Selamat

Selasa, 21 September 2021

30 Maret 2021|10:57 WIB

Ruth Handler, Perajut Semangat Pasien Mastektomi

Aneka kepahitan yang dialami sebagai pengidap kanker, telah melecutnya untuk membantu sesama penyintas, bangkit dari keterpurukan.
ImageRuth Marianna Handler. Sumberfoto: Ist/dok

JAKARTA – Awal tahun 1970-an, menjadi masa-masa yang cukup berat bagi Ruth Handler. Di samping bisnis perusahaan mainannya, Mattel, sedang mengalami krisis, masalah pribadi juga mendera. Dia divonis mengidap kanker di payudara sebelah kanan.

Kabar itu sontak membuat perasaannya runtuh. Belum lagi saat dokter menganjurkannya untuk melakukan mastektomi, atau pengangkatan payudara. Sebab hanya itulah langkah jitu untuk menangkal penyebaran penyakit ke bagian tubuh lainnya.

Meski berat, Handler menyetujui. Tak berselang lama, operasi lantas dilangsungkan.

Namun, ternyata dirinya belum benar-benar siap mental. Tak hanya luka fisik, emosinya juga menjadi tak stabil akibat kehilangan satu sisi payudara.

Dalam secarik catatan, dia merasa tak utuh lagi sebagai perempuan. Kepercayaan dirinya ambruk, kesedihan mendalam pun berlarut-larut menyiksa.

Sampai-sampai, dia mengurung diri selama beberapa waktu, hanya untuk menangis. Tak ada hasrat untuk berjumpa dengan orang lain. Meski berkali mencoba bangkit, namun selalu gagal.

"Saya tidak bisa berhenti menangis dan beranjak dari tempat saya. Saya selalu bisa mengatur hidup saya dengan baik, tetapi ini tidak bisa saya atasi," ungkapnya pada tahun 1988.

Karena Sakit Hati
Makin lama, Handler sadar, keterpurukan itu tidak bisa dibiarkan memanjang. Ia harus pulih, membangun kembali kepercayaan diri. Akhirnya, dia memutuskan untuk menggunakan payudara palsu.

Sayangnya, dari sekian banyak percobaan, tak ada yang dirasa cocok. Selain berat, bentuknya juga terlihat aneh. Ketika dikenakan, bukan terlihat wajar, malah membuat dadanya tampak janggal.

Belum lagi dengan perlakuan pelayan toko payudara palsu yang tidak menyenangkan. Barang itu dilemparkan, bukan diserahkan baik-baik! Lebih malang lagi, Handler sama sekali tak dibantu saat mengenakan. Alih-alih kian percaya diri, Handler justru dirundung malu dan sakit hati. Dia merasa seperti direndahkan.

Rentetan kejadian pahit yang dialami, melecut Handler untuk melakukan sesuatu. Dia merasa perlu membuat produk payudara palsu sendiri yang terlihat alami, serta nyaman dikenakan. Termasuk, merintis layanan ramah, untuk membantu para penyintas dalam mencoba dan memilih peranti pengganti itu.

Hari demi hari berlalu. Sebagai pengusaha mainan, tentu tak sulit baginya untuk terhubung dengan orang-orang yang berkecimpung di bidang mode. Alhasil, dia bertemu dengan Peyton Massey, seorang desainer yang bersedia membantu merancang payudara palsu.

Kerja sama pun dijalin. Mereka mencari tahu cara pembuatan yang berkualitas dalam jumlah banyak.

Paling tidak, butuh waktu sekitar dua tahun untuk riset. Busa dan silikon dipilih sebagai bahan dasar, sebab ditimbang paling aman dan nyaman kala diterapkan ke tubuh. Terlihat seperti buah dada sungguhan, ringan pula.

Sejak itu, Handler mulai menggelar promosi produk payudara palsu itu, dengan merek Nearly Me. Tak tanggung-tanggung, iklan dilancarkan masif, melalui televisi, koran setempat, dan poster di pusat-pusat perbelanjaan. Tujuannya, agar banyak penyintas kanker payudara yang mengetahui produk tersebut.

Tim marketing disebarnya ke berbagai penjuru. Tak hanya mendemonstrasikan bagaimana cara mengenakan payudara palsu, juga memberikan dorongan semangat, agar kepercayaan diri para penyintas kembali tumbuh.

"Emphasis pada payudara di masyarakat kita sangat besar, bahkan terkadang citra perempuan tentang diri mereka, betapa seksi mereka, betapa cantiknya mereka, tergantung pada payudara. Saya merasakan ini, ketika payudara saya hilang, saya merasa kurang utuh sebagai perempuan," ucap Handler, dalam kutipan New York Times tahun 1977.

Seiring perkembangan usaha pembuatan payudara palsu, Handler pun banyak bepergian untuk memberikan advokasi dan edukasi soal deteksi dini kanker payudara. Waktu itu, hanya sedikit orang yang membicarakan mengenai kanker payudara.

Handler juga merangkul orang-orang penting yang juga penyintas kanker payudara untuk berjuang bersama menebar informasi seluas mungkin. Satu di antaranya, Betty Ford, mantan ibu negara Amerika Serikat.

Kegigihan Handler itu, menuai simpati dari berbagai kalangan. America Cancer Society pun menganugerahinya penghargaan Volunteer Achievement Award. Handler juga menjadi orang pertama yang meraih Woman of Distinction dari United Jewish Appeal.

Cikal Bakal Barbie
Jauh sebelum didiagnosis kanker payudara, Ruth Handler sudah mendulang kesuksesan lewat Mattel. Perusahaan mainan tersebut didirikan tahun 1945, bersama suaminya, Elliot Handler, rekannya, Harold Matson.

Sebelumnya, Handler dan suaminya memiliki perusahaan yang menjual bingkai foto dan peralatan rumah boneka. Mereka kemudian berekspansi mendirikan Mattel, dengan meluncurkan satu mainan fenomenal: Barbie.

Boneka berbentuk perempuan dewasa bertubuh ideal dengan rambut pirang dan mata biru itu, berhasil menjadi mainan populer yang mendunia. Gagasan pembuatannya sendiri muncul dari peristiwa sederhana. Suatu kali, Handler mendapati anak perempuannya, Barbara, tengah bermain boneka kertas berbentuk mirip anak remaja atau orang dewasa, lengkap dengan pakaian dan aksesoris yang bisa dikenakan.

Handler tergerak untuk merekayasa boneka tersebut ke dalam bentuk tiga dimensi. Namun ide tersebut ditolak oleh eksekutif Mattel. Alasannya, ragu mainan tersebut akan laku terjual karena dianggap kurang pantas. Mereka berpendapat, tidak ada orang tua yang mau membeli mainan miniatur perempuan. Niat Handler untuk memproduksi pun diurungkan.

Lain waktu, saat bepergian ke Eropa, Handler menemukan sebuah sex toy bernama Lilli di Jerman. Ide membuat Barbie kembali muncul. Ia lantas membawa Lilli ke Mattel, seraya mengungkit lagi konsep boneka mainan berbentuk perempuan. Dengan berbagai upaya, ia meyakinkan para eksekutif, bahwa produk tersebut ramah anak dan akan laku di pasaran.

Akhirnya, pada tahun 1959, Boneka memulai debut di pasar Amerika Serikat, yakni di American Toy Fair. Saat itu, boneka molek itu tampil dengan rambut dikuncir, mengenakan bathing suit bercorak zebra, berpadu sepatu stiletto tinggi. Hadir dengan konsep ‘Barbie Teen-Age Fashion Model’.

Seketika, Barbie menjadi tenar. Lebih dari 350 ribu boneka terjual di tahun pertama. Awal 1960-an, pendapatan Mattel melonjak hingga US$100 juta, dengan sebagian besar berkat Barbie.

Handler kemudian meragamkan versi Barbie dengan memperbanyak pernak-pernik yang melekat di boneka itu. Seperti pakaian, serta aksesoris lain. Bahkan, dibuat pula ‘kekasih’ Barbie: Ken dan teman-temannya. Kesuksesan Handler makin tak terbendung.

Gambaran Keberagaman Perempuan
Di tengah kemasyhuran, beberapa kali Barbie tersandung masalah. Bentuk fisik boneka yang sangat ideal dengan paras cantik itu menimbulkan kontroversi.

Meski mustahil, banyak orang yang berambisi memiliki tubuh indah seperti boneka tersebut. Sebut saja, Cindy Jackson, seorang penggemar yang rela menjalani 20 kali operasi plastik, hanya demi terlihat serupa Barbie.

Jurnal Developmental Psychology pada 2006 pun menemukan, anak perempuan yang bermain Barbie pada usia muda memiliki kecenderungan untuk menjadi kurus, dibandingkan dengan sebaya yang tidak memainkannya.

Namun, Handler sebenarnya memiliki filosofi tersendiri soal Barbie. Lewat boneka itu, dia ingin menyampaikan, anak-anak perempuan bisa menjadi apapun yang mereka inginkan.

Barbie menjadi perlambang untuk perempuan-perempuan pemberani yang tegas menyikapi pilihan hidup. Seperti Handler yang ulet kuliah hingga lulus pada tahun 1963. Satu kesempatan langka di masa itu, sebab belum banyak perempuan bisa bebas mengenyam pendidikan tinggi.

Selaras zaman, Barbie pun digambarkan dengan aneka tamilan. Sebagai ahli bedah, business executive, pilot pesawat, hingga kandidat presiden. Termasuk berbentuk astronaut, untuk merayakan Sally Ride, sebagai perempuan Amerika Serikat pertama yang mengikuti misi luar angkasa di 1983.

Demi menjawab segala kontroversi, di tahun 2016, Mattel mulai memperkenalkan Barbie dengan lebih banyak bentuk tubuh. Dari yang bertubuh tinggi, kecil, sampai sintal berlekuk. Sekaligus pula, menampilkan lebih banyak pilihan warna kulit serta rambut.

Perwakilan Mattel saat itu, Michelle Chidoni menjelaskan, mainan baru tersebut bisa menjadi refleksi yang lebih baik bagi anak-anak. Tidak hanya memberi gambaran keberagaman perempuan, tetapi bisa membantu mereka mengembangkan pikiran positif dan realistis mengenai bentuk tubuh.(Gemma Fitri Purbaya)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA