Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

GAYA HIDUP

13 Februari 2021|08:36 WIB

Sembuhkan Penyakit Dengan Terapi Humor

Tertawa bisa melepaskan ketegangan
ImageIlustrasi terapi tertawa untuk sembuhkan penyakit. Pixabay/dok

JAKARTA -  Tahukah Anda bahwa terapi humor atau terapi tertawa dapat menyembuhkan penyakit? Terapi yang menggunakan kekuatan senyum dan tawa ini diyakini dapat membantu penyembuhan penyakit-penyakit serius, seperti jantung atau kanker, berdasarkan National Cancer Institute. 

Penyakit kronis bisa memberikan efek negatif untuk mood dan perilaku seseorang, sementara itu bisa menyebabkan penyakit menjadi bertambah buruk. Sehingga adanya terapi humor diharapkan bisa membantu menghilangkan perasaan-perasaan negatif seperti itu. 

Dikutip dari laman Michigan Medicine University of Michigan, para peneliti pun telah banyak melakukan berbagai studi yang mengaitkan antara pikiran dan tubuh dan menemukan bahwa tertawa bisa mengubah senyawa di otak yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Itu karena tertawa dapat memicu pelepasan endorfin, hormon yang menghilangkan rasa sakit alami di tubuh.

Selain itu, berbeda dengan jenis terapi lainnya, terapi humor bisa diterapkan tanpa harus dalam bentuk formal seperti berada di klinik. Terapi humor bisa dilakukan oleh setiap individu di mana saja dan kapan saja sehingga menjadi solusi yang praktis untuk memperbaiki mood dan membantu proses penyembuhan.

“Karena, dengan membaca atau mendengarkan banyak humor yang lucu akan memancing kita untuk tertawa dan tersenyum. Atau memaksa kita untuk tersenyum sejenak. Derai tawa dan sesungging senyum ini bisa jadi akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang mahal,” kata Bambang Suryadi, Ph.D dikutip dari bukunya Humor Therapy.

Lantas bagaimana cara pengaplikasian terapi humor ini? Bambang membeberkan ada tiga cara, yaitu aplikasi terapi humor secara individu dan kelompok, menyingkirkan emosi negatif, dan tersenyum saat menghadapi masalah. Terapi humor secara individu dapat dilakukan dengan membaca buku-buku humor atau menulis tentang humor dari peristiwa dan kejadian sehari-hari yang membuat diri sendiri menjadi tertawa geli atau tersenyum sendiri. 

Sementara, pada kelompok 2 terapi humor bisa diterapkan baik dalam cara formal atau informal yang melibatkan banyak orang. Humor juga bisa menjadikan bahan obrolan sesama anggota keluarga atau teman pada saat santai.

Selanjutnya, singkirkan emosi negatif karena memelihara emosi negatif malah dapat membuat diri semakin hari semakin sedih. 

"Pikiran-pikirann yang tidak berdasar apa pun hendaknya dihilangkan, agar tidak mengganggu kesadaran dalam benak paling dalam,” timpal Bambang. 

Perasaan yang negatif dapat bisa menimbulkan perasaan depresi, tekanan batin, kecemasan, dan jug kemuraman yang dapat mengganggu sirkulasi sel-sel darah dan jaringan di dalam tubuh. Sisihkan tekanan-tekanan psikologis yang menjadi hati tidak nyaman karena apabila dirasakan berulang-ulang dalam waktu lama dapat memperburuk kesehatan fisik dan menimbulkan suatu penyakit.

Untuk itu, tersenyum saat menghadapi masalah namun sebisa mungkin tersenyum dan tertawa dengan cara yang wajar dan tidak dipaksakan seperti misal ada sesuatu ganjil dan menerjang logika umum. Saat tersenyum, maka ada dorongan terjadinya relaksasi dan ketika tertawa dapat menghilangkan ketegangan.

“Kalau mereka terpaksa tersenyum atau tertawa itu masih lebih baik daripada berwajah murung dan cemberut. Itu akan menjadikan tubuh kita lebih baik dan sehat,” tulis Bambang. Henri Rubinstein, peneliti dan pakar neurologi asal Prancis pun menemukan bahwa setiap kali tertawa selama satu menit dapat memberikan dampak relaksasi selama 45 menit.

Meskipun terapi humor baik untuk kesehatan dan pengobatan terapi untuk pasien dengan penyakit serius dan kronis, tetap ikuti terapi konvensional atau terapi lainnya sesuai dengan arahan dari dokter. 

Walaupun terapi humor ini aman dilakukan, tetapi masih belum dianjurkan seseorang yang melakukan pengobatan hanya bergantung pada terapi humor. (Gemma Fitri Purbaya)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA