Selamat

Selasa, 21 September 2021

08 April 2021|08:21 WIB

Napas Panjang Ahli Pemberdayaan

Berbekal kegigihan dan kepedulian, dia mengetuk hati para relawan untuk bersama mengubah kampung kumuh menjadi layak huni, sampai membangun sekolah gratis.
ImageTutik Sri Susilowati. Sumberfoto: Ist/dok

JAKARTA – Kaki kiri Umi terpaksa didaratkan ke kubangan hitam, akibat ojek motor yang tumpanginya berhenti tak pandang tempat. Sepatunya kotor, bertabur aroma bacin menyengat.

Bukan hanya sekali peristiwa itu harus dialaminya. Karena bertandang ke kawasan bernama Kampung Belakang, Kelurahan Kamal, Jakarta Barat itu, pernah menjadi rutinitasnya pada 2014 silam.

Kala itu, dia berniat mengubah kebiasaan warga di sana yang terkesan tak peduli dengan kekumuhan yang mengitari. Padahal, tempat mereka hidup itu, hanya berjarak 30 menit dari Istana Negara.

Tentu bukan perkara yang mudah bagi Umi untuk mewujudkan keinginan tersebut. Namun, dia bukan sejenis manusia yang gampang menyerah sebelum berlaga. Segala rintangan berangsur-angsur ditaklukkan. Hingga akhirnya, mimpi dari pemilik nama asli Tutik Sri Susilowati itu menjadi kenyataan.

Dianggap Caleg
Tahun 2012, Umi mendapat kabar, lomba penanganan lingkungan kumuh. Bergegas dia menelisik. Dan didapati, ada dua RW di Kampung Belakang Kamal yang belum pernah tersentuh polesan pembangunan pemerintah.

Tanpa ba-bi-bu, Umi dan teman-temannya langsung menyusun proposal, sebagai syarat utama mengikuti lomba. Semua ide-ide terbaik dituangkan. Apabila menang, Rp10 juta bakal menjadi bekalnya untuk menjalani hari-hari di Kampung Belakang Kamal.

Proposal Umi ternyata berhasil masuk 10 besar. Sebagai penggagas, ia harus memaparkan konsep yang sudah dirancang dalam setumpukan kertas itu, di Bali. Sayangnya, di waktu bersamaan ia masih berada di Aceh. Tak ada pilihan lain, dia harus merelakan gagasannya hangus.

"Aku kumpul sama teman fasilitator. Aku bilang, ‘enggak menang enggak masalah’. Tapi aku tetap ingin mewujudkan, merealisasikan program penanganan lingkungan kumuh di Kampung Belakang Kamal'," ujar Umi kepada Validnews, Senin 5 April lalu.

Tekad Umi kemudian benar-benar terlaksana pada akhir 2013. Dia pun menginjakkan kaki di kampung kumuh itu bersama teman-temannya.

Tumpukan sampah dan bau busuk merebak, menyambut mereka yang datang dengan pakaian rapi. Kehadirannya lantas menyedot perhatian. Dalam benak penduduk, Umi dianggap seperti calon anggota DPR, yang datang membawa segudang janji lalu menghilang.

"Ibu ini calon anggota dewan ya?" ujar Umi menirukan ucapan seorang warga.

Walau Umi menyangkal sangkaan itu, warga tetap sulit didekati. Sikap mereka dingin. Padahal, Umi sudah mencoba berlaku wajar, tak mau terlalu serius di kunjungan pertamanya. Ia hanya ingin mengenal dan berinteraksi langsung dengan siapa saja yang ditemui. Dan keadaan itu terus tampak, bahkan pada kunjungan kedua dan ketiga. Umi dan kawan-kawan tetap tak digubris.

Lambat laun, penyebabnya terungkap. Warga sudah antipati dengan para anggota dewan atau siapapun yang dianggap berkedudukan sama. Mereka jera, karena selalu dijadikan "jualan" untuk bertempur pada pemilu.

"Mereka hanya belum tahu apa yang akan kami lakukan untuk mereka," tuturnya.

Umi bercerita, kondisi Kampung Belakang Kamal sangat memprihatinkan. Pada masa awal dia di sana, kondisinya kumuh dan kotor. Tumpukan sampah bertebaran. Air kotor menggenang di banyak tempat. Sementara, air bersih menjadi barang langka.

Bahkan di antara itu semua, terdapat kantong-kantong plastik berisi kotoran manusia. Membuang hajat di dalam plastik, lalu melemparnya ke tempat sampah, ternyata menjadi hal yang jamak dilakukan warga di sana.

Penyebabnya, tak satu pun dari mereka yang memiliki toilet di rumah. Sebelumnya, pernah ada toilet umum yang dibangun oleh sebuah yayasan, tapi bangunan itu justru dibuat tidur.

Bangunan sekolah yang lazim menjadi tempat anak-anak menghabiskan setengah harinya, roboh karena tak terawat. Layanan kesehatan hanya setingkat puskesmas satelit. Jalan pun masih tanah, belum berlapis aspal.

Pekerja serabutan, menjadi profesi sebagian besar kepala keluarga di sana. Ada pula yang memilih menjadi pemulung. Sementara para istri, sibuk mengurus anak atau menjadi buruh harian.

Setiap hari, berkarung-karung karet penjepit kaki pada bagian atas sandal jepit, dipasok ke mereka. Tugas para perempuan itu merapikan potongan pada karet. Upahnya, Rp5 ribu untuk setiap karung.

"Aku nangis melihatnya. Aku ngumpet-ngumpet suka netesin air mata. Waktu itu aku juga sakit hati sendiri, kesal. Kenapa baru sekarang aku ke sini," ujar Umi.

Merangkul Anak-anak
Di satu sudut Kampung Belakang Kamal, terbentang sebidang tanah yang semula dikelola sebagai taman. Namun, warga malah menjadikannya tempat pembuangan sampah.

Umi pun mengajak sejawatnya untuk mengubahnya menjadi tempat bermain dan belajar bagi anak-anak. Setiap Sabtu dan Minggu, Pukul 08.00 hingga 14.00 WIB, bersih-bersih digelar. Sayangnya, saat itu tak ada satupun warga yang mau ikut turun tangan.

Meski begitu, anak-anak justru girang melihat upaya Umi. Mereka membayangkan, bakal memiliki kembali tempat bermain yang bersih dan tertata. Merekalah yang kemudian mendorong orang tua masing-masing untuk turut peduli dengan lingkungan.

Suatu ketika, seorang ibu mendatangi Umi seraya berujar, "Sering banget saya dimarahi sama anak saya. Kalau saya ngomel, justru dimarahin anak saya, katanya, 'Umi aja sayang sama kita, masak mamak enggak sayang',".

Ada lagi yang bercerita bahwa anak-anaknya memiliki perubahan perilaku. Setelah kehadiran Umi, mereka rajin cuci tangan sebelum makan. Juga rutin membasuh kaki dan berdoa sebelum tidur.

Berangsur-angsur, ibu-ibu di sana mulai mendekati Umi. Sebenarnya mereka juga ingin berubah, tapi tak paham harus memulai dari mana.

Setelah empat bulan, simpati warga kian tampak. Kegiatan Umi dan relawan yang semula hanya mengajari anak-anak, lalu berkembang. Mereka sering memasak dan makan bersama warga.

Tindakan Umi untuk menggugah warga agar lebih berdaya tersebut, ternyata dipantau Pemerintah Kota Jakarta Barat. Sampai-sampai, dia diundang ke kantor wali kota untuk menjelaskan tujuan programnya.

"Satu bulan kemudian, aku diikutsertakan dalam musrembang kota. Di sana aku memaparkan ide-ide dan kegiatan di sana. Sebenarnya untuk 2017 enggak ada alokasi dana untuk Kampung Belakang Kamal, tapi akhirnya semua dicabut dan dialokasikan ke sana," ujar Umi.

Keterlibatan pemerintah kota, langsung mengubah berbagai sisi kehidupan di Kampung Belakang Kamal. Berbagai fasilitas digarap. Mulai dari jalan raya, gedung sekolah, perbaikan taman, MCK, gedung kesenian, serta panel surya untuk pembangkit tenaga listrik. Selain itu, warga juga meminta Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang kala itu memang tengah hangat diperbincangkan.

Sesudah semuanya menjelma lebih baik, Umi mulai mengurangi intensitas kunjungan. Seperti konsep awal, dia hanya ingin menjadikan warga mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri. Tak tergantung dengan pihak manapun, termasuk kelompok Umi.

Sosok di Balik Umi
Di balik semangat kepedulian yang melekati napas Umi, terdapat sosok yang menginspirasinya. Dia adalah Si Mbok, ibundanya yang menjadi sumber energi untuk terus berjalan.

Si Mbok yang kini berusia 103 tahun, kata Umi, sudah sejak muda, aktif dengan kegiatan sosial di kampung.

"Aku nyaman lihat si mbok bantu lingkungannya. Walaupun hanya sekadar kegiatan posyandu, atau tentang kegiatan di kampung," ujarnya. 

Umi tumbuh di lingkungan petani di Malang. Pada 1980, ketika berusia 17 tahun, Umi hijrah ke Jakarta, demi mencari penghidupan yang layak dengan mengajar.

Akrab dengan kegiatan sosial sejak kecil menuntun Umi untuk bergerak menjadi relawan pada 2004 hingga 2006. Umi mengelilingi Jakarta, mendatangi siapa saja yang mengidap tuberkulosis alias TBC.

Selama dua tahun Umi bertemu dengan banyak penderita. Ia mengaku tak pernah tertular. Padahal saat bertatap muka, Umi memilih melepas masker, agar si pengidap TBC tak canggung saat berinteraksi.

"Kami mencari solusi saat kami mendekati masyarakat itu, masyarakat tidak tersinggung. Itu yang paling utama, dia bisa nyaman dengan kita," ujar Umi.

Jejak si Umi
Pada Agustus 2007, Umi bergabung dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Sebagai anggota baru, dia lebih banyak mengamati ketimbang ikut serta dalam kegiatan.

"Kalau ada program dari fasilitator mengumpulkan warga, aku ikut mendengarkan. Mempelajari arahnya kemana," ujar Umi.

Namun rupanya, keterlibatan dalam PNPM Mandiri masih belum cukup memuaskan Umi. Pada saat bersamaan, ia membuka kegiatan sosial lain di rumahnya di kawasan Petukangan, Jakarta Selatan. Namanya, Pondok Cerdas. Melalui program tersebut, Umi ingin mengajari baca tulis anak-anak pra-usia sekolah dari keluarga tak mampu. Gratis!

"Anak bisa baca harus bisa les. Mana ada di Jakarta tempat les gratis. Semuanya uang," ujar Umi.

Dimulai dari empat anak, Pondok Cerdas kemudian berhasil menyedot banyak perhatian. Bahkan, suatu kali, Murid di sana pernah mencapai 250-an, berasal dari seluruh penjuru Jabodetabek. Jumlah sebanyak itu, membuat Umi harus bekerja dari pagi sampai malam. Kegiatan itu berlangsung hingga tahun 2009.

Pondok Cerdas semakin besar, Umi pun semakin paham soal pemberdayaan masyarakat melalui PNPM Mandiri.

Hidup dengan dua pijakan itu melahirkan ide untuk membangun sekolah untuk anak usia dini (PAUD). Dengan sedikit bantuan pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Kesejahteraan Rakyat, Umi akhirnya mengubah Pondok Cerdas menjadi PAUD Wijaya Kusuma. 

Perubahan nama itu sejalan dengan pemindahan tempat belajar ke sebuah gedung sekretariat rukun warga di lingkungan tinggal Umi. Mutu pengelolaan yang unggul, lantas mendorong perkembangan PAUD kian pesat. Pemerintah pun menjadikannya percontohan untuk skala nasional.

"Aku di sana jadi relawannnya, aku senang jadi orang biasa. Karena gerak kita akan leluasa," ujar Umi.

Sang Pemberdaya
Setelah berhasil di Kampung Belakang Kamal dan membangun PAUD Wijaya Kusuma, nama Umi dikenal luas. Sampai-sampai, dia dijuluki: ahli pemberdayaan. Kesibukan Umi pun makin berlipat.

Dia sering diundang menjadi pemateri di kelas program pascasarjana Ekonomi Universitas Indonesia. Umi juga kerap diminta terbang ke Sulawesi untuk menyebarkan ide-ide pemberdayaan. Umi blusukan sampai Mamuju dan Majene, dua daerah yang masuk ke dalam wilayah Sulawesi Barat.

Umi biasa hilir mudik di acara dan rapat kerja soal pemberdayaan yang dilakukan DKI Jakarta. Selain level daerah, Umi juga hadir di kegiatan pemberdayaan skala Internasional.

Umi tak punya cita-cita untuk menjadi yang terhebat. Satu-satunya hal yang diinginkannya adalah bisa membuat orang lain senang.

“Kayaknya kalau orang bilang terlalu moralis, tapi ya begitulah adanya. Toh, sampai sekarang aku tetap bertahan. Secara pribadi kalau ditanya umi dapat apa sih? Secara kelihatan mata um enggak dapat apa-apa. Kalau aku suruh cerita gimana-gimana aku enggak ngerti, rasa bahagia itu hanya bisa dirasakan enggak bisa digambarkan,” tutup Umi. (Muhammad Fadli Rizal)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA