alat musik, lalu lainnya hanya memakai suara vokal para penari.

Khusus tari yang dikreasikan Dekgam, ditarikan oleh perempuan tanpa aturan jumlah. Pakemnya berbeda dengan Saman yang mesti dimainkan oleh orang-orang berjumlah ganjil.

Dari segi musik, Dekgam mengandalkan ketukan bunyi dari Rapai. Hal ini berbeda dengan Saman yang mengutamakan irama vokal dan tepukan tangan para penari sebagai pengiring. Namun, keduanya sama-sama menyertakan syair dalam tarian.

Adat berpakaiannya pun berbeda. Jika busana penari Saman cenderung seragam, dalam tarian kreasi Dekgam, pakaian mereka lebih berwarna-warni.

Dalam mencipta kreasi tari tersebut, Dekgam mengaku mengambil unsur gerakan beberapa tari tradisional yang pernah dipelajarinya saat masih tinggal di Aceh. Semuanya mirip Saman, karena itu masuk akal jika di Jakarta, tarian kreasi Dekgam juga dinamai Saman.

Pada kemudian hari, tari kreasi tersebut dikenal sebagai Ratoh Jaroe. Pemberian nama itu terjadi sekitar tahun 2009, ketika mulai banyak masukan dari sesama seniman untuk memberi nama khusus pada karya itu, sekaligus membedakannya dengan Saman.

"Sekitar tahun 2009, mulai saya dan teman-teman membahas nama untuk tarian kreasi tersebut. Sebabnya banyak juga masukan dan kritikan juga, karena memakai nama Saman tapi tariannya berbeda, memang bukan Saman sebenarnya," jelas Dekgam.

Tari Ratoh Jaroe, sebagaimana tari tradisional lain, juga memiliki makna sendiri, yang disampaikan lewat pesan-pesan Islami dalam syair pengiring. Tari itu juga merupakan interpretasi gerak atas sosok perempuan Aceh yang tangguh, kuat dan berani.

Ayunan anggota tubuh dalam tari Ratoh Jaroe lebih banyak dilakukan dalam posisi duduk. Terdiri dari tepukan dada serta paha, gelengan kepala ke kanan dan ke kiri, duduk juga berlutut, kemudian persilangan tangan antarpenari. Gerakan-gerakan tersebut bersifat sangat fleksibel, dapat diubah sewaktu-waktu oleh pengkreasinya.

Namun yang pasti, Ratoh Jaroe selalu dibuka dengan salam. Lalu disusul lantunan syair berbahasa Aceh oleh pemimpin kelompok yang serta merta disahut para penari.

Terdapat kurang lebih 10 ragam gerakan yang dimainkan dalam Ratoh Jaroe. Yakni amin, lalen, kapun laju, bungong, bedoa ilik, ja adik jak, tangan kosong, tangan kosong baru, oka-oka, dan jeumpa. Menurut Dekgam itu bukanlah pakem. Sewaktu-waktu bisa dikreasikan ulang.

“Tergantung festival. Di suatu festival itu kadang kita buat gerakan baru,” jelasnya.

Tari Urban Yang Mendunia
Perkembangan Ratoh Jaroe sejatinya tak lepas dari aneka lomba dan festival tari yang banyak digelar di Jakarta. Kompetisi-kompetisi tersebut membuat sekolah-sekolah bersemangat membentuk kelompok tari sendiri, yang giat menekuni tari tradisonal hingga kreasi baru.

Pada kemudian hari, Festival Tari Saman beralih nama menjadi Festival Ratoh Jaroe. Perubahan itu terjadi karena fakta bahwa sebagian besar peserta perlombaan yang ikut serta ternyata membawakan Ratoh Jaroe, bukan Saman. Penyebaran yang pesat ini terjadi pasca tahun 2004.

Sementara itu, karier Dekgam terus menanjak. Sekolah tempat Dekgam melatih tari, berpentas sampai luar negeri. Pada kurun tahun 2008 ke atas, kelompok asuhannya berkompetisi di negara-negara Asia, Eropa, hingga Amerika. Beberapa kali, mereka pulang sebagai pemenang. Bahkan, Dekgam kerap didapuk menjadi juri dalam ajang festival folklor dunia.

Entah siapa yang memulai, orang-orang pun kemudian memanggil Dekgam sebagai 'The King of Ratoh Jaroe'. Sebutan itu selain didasarkan pada kecemerlangan Dekgam dalam berbagai lomba Ratoh Jaroe, juga karena ia sendirilah sang pencipta tarian tersebut.

"Orang sering memanggil saya mungkin karena sering menang kompetisi ya. Maka saya dibilang orang ini pelatih termahal. Bukan saya yang minta mahal, tapi mereka bayar mahal, alhamdulillah," tutur Dekgam dengan nada bergurau.

Popularitas Ratoh Jaroe kian tak terbendung. Mulai 2010-an, boleh dikatakan tarian itu menjadi ‘mata pelajaran khusus’ di puluhan sekolah di Jakarta. Bahkan, ada siswa yang sengaja mengincar suatu sekolah, hanya karena alasan sekolah tersebut diajar oleh Dekgam King.

Dekgam sendiri masih memiliki satu harapan terkait tari Ratoh Jaroe di masa depan. Dia ingin popularitas tari gubahannya itu bisa mendunia, bahkan mampu menjadi agen diplomasi budaya.

“Ke depan, saya ingin bukan lagi hanya anak-anak Indonesia yang menari Ratoeh Jaroe, tapi anak-anak luar negeri, Timur Tengah, Afrika, dan lain-lain. Itu jalan diplomasi budaya bagi saya,” tandasnya. (Andesta Herli)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA