Selamat

Senin, 17 Mei 2021

GAYA HIDUP

12 Maret 2021|21:00 WIB

Menjaga Yang Muda Tak Intim Dengan Minol

SKDI menyebutkan 70% laki-laki dan 58% perempuan mulai meminum alkohol di usia 15-19
Image Ilustrasi minuman keras. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

JAKARTA – “Minum, yuk. Suntuk nih gue,” kalimat ini kerap menjadi ‘gerbang’ pembuka acara kumpul dan nongkrong anak-anak muda. Pesan bisa dikirimkan ke group messenger atau secara langsung. Bila gayung bersambut, acara kumpu-kumpul, ngobrol sambil menyisip minuman beralkohol (minol) yang katanya bisa bikin chill (santai), pun terlaksana.

Hubungan antara anak muda dan minol tampaknya kian hari makin akrab. Banyak yang kini tak lagi malu-malu mengaku gemar minum minol, terlepas dari terdampak efek memabukkan atau tidak.

Di media sosial (medsos) juga muncul, ada kesan ‘yang paling bandel, yang paling keren’. Selebgram muda dengan followers ratusan ribu tak jarang adu pamer ‘kebandelan’ di medsos.

Namun, jangan salah sangka dulu. Tak semua anak muda mengonsumsi minol untuk alasan ketenaran, mencari perhatian, atau sengaja ingin berbuat onar. Banyak yang memang punya alasan sendiri melakukannya.  

Salah satunya, semisal Karen (25) yang mengaku minum minol sebagai bentuk penghargaan (reaward) diri setelah lelah bekerja sepakan penuh.

“Alasan saya minum, ya, buat menyenangkan diri sendiri, kali ya? Kayak nge-treat diri sendiri setelah capek kerja, terus efek alkoholnya (mabuk) dipakai tidur,” ungkap Karen kepada Validnews, Jumat (5/3).

Karen mengaku pertama kali berkenalan dengan minol saat berusia 21 tahun, ambang bawah usia mengonsumsi alkohol. Awalnya ia hanya coba-coba. Kemudian menjadi suka. Ini diawalinya dengan ‘berkenalan’ terhadap red wine. Rasa pahit, asam, kemudian rasa sesudahnya (after taste) cocok di lidahnya. Perpaduan rasa-rasa itu hidup di lidah Karen.

Kendati demikian, Karen sadar mengonsumsi alkohol berlebihan tidak baik untuk kesehatan. Ia mengamininya. Dia hanya menganggap minol sebagai essence yang memberi efek tenang, chill, lalu ngantuk setelahnya.

Gita (25), bartender di salah satu bar di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, menjelaskan hal serupa. Dia bercerita, kebanyakan pengunjung yang datang ke tempatnya minum untuk melepas penat. Kebanyakan pengunjung datang selepas kerja. Banyak diantaranya yang menjadikan agenda minum sebagai bagian dari kehidupan sosial, atau networking.

“Kalau hari biasa, kebanyakan yang datang orang-orang yang habis pulang kerja, yang kepingin chill. Mereka paling ngebir atau tonik, minum yang enggak berat-beratlah. Soalnya mereka minum mau melepas penat,” ujar Gita yang bekerja sebagai bartender selama tiga tahun belakangan kepada Validnews, Selasa (9/3).

Beda hari biasa, beda akhir pekan. Di penghujung minggu biasanya tamu lebih variatif dengan jenis pesanan yang tidak bisa diprediksi. Kursi-kursi penuh anak-anak muda, apalagi kalau ada penampilan live band. Namun di tengah masa pandemi, tanpa adanya penampilan live band, pengunjung muda pun surut.

Batasan Umur
Lain lagi dengan sebuah bar di kawasan Bekasi Utara yang masih terus ramai walaupun penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) masih berlaku. Hingga tengah malam, pengunjung masih berbaris di luar gedung (waiting list) menunggu namanya dipanggil, lalu dapat giliran masuk. Mayoritas pengunjung anak muda.

Ghulam (30, salah satu bartender mengatakan, memang anak muda yang paling banyak mengunjungi barnya. Di tempat ini, anak muda datang bergerombol memesan minuman di pitcher untuk dikonsumsi ramai-ramai. Ada beberapa merek minol yang laris-manis di sana, seperti Jameson, Jagermeister, Jack Daniels, hingga bir Bintang.

Bar tempat Ghulam bekerja tidak memberlakukan restriksi bagi remaja. Alhasil, anak ABG yang belum memiliki KTP sering nongol dan memesan minuman.

”Enggak ada batasan umur, siapa saja bisa datang, dan enggak ada cek KTP gitu juga. Kalau mereka pesan, ya sudah,” katanya ketika ditanyai, Sabtu (6/3).

Padahal, sejatinya minol tidak bisa diperjualbelikan dan dikonsumsi bebas di Indonesia. Penjualan minol di Indonesia dibatasi dan diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) bernomor 20/M-DAG/PER/4/2014 yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag). 

Permendag yang berlaku efektif sejak 11 April 2014 menyatakan, hanya konsumen yang telah berusia 21 tahun atau lebih yang boleh membeli minuman beralkohol golongan A (kadar alkohol maksimal 5 persen) seperti bir, itu pun harus menunjukkan kartu identitas (KTP) kepada petugas atau pramuniaga terlebih dahulu.

Tren Menanjak
Jumlah anak muda peminum di Indonesia kian meningkat dari tahun ke tahun. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan prevalensi peminum berusia 15–25 tahun ada sekitar 5,5% untuk laki-laki dan 3,5% pada perempuan. Kemudian, Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) 2017 menemukan, anak muda yang mulai meminum alkohol di usia 15–19 tahun ada 70% (laki-laki) dan 58% (perempuan).

Soal alasan mengonsumsi minol, dijelaskan oleh Dr. dr. Kristiana Siste, Sp.KJ(K) dari Universitas Indonesia. Kristiana menjelaskan, seseorang mengonsumsi alkohol karena ingin merasakan sesuatu yang baru, terutama mereka yang baru coba-coba. Bisa karena dorongan pribadi atau karena ikut-ikutan teman-temannya.

Kedua, mereka ingin membuat perasaan jadi lebih baik. Mereka yang minum karena alasan ini biasanya memiliki masalah emosi seperti kecemasan, ketakutan, depresi, atau merasa tidak berdaya. Sebab, alkohol mengandung zat yang bisa menghasilkan dopamine, senyawa di otak yang membuat kita merasa senang secara instan. 

Dopamine bisa meningkat lewat olahraga kalau sangat rutin, atau cokelat segentong. Keduanya memberi efek sama ketika mengonsumsi alkohol. Tapi remaja suka sesuatu yang instan,” tutur dr. Siste dalam webinar Waspada Bahaya Minuman Beralkohol, Rabu (10/3).

Psikolog Denrich Suryadi, M.Psi., menguraikan lebih jauh. Menurutnya, anak muda yang sudah terbiasa meminum alkohol untuk ‘lari’ dari masalahnya, ke depannya akan cenderung melakukan hal yang sama. Hal itu bisa mengakibatkan adiksi atau kecanduan. Kecanduan alkohol terjadi ketika peminum sudah tidak bisa mengontrol waktu dan jumlah alkohol yang dikonsumsi.

“Jadi tubuh sudah membangun mekanisme karena bergantung dengan alkohol, lama kelamaan batas toleransi alkoholnya jadi terus bertambah,” ucap Denrich, Senin (8/3).

Saat kecanduan, tubuh akan bereaksi saat konsumsi dihentikan (putus alkohol). Akan ada gangguan pada fisik seperti tidak enak badan, sakit di seluruh tubuh, adanya gejala emosi sehingga menjadi agresif, marah-marah, dan mengakibatkan gangguan pada fungsi sehari-hari. Performa akademik dan pekerjaan menurun.

Peminum juga berisiko mengalami intoksikasi akibat dari penggunaan alkohol secara berlebihan. Gejalanya bisa menjadi agresif, tidak bisa mengontrol perilaku, bicara ngawur, jalan sempoyongan, penurunan kesadaran, bahkan bisa menyebabkan kematian.

Anggur Merah
Menjamurnya bar dan lounge yang menyediakan minuman keras, menambah banyak akses anak muda terhadap minol. Biasanya, selain menyediakan minol, tempat nongkrong ini menyediakan musik atau fasilitas nonton bareng sebagai gula-gula bagi pengunjung.

Di banyak tempat ini, ada fenomena menarik menyoal dominasi brand minol asing. Brand lokal, yakni Anggur Merah yang biasa disingkat ‘Amer’ dari produsen Orang Tua (OT) menjadi primadona di banyak kalangan anak muda. Rasanya yang manis membuatnya tidak sulit diterima semua kalangan. Hal itu juga tidak terlepas dari strategi pemasaran produsen mamin (makanan dan minuman) ini.

OT menggandeng musisi dan figur publik ternama, seperti Fourtwnty, Shaggy Dog, dan Melanie Subono untuk ‘membumikan’ produknya itu. Dalam video-video iklan, ditampilkan musisi dan figur publik tengah menikmati ‘Amer’ yang diyakini dapat menambah keakraban dan kreativitas.

Hal ini disambut baik bar-bar dan tempat minum di ibu kota. Beberapa tempat bahkan terkenal dengan suguhan variasi campuran beraneka macam. Produk minuman yang dulu ‘akrab’ dengan jamu penambah stamina ini seolah naik kelas. Ada pula yang menyajikannya dengan dicampur berbagai brand premium minol luar yang sudah lama kondang.

Terhadap konsumsi minol lokal ini, dokter Siste menjabarkan efeknya sama dengan minol lainnya. Ketika seseorang mengonsumsi alkohol, area otak yang aktif memengaruhi perilaku dan mengambil keputusan secara tepat menjadi terganggu. Tidak hanya itu, area otak yang bertanggung jawab untuk emosi dan memori juga terkena dampaknya.

Di satu sisi, minuman anggur merah sebenarnya baik untuk kesehatan bila dikonsumsi dengan takaran yang benar. Namun, mengonsumsinya secara berlebihan dapat menyebabkan mabuk.

“Ketika orang memakai zat itu maka akan kebanjiran dopamin sehingga ada rasa senang berlebih. Itu yang menyebabkan orang tidak bisa berhenti minum,” jelasnya.

Ditambah lagi, pada anak muda, otak belum berkembang sempurna. Dokter ini menguraikan, aka nada potensi kerusakan otak yang timbul akibat konsumsi alkohol berlebihan. Bagi mereka yang sekolah, ini tentu memengaruhi prestasi akademik atau non-akademik.

Seto Mulyadi atau Kak Seto, psikolog yang juga Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) mencermati pengaruh minol terhadap individu, khususnya anak. Dia menegaskan, pemerintah harus tegas memberlakukan peraturan pembatasan usia peminum alkohol.

Menurut Kak Seto, siapa saja yang mengedarkan dan membiarkan anak mengonsumsi alkohol harus dan bisa terkena sanksi pidana.

“Ini karena konsumsi alkohol menghambat hak anak, khususnya untuk hidup sehat, tumbuh dan kembang karena tidak optimal, baik akademik dan non-akademik. Sangat tidak bisa dibenarkan,” katanya, Jumat (12/3).

Sebaliknya, anak remaja yang ketahuan mengonsumsi alkohol juga perlu ditindak tegas. Biasanya, anak muda baru ‘diadili’ ketika sudah menjadi peminum berat. Ketika minum alkohol bergerombol, mabuk, terkapar di jalanan, atau membuat onar. Padahal sebenarnya hal itu bisa dihindari sejak awal.

Warga yang melihat gerombolan remaja sedang minum-minum bisa melapor ke keluarga atau tetangga di RT/RW. Setelah itu, anak bisa diarahkan dan dibina sehingga bisa terhindar dari kecanduan alkohol dan zat adiktif lainnya.

Pengawasan masyarakat dan petugas juga harus ditingkatkan dalam perdagangan dan jual beli alkohol. Hal ini mendukung hasil survei yang dilakukan dr. Siste yang mengatakan, salah satu alasan anak muda mengonsumsi alkohol karena mudahnya aksesibilitas alkohol.

“Kalau orang dewasa mau beli, ya, harus jauh tetapi juga dengan pengawasan yang ketat dan konsumsi terbatas,” timpal Kak Seto.

Di sisi lain, para pakar mengungkapkan senada. Edukasi tentang bahaya konsumsi alkohol di kalangan anak muda tetap harus digencarkan. Edukasi jangan hanya sekadar menakut-nakuti atau mengatakan ‘say no to alcohol’. Ajakan semacam ini sudah ketinggalan zaman dan tak laku.

Dr. Siste mengajurkan agar edukasi yang diberikan dapat bersifat aplikatif. Misalnya membantu anak mencari jalan keluar saat ada masalah, alih-alih melampiaskan dengan minuman keras. Sementara, Kak Seto juga menekankan, edukasi juga harus diberikan kepada dewasa yang legal mengakses minol. Ekses negatif, harus diketahui orang-orang dewasa juga.

“Kalau orang tua tidak produktif, anak terlanggar haknya. Kalau orang dewasa pemarah akibat alkohol, anak juga menjadi korban kekerasan,” tutup Kak Seto. (Gemma Fitri Purbaya)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER