Selamat

Senin, 17 Mei 2021

VISTA

21 April 2021|22:03 WIB

Perempuan Pengulik Dasar Teknologi Nirkabel

Selain cemerlang sebagai aktris film, dia juga seorang saintis mumpuni, yang berhasil merintis inovasi berpengaruh bagi kehidupan masa depan
ImageHedy Lamarr. Sumberfoto: Wikipedia/dok

JAKARTA – Langit Pearl Harbour memerah gelap. Asap membumbung pekat dari kobaran api yang melantakkan tangsi-tangsi pangkalan militer Amerika di Hawai itu, usai dibombardir dari udara oleh pasukan Jepang.

Peristiwa tersebut sungguh tak terduga. Sebab sejak awal berkecamuk pada 1939, Amerika bersikap netral pada Perang Dunia II. Namun, serangan mendadak pesawat-pesawat tempur Dai Nippon pada Minggu pagi 7 Desember 1941 itu, telah mengubah sikap negara itu. Amerika akhirnya memutuskan terlibat, bergabung bersama Inggris dalam blok sekutu.

Semangat membela tanah air pun merebak di antara warganya. Sebagian besar merasa terpanggil untuk maju ke garis depan. Orang-orang dari berbagai kelas sosial mendaftarkan diri dalam program wajib militer. Termasuk, Hedy Lamarr, seorang aktris, produser film, sekaligus saintis kelahiran Austria yang meniti karier di Amerika. Lamarr ingin melakukan sesuatu, agar tidak ada lagi ada orang terbunuh, dan perang segera berakhir.

Kesempatan bergabung itu akhirnya datang. Namun bukan menjadi prajurit di medan laga, melainkan sebagai ilmuwan. Dia membantu angkatan laut, mencari cara untuk mengontrol torpedo menggunakan gelombang radio.

Lamarr pun merekrut George Antheil, seorang komposer yang ia temui di MGM Studios, untuk menuntaskan tugasnya. Sebuah gagasan besar sudah dipikirkannya, yakni menciptakan sebuah sistem komunikasi rahasia.

Dia ingin membangun sistem yang secara konstan mengubah frekuensi. Membuat segala pesan yang dikirimkan untuk melontarkan torpedo lebih stabil dan sulit terlacak musuh. Konsep ini lazim dikenal dengan lompatan frekuensi.

Awal Mula
Hedy Lamarr terlahir di Wina, Austria pada 9 November 1914, dengan nama asli Hedwig Eva Maria Kiesler. Sejak umur 4 tahun, dia sudah belajar secara privat.

Saat berusia 10 tahun, Lamarr sudah sangat cakap bermain piano, menari, dan berbicara empat bahasa. Kejeniusan tersebut menurun dari sang ayah yang berprofesi sebagai direktur bank.

Sejak kecil, Lamarr kerap diajak berdiskusi soal cara kerja mesin. Seperti mesin cetak atau mobil yang melintas di jalan.

Asupan pengetahuan itu lantas mengiringi pertumbuhan, sekaligus menguatkan rasa ingin tahunya. Sampai-sampai, ketertarikan untuk menciptakan sesuatu sudah muncul saat Llemar berusia 5 tahun.

Kotak musik yang ada di rumahnya, dibongkar, kemudian dipasang kembali. Lamarr kecil hanya ingin tahu cara kerjanya.

Pada usia remaja, gadis itu memilih masuk ke sekolah drama, Max Reinhardt Berlin. Pilihannya tepat. Tak lama kemudian, dia debutnya, membintangi "Money on the Street" pada 1930.

Kecakapan berakting tersebut, membawa Lamarr pada film selanjutnya, Ecstasy. Namanya meroket, akibat penampilan yang vulgar. Lamarr berani tampil telanjang dan tak segan berakting orgasme, meski saat itu masih sangat tabu.

Namun keseronokan itu justru membuat banyak pria jatuh hati. Satu di antaranya adalah Fritz Mandl, seorang pengusaha pabrik amunisi. Mereka pun menikah, tapi tak berlangsung lama.

Sikap posesif Mandl menjadikan karier film Lamarr tersendat. Kehidupannya berubah. Lamarr dipaksa mengikuti seluruh agenda suami. Lebih-lebih, Mandl melarang Lamarr berakting. Bahkan ia berusaha membeli seluruh film Ecstasy di pasaran untuk dihancurkan.

Sebagai seorang pengusaha pabrik amunisi, Mandl memiliki banyak klien kelas dunia. Sebut saja, Adolf Hitler dan Benito Mussolini. Mau tidak mau, Lamarr harus mendengarkan segala percakapan mereka.

Imbasnya, pengetahuan soal teknologi militer didapat tanpa harus bersekolah, atau menjadi tentara

Muak dengan kesumpekan rumah tangga dan percakapan tentang perang yang memuakkan, Lamarr pun nekat melarikan diri. Dia benar-benar ingin terlepas dari cengkeraman suaminya yang posesif.

Meraih Mimpi di Hollywood

Lamarr berlabuh ke London. Keberuntungan menyertai dirinya di kota itu. Ia bertemu dengan Louis B. Mayer, seorang profesional dari MGM Studios. Dari pertemuan itu, Lamarr diajak untuk berakting di Hollywood.

Ini menjadi peluang besar baginya untuk memulai lagi karir akting. Di negeri Paman Sam, Lamarr mampu menyihir audiens dengan kecantikan, keeleganan, dan keunikan aksennya. Sampa-sampai, seorang pengusaha bernama Howard Hughes terjerat pesonanya. Singkat cerita, mereka berkencan.

Hubungan kali ini, Lamarr lebih berhati-hati, agar tak mengulang kehancurannya di masa lalu. Dia tak menampilkan pribadi keaktrisannya yang serba glamor, melainkan menghadirkan diri sebagai saintis yang gandrung dengan ide-ide terobosan baru.

Beda dengan Mandl, Hughes malah semakin tertarik mendukung semangat inovatif dalam diri Lamarr.

Misalnya, memberikan seperangkat alat eksperimen, yang diletakkan dalam mobil trailer, sehingga bisa digunakan saat berada di lokasi syuting. Atau, mengajak Lamarr mengamati proses pembuatan pesawat terbang di pabrik miliknya. Di sana, Hughes juga memperkenalkan Lamarr kepada para ilmuwan.

Suatu waktu, Hughes ingin menciptakan pesawat yang lebih cepat, agar bisa dijual ke militer Amerika Serikat. Lamarr diminta meneliti teknologinya. Dia lantas mempelajari perawakan serta gerak-gerik burung juga ikan, sehingga mampu tangkas meluncur.

Inspirasi dari dua hewan beda habitat itu, membawa Lamarr pada temuan baru. Dengan menggabungkan sirip ikan dan sayap burung, dia pun membuat desain baru untuk model sayap pesawat berkecepatan tinggi yang akan diproduksi Hughes.

Andil Dalam Perang
Ketika perang dunia II semakin berdarah-darah, Lamarr mulai mempertimbangkan keikutsertaannya, untuk bergabung dengan blok sekutu.

Dalam buku Hedy’s Folly: The Life and Breakthrough Inventions of Hedy Lamarr, penulis Richard Rhodes menulis, kalau perang tersebut memicu Lamarr mencari cara agar bisa membantu menuntaskan. Apalagi saat negara kelahirannya, Austria, membantu Jerman menyerang kapal Inggris yang berisi anak-anak pengungsi, menggunakan torpedo. Keprihatinan Lamarr tambah menjadi-jadi.

Saat itulah, sebuah jalan terbuka. Ketika angkatan laut sedang kesulitan mengontrol torpedo mereka, Lamarr bekerja sama dengan Antheil untuk menciptakan teknologi baru tersebut.

"Hedy bilang kalau ia merasa tidak nyaman. Duduk di Hollywood dan menghasilkan banyak uang, ketika perang sedang terjadi," kata Antheil dikutip dari Womenshistory.

Lamarr menyumbangkan ide lompatan frekuensi. Sementara, Antheil dengan pengalamannya sebagai komposer dan pianis, dia merancang cara menyinkronkan frekuensi radio yang berubah dengan cepat.

Sebenarnya, konsep tersebut tidak baru. Jauh sebelum mereka, Nikola Tesla pernah menyinggung lompatan frekuensi seperti itu pada tahun 1900 dan 1903, namun belum terwujud.

Rancangan Lamarr dan Antheil berhasil terbangun dan mendapatkan hak paten pada 1942. Namun karya keduanya ditolak angkatan laut Amerika Serikat, saat diajukan. Alasannya, teknologi itu diciptakan oleh rakyat biasa, bukan ilmuwan atau ahli mesin resmi.

Pihak angkatan laut juga menilai, karya Lamarr dan Antheil tersebut terlalu rumit. Bahkan ada yang menyebut kalau teknologi yang mereka ciptakan terlalu maju untuk zaman itu.

Untuk sementara, penemuan itu mubazir. Lamarr pun melanjutkan karier sebagai seorang aktris Hollywood, tanpa pernah menengok kembali penemuannya itu. Baru ketika pertengahan 1950-an, ide Lamarr dilirik oleh sejumlah pihak, termasuk angkatan laut.

Mereka menggunakan konsep Lamarr untuk membuat sonobuoy, yakni sensor dalam air untuk mendeteksi kapal selam musuh, yang dapat dijatuhkan dari pesawat udara. Semenjak itu, desain Lamarr digunakan sebagai batu loncatan untuk ide-ide yang lebih besar.

Pada kemudian hari, teknologi lompatan frekuensi itu menjadi komponen inti pada sistem komunikasi tanpa kabel. Melaluinya, seseorang bisa berkomunikasi secara terus menerus tanpa gangguan sinyal. Itu juga menjadi dasar pengembangan jaringan seperti GPS, Bluetooth, hingga wi-fi.

"Berkat penemuan lompatan frekuensi Lamarr dan Antheil, banyak pengaplikasian spektrum yang lebih luas pada teknologi. Istilah yang lebih luas untuk komunikasi tanpa kabel menggunakan sinyal yang bervariasi, termasuk Bluetooth, wi-fi, dan GPS,” kata Joyce Bedi dari Smithsonian’s Lemelson Center for the Study of Invention and Innovation dikutip dari Smithsonian.

Meski begitu, baik Lamarr dan Antheil sama sekali tidak pernah menerima kompensasi atas penggunaan konsep mereka. Padahal, diperkirakan nilai penemuan itu bisa mencapai US$ 30 miliar.

Lamarr meninggal dunia pada tahun 2000. Ia mendapatkan penghargaan bersama Antheil dalam Pioneer Award di 1997. Dia juga perempuan pertama yang menerima penghargaan dari Invention Convention’s Bulbie Gnass Spirit of Achievement Award.

Nama Lamarr pun diabadikan dalam National Inventors Hall of Fame berkat pengembangan lompatan teknologi yang ia ciptakan. Ini membuat Lamarr dijuluki sebagai "Ibu dari wi-fi" dan "Ibu dari segala komunikasi tanpa kabel lainnya". (Gemma F Purbaya)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER