Selamat

Senin, 17 Mei 2021

GAYA HIDUP

17 April 2021|18:00 WIB

Ramadan Dan Kehangatan Lintas Iman

Realitas guyub dan rukunnya warga bangsa di bulan Ramadan sejatinya kerap terlihat dimana-mana.  
ImageIlustrasi makanan untuk berbuka puasa. Shutterstock/dok

JAKARTA – Ini adalah kali kedua bagi Septianita, menjalankan Ramadan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta. Sebagai relawan tenaga kesehatan, panasnya balutan hazmat tidak disambatkan saat berpuasa.

Sebaliknya, dia memandang itu sebagai ujian dalam menunaikan ibadahnya. Demi nama kemanusiaan, keikhlasan adalah suatu keharusan.

Bagi Nita, sapaan akrab Septianita, Aula Tower 3 di rumah sakit itu menjadi ruang yang "hangat" selama Ramadan. Ruangan itu menjadi tempat untuk berbuka bersama, setelah seharian menahan lapar dan haus. Ruangan yang sama menjadi tempat tanpa sekat apapun, terlebih dalam hal agama. Aula tersebut layak disebut manifestasi kebhinekaan Indonesia.

"Saat puasa, sering ada semacam buka bersama. Yang enggak puasa, ada juga yang ikut buka bersama, sahur bersama," ucapnya kepada Validnews, Rabu (14/4).

Tak perlu gembar-gembor, kehidupan yang saling menghargai tergambar jelas di sana. Sederhananya, yang tidak berpuasa juga ikut menahan diri, tanpa diminta, dan tanpa diingatkan.

"Intinya, teman-teman non-muslim itu menjaga kita juga. Sampai waktu salat, mereka selalu ingetin," tuturnya.

Dia bercerita, di Wisma Atlet, tidak ada yang mempermasalahkan perbedaan identitas keagamaan. Semua saling bersahabat dan fokus pada tugas bersama merawat mereka-mereka yang terpapar hingga paripurna.

Hadirnya bulan suci Ramadan, juga ikut dimaknai oleh mereka yang non-muslim. Adalah Ketut Ayu Lestari. Ayu adalah seorang perawat yang berasal dari salah satu rumah sakit di kawasan Jakarta Timur. Dia beragama Hindu.

Bagi Ayu, Ramadan menjadi momen untuk mempertebal rasa persaudaraan dengan teman-temannya yang beragama Islam. Kebersamaan dan solidaritas tak cuma dilakukan di lingkup kerja, tapi juga di kontrakan, tempat dia tinggal. Hal yang dilakukannya terhadap mereka yang berpuasa bukan lah hal mewah atau sesuatu yang besar. Namun jelas, itu bermakna. Dengan ringan tangan, Ayu kerap menyiapkan santapan sahur dan berbuka puasa untuk teman-temannya.

"Ayu itu keren orangnya. Kalau pas sahur atau buka puasa sering dimasakin sama Ayu," cerita Novita, teman Ayu.

Melalui kerja sama itu, Ayu dan Nita serta kawan-kawannya lintas iman, menumbuhkan imaji suatu persahabatan lintas kepercayaan yang begitu kuat dan harmonis. Perbedaan agama tidak relevan untuk dipermasalahkan. Tak ada yang lebih penting dari bertoleransi.

Ramadan dan Toleransi
Realitas guyub dan rukunnya warga bangsa pada bulan Ramadan sejatinya kerap terlihat dimana-mana. Gereja Keluarga Kudus Rawamangun punya tradisi yang unik soal ini.

Setiap Ramadan, Gereja Katholik ini mengadakan kegiatan buka bersama hingga tausiyah di aula Gereja. Ustaz dan umat Islam sekitar menjadi tamu undangan rutin. Namun dua Ramadan terakhir, kebiasaan itu harus ditiadakan. Pandemi mengharuskan semua orang untuk berkomitmen terhadap protokol kesehatan yang salah satu isinya yaitu menghindari kerumunan massa.

Pastor Kepala Paroki Gereja Keluarga Kudus, Romo Yulius Edyanto memastikan, pandemi tidak bisa menghentikan semangat kebersamaan lintas umat yang telah dijalankan sejak lama. Hanya saja, semangat kebersamaan itu kini harus diekspresikan dalam bentuk-bentuk yang baru.

"Saya pikir toleransi itu tidak tergantung situasi pandemi. Justru pandemi ini undangan bagi kita untuk semakin meningkatkan toleransi antara umat beragama,” ucap Romo Edy kepada Validnews via telepon, Selasa (13/4).

Salah satu ekspresi persaudaraan dan silaturahmi masa bulan puasa ini salah satunya ditunjukkan lewat spanduk terbentang di depan gereja. Spanduk ucapan selamat Ramadan itu menunjukkan tanda betapa gereja ikut berbahagia dengan kehadiran bulan suci umat muslim.

Sebagai pengganti kegiatan buka bersama di gereja sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini, Gereja Kelarga Kudus memutuskan membagi-bagikan makanan berbuka puasa secara langsung kepada warga sekitarnya.

"Kami juga terbiasa memberikan bingkisan lebaran untuk warga yang tidak mampu yang merayakan lebaran. Karena saat ini masa pandemi, banyak yang terdampak, mungkin akan kita perbanyak kuotanya,” tuturnya.

Romo  Edy menekankan, momen Ramadan patut dimanfaatkan dengan saling membantu dengan menghilangkan semua batas-batas keagamaan.

Pandangan serupa juga diungkapkan Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP, Romo Benny Susetyo. Terlepas konteks Ramadan, pandemi telah mempertebal solidaritas dan toleransi masyarakat lintas umat. Di setiap komunitas masyarakat, saling bahu-membahu menolong mereka yang terdampak, tanpa mempermasalahkan perbedaan agama.

"Artinya, kalau terdampak itu solidaritasnya begitu kuat di antara warga. Masing masing giliran antar makanan. Kemudian monitor perawatannya bagaimana. Itu ada kesadaran," katanya.

Keniscayaan
Apa yang tergambar dari banyak kegiatan umat non-muslim mendukung saudaranya yang muslim diartikan sebagai identitas Indonesia. Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Ustaz Didin Hafidhuddin berpandangan, toleransi adalah suatu keniscayaan. Maka dari itu, ia mengajak seluruh umat Islam di Tanah Air memanfaatkan momen bulan suci untuk meningkatkan nilai toleransi di kehidupan bersama.

Ia mengatakan, Islam mengajarkan toleransi kepada para pemeluknya, terhadap umat dari agama lainnya. Perintah itu jelas terlihat dalam surat Al Kafirun, surat ke 109 dalam Alquran.

"Toleransi kan suatu keniscayaan, suatu bagian dari ajaran agama. Orang Islam itu sangat toleran. Karena toleransi itu bagian dari akidah, bagian dari keyakinan. Toleransi antar umat beragama harus terjadi, Allah sudah menyatakan," jelas Didin.

Didin mengingatkan, toleransi adalah sikap menghargai adanya perbedaan. Ia mewanti-wanti agar masyarakat tidak salah memahami perihal toleransi tersebut. Perbedaan-perbedaan itu, tekannya, untuk dihargai, bukan untuk dipersamakan atau dipaksakan untuk sama satu sama lain.

Di sisi lain, Didin juga mengimbau kepada umat muslim agar menjalankan ibadah Ramadan dengan khusyuk, terus menjalin silaturahmi antar sesama masyarakat. Pandemi, semestinya bukan menjadi tak menghambat umat muslim untuk melakukan berbagai ekspresi kebersamaan, kekompakan dan saling berbagi saat Ramadan.

"Saya kira banyak sesuatu yang bisa kita lakukan, tak perlu dipersulit. Sulit itu karena kita mempersulit diri, melakukan sesuatu yang bukan bagiannya," pungkasnya. (Andesta Herli)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER