Selamat

Senin, 17 Mei 2021

GAYA HIDUP

10 April 2021|18:00 WIB

Pemuda dan Bujukan ‘Surga’

Perempuan cenderung lebih emosional dibandingkan laki-laki sehingga lebih mudah direkrut oleh kelompok ekstremis
Image Ilustrasi teroris. Shutterstock/dok

JAKARTA – “Mereka (para malaikat) bertanya; “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu? Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali”.

Demikian penggalan ayat Al-Qur’an Surah An-Nisa Ayat 97 yang menjadi pedoman Febri Ramdani sebelum beranjak ke Suriah.

“Pada waktu itu saya amat sangat takut saya masih tinggal di Indonesia dan mati, takut ‘terkena’ Surah An-Nisa ayat 97. Di mana tertulis kewajiban untuk berhijrah apabila khilafah sudah tegak,” tulis Febri dalam buku karangannya yang berjudul 300 Hari di Bumi Syam.

Bermodal rasa takut dan cita-cita mulia ingin masuk surga, tanpa pikir panjang Febri menyusul kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu tiba di Suriah. Bagaimana tidak tertarik? Kelompok ekstremis (Islamic State of Iraq and Syria) menjanjikan kehidupan yang sejahtera, aman, tenteram, pendidikan dan pengobatan gratis, sembako murah, bebas memilih pekerjaan dan yang terpenting sesuai Syariat Islam

Febri yang kala itu berusia 20 tahun ikut terkesima dengan janji-janji ISIS. Setelah bergumul dengan rasa takut dan bersalah setiap hari, Febri terbang ke Suriah menyusul orang tuanya. Keluarga Febri memang butuh uang untuk biaya pengobatan anggota keluarganya yang menderita TBC tulang.

Setibanya di Suriah, Febri kaget bukan main. Tak butuh waktu lama untuk membuktikan jika janji-janji manis ISIS hanya manis di awal saja agar orang-orang tertarik hijrah ke Suriah dan menegakkan negara khilafah. Begitu tulis Febri dalam bukunya.

Pandangan Febri terhadap Suriah berputar 180 derajat. Suriah tidak seperti apa yang ISIS gambarkan dalam video-video mereka. Pengobatan tidak semuanya gratis. ISIS hanya akan membebaskan biaya pengobatan keluarga yang anggota keluarga laki-lakinya bersedia berperang.

Begitu juga dengan pendidikan gratis. Hanya keluarga yang anggota keluarga laki-lakinya mau bergabung menjadi tentara perang ISIS saja yang mendapat akses pendidikan.

Bebas memilih pekerjaan dan gaji besar pun hanya bualan belaka. Ia mengaku malah terpaksa mengikuti pendidikan agama dan militer ISIS. Febri dan anggota keluarganya menolak ikut militer. Alhasil, Febri dan saudaranya ditahan ISIS beberapa waktu.

Tidak kerasan di Suriah, Febri dan keluarga akhirnya mencari cara untuk pulang ke tanah air. Harapannya hidup makmur dan damai di bawah Syariat Islam pupus sudah. Angan-angan, tidak sesuai realita.

Orang dengan kondisi psikologis dan emosional tidak stabil, memang menjadi sasaran empuk para kelompok ekstremis. Tidak heran bila belakangan pelaku aksi teror tergolong berusia muda, baru menikah atau masih mengenyam pendidikan di universitas. Mereka lebih mudah menerima ideologi atau doktrin radikal karena masih dalam tahap pencarian jati diri.

Pada kasus bom bunuh diri Gereja Katedral Makassar akhir Maret lalu saja, kedua pelaku masih tergolong muda. Sepasang suami istri pelaku bom bunuh diri tersebut baru berusia 25 tahun dan baru saja menikah.

Psikolog sosial Hening Widyastuti dari Universitas Sebelas Maret mengatakan, ideologi radikal biasanya dijejali sejak mereka masih remaja. Pada usia remaja, saraf otak masih belum matang dan sempurna sehingga pola pikir dan emosional masih limbung.

“Pola pikir mereka masih belum panjang, mereka belum bisa memikirkan efek perbuatan terhadap dirinya, orang lain dan dampak buruknya. Remaja belum sepanjang itu pola pikirnya, makanya banyak remaja yang direkrut dan didoktrin dengan mudah,” kata Hening pada Validnews, Kamis (1/4).

Senada, psikolog klinis dewasa Nirmala Ika mengatakan, remaja berada pada fase serba gelisah dan labil. Anak muda, lanjutnya, masih mencari pegangan dan jawaban atas semua pertanyaan dan keingintahuan. Berbeda dengan orang dewasa yang cenderung lebih keras kepala.

Aksi Perempuan
Ada fenomena menarik dari dua aksi teror yang terjadi belakangan. Perempuan mulai aktif terlibat dalam aksi amaliah. Febri Ramdani dalam bukunya menyebutkan, perempuan kebanyakan berjihad dengan cara menikah. Kalau pun ikut serta, mereka hanya bergerak di belakang layar.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol. Akhmad Nurwahid mengatakan, perempuan memang memiliki peran meregenerasi keturunan dan keluarganya agar memiliki pemahaman atau ideologi sama mengenai negara khilafah.

“Jadi perempuan yang direkrut ini bisa melahirkan generasi baru untuk didoktrin, semisal negara khilafah itu sudah berdiri. Itu alasan mengapa perempuan muda dan milenial berpotensial untuk direkrut,” tutur Akhmad dalam “Media Talk Perlindungan Perempuan dari Paham Terorisme dan Ekstremisme” pada Rabu (7/4).

Kasus di Mabes Polri yang dilakukan ZA Rabu (31/3) lalu menjadi bukti lain. Keduanya menunjukkan, perempuan tidak lagi berperan di belakang layar. Menurut pengamat terorisme dari SeRVE Indonesia Dete Aliah, fenomena ini sesuatu yang baru.

“Perempuan muda direkrut itu sudah sejak lama, bukan hal baru. Yang menjadi fenomena baru itu perannya. Dulu, peran perempuan itu di logistik atau belakang layar. Sekarang mereka yang action, yang mana perannya itu maskulin dan laki-laki banget,” ujar Dete pada Validnews, Senin (5/4).

Menurut Dete, perempuan bisa saja menginisiasi aksi alias menjadi pion atas perintah pimpinan kelompok. Kasus bom bunuh diri di Makassar yang melibatkan sepasang suami istri, menurut Dete, bukan inisiatif dari keduanya melainkan perintah dari pemimpin kelompok.

Masing-masing individu pengikut kelompok itu telah memiliki perannya masing-masing. Ada yang menjadi pelaku bom bunuh diri, mencari data, narator, trainer, mengurus logistik, merekrut, dan masih banyak lainnya.

Hening menambahkan, perempuan cenderung lebih emosional dibandingkan laki-laki sehingga lebih mudah direkrut. Berbeda dengan laki-laki, otak perempuan lebih dipengaruhi emosi sehingga lebih mudah menjadi target.

“Memang perempuan itu sangat peka dan perasa, itu bisa menimbulkan sikap militan luar biasa yang membuat mereka taat dan patuh pada ustaz dan suaminya. Biasanya perempuan totalitas sekali karena itu jadi gampang dibohongi, terutama dengan dalil dan ayat-ayat,” timpal Brigjen Pol. Akhmad.

Peran Keluarga
Selain pola pikir yang masih labil, hubungan keluarga yang kurang harmonis, dinilai menjadi akar aksis teror, terutama bagi para remaja. Dalam keluarga yang kurang harmonis, remaja tidak memperoleh sesuatu yang diinginkan atau butuhkan dari keluarga. Karenanya, anak kemudian mencari jawaban di tempat lain.

Menurut Psikolog klinis dewasa Nirmala Ika, permasalahan ini cukup umum dan dialami oleh semua remaja. Namun, setiap orang melewati proses atau fase itu dengan cara berbeda-beda. Ada yang mencari jawaban dan ketenangan lewat alkohol, seks bebas, narkoba, atau bergabung dengan kelompok atau ajaran tertentu yang membuat mereka merasa diterima.

“Masa muda itu masa pencarian jati diri. Ketika mereka rasa tidak menemukan jawaban yang memuaskan di rumah, mereka akan cari jawaban lain di tempat lain. Ini sesuatu yang general dan dialami semua orang, yaitu mencari tempat yang nyaman dan merasa diterima. Semisal dengan memasuki kelompok itu, mereka bisa menemukan yang mereka cari,” katanya pada Validnews, Rabu (7/4).

Nirmala melanjutkan, remaja hanya ingin didengar dan dipahami. Sayangnya, orang tua sering mengabaikan hal ini sehingga mereka mencari tempat yang bisa mendengarkan dan memahami mereka.

Nah, ketika mereka sudah menemukan tempat yang membuat mereka nyaman, rasa percaya mulai terbentuk dan remaja jadi lebih mudah mengikuti ajaran kelompok tertentu tanpa mereka sadari.

Hal tersebut bisa dicegah bila komunikasi antara orang tua dan anak terjalin sejak dini. Dengan komunikasi yang baik, anak jadi terbiasa bercerita pada orang tua tentang apapun. Hal ini akan memudahkan orang tua mengambil sikap waspada saat ada sesuatu yang tidak biasa.

“Karena masalahnya adalah anak tidak cerita ke orangtuanya, tahu-tahu saja direkrut, misalnya dari pengajian. Tetapi kalau relasi anak dan orangtua dekat, anak bisa cerita ke orangtua. Orang tua jadi bisa waspada dan bantu untuk mencegah, kalau anak tidak pernah cerita, ya, sudah makin bablas saja,” ujar Nirmala. 

Remaja Harus Kritis
Tidak hanya pencegahan dari keluarga, Nirmala juga mengatakan remaja harus kritis dan berpikiran terbuka. Menurut Nirmala, daya kritis itu bukan sesuatu yang tiba-tiba melekat pada diri remaja. Daya kritis perlu dilatih. Sebab kritis terdiri dari proses berpikir, menganalisa, mempertanyakan, dan masih banyak lainnya.

“Kritis itu ketika mereka sudah banyak informasi, kita buka dari berbagai kemungkinan. Jadi kritis itu mau mencari informasi lagi dan harus diterapkan pada semua hal. Kritis itu melibatkan proses berpikir, kemudian membuat keputusan,” ucapnya.

Remaja yang tidak kritis, cenderung lebih mudah terpengaruh doktrin karena mereka tidak memiliki dasar atas pendapat atau pemahaman mereka. Ketika bertemu dengan orang yang bisa menjelaskan hal yang ingin diketahui, remaja bisa dengan mudah berubah haluan. Untuk itu, Nirmala sangat menekankan agar remaja bisa berpikir kritis. 

Meskipun terdengar klasik, Nirmala juga menyarankan remaja zaman sekarang banyak membaca. Tidak melulu buku, bisa juga membaca berbagai konten di situs ataupun media sosial yang membagikan banyak informasi guna melatih berpikir kritis dan berpikiran terbuka.

“Cari informasi yang banyak, jadi dunia kita tidak sempit dan ketika direkrut orang, kita bisa berpikir jernih. Jangan polos, harus berani tantang diri sendiri dengan cara banyak membaca,” tuturnya.

Nirmala menekankan, remaja jangan hanya membaca hal-hal yang ingin dibaca saja, tapi juga hal-hal lain. Itu agar remaja bisa berpikir terbuka pada semua hal.

Apalagi di era teknologi ini asupan informasi berdasarkan algoritma. Remaja akan cenderung mengakses hal disukai saja. Akibatnya, remaja merasa semua orang mendukung pemikiran dan pendapatnya karena informasi yang ditampilkan itu-itu saja.

Upaya Pemerintah
Pemerintah sendiri, sejatinya sudah mengatur pencegahan dan penanggulangan ekstremisme dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 2018 dan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 7 tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Penanggulangan dan Pencegahan Ekstremisme yang Mengarah ke Terorisme.

Pengamat Terorisme Dete Aliah menilai, upaya pencegahan terorisme di Indonesia kurang efektif, sehingga perlu terus ditingkatkan. Hal itu berkaca dari masih banyaknya orang terduga teroris yang ditangkap. 

“Selain itu, Indonesia juga terlalu luas, sehingga kita jadi tidak tahu siapa saja anggota - anggota yang sudah ‘jadi’ dan yang direkrut. Kita tidak tahu siapa saja yang siap pakai dan berada di daerah mana saja. Kalaupun kita tahu di daerah mana, kita tidak berani masuk ke wilayah itu untuk lakukan upaya pencegahan,” cerita Dete pada Senin, (5/4).

Padahal, pemerintah akan lebih mudah memetakan anggota yang sudah terdoktrin dan belum dengan lebih mudah, kalau saja berani melakukan pencegahan di wilayah tersebut. Dengan cara itu, pemerintah bisa menangkal narasi dan pemahaman ekstrem. Pemerintah juga bisa memahami ‘bahasa’ dan pola pikir mereka dan merancang strategi untuk melawan narasi tersebut.

“Mereka punya pengetahuan yang berbeda dari kita, beda ideologi sama kita. Kita belum pahami narasi kelompok mereka seperti apa. Pencegahan ini tidak efektif karena kita tidak memahami jalan mereka,” ujar Dete.

Dete memprediksi, paham terorisme akan tetap ada di Indonesia dan tidak akan berakhir, selama cita-cita orang-orang dengan pemahaman ekstrem membangun negara khilafah belum terwujud.

Brigjen Pol. Akhmad Nurwahid menyatakan hal serupa. Menurutnya, radikalisme dan terorisme itu pasti akan terus ada di Indonesia karena Indonesia merupakan negara dengan potensi konflik terbesar di dunia.

“Dengan letak geografis Indonesia yang strategis diapit oleh dua samudera dan dua benua, dan kekayaan alam yang luar biasa, Indonesia memiliki apa yang dibutuhkan oleh peradaban di masa depan. Sehingga tidak heran kalau Indonesia banyak diperebutkan,” katanya pada Rabu, (7/4). (Gemma Fitri Purbaya)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA