Selamat

Rabu, 12 Mei 2021

SENI & BUDAYA

25 Februari 2021|21:00 WIB

Mendamba Panggung Di Depan Mata

Memindahkan pertunjukan seni offline ke online tak mudah, Pelaku dan penonton merasa ada yang hilang
ImageIlustrasi Foto Pementasan Kacak Kicak Puppet Theatre. Dok/ist

JAKARTA – Matahari sore belum tenggelam ketika Rina (28) menutup gorden jendela kamar indekosnya. Sejurus kemudian, ia buru-buru mematikan lampu kamar sehingga ruangan jadi gelap sepenuhnya. Hanya cahaya dari laptop yang menyinari wajahnya.

Rina kemudian mengklik tautan streaming pertunjukan lakon Republik Petruk dari Teater Koma di gawai itu. Kamar yang gelap dan hening adalah kondisi ideal untuk menikmati lakon ini. "Supaya seperti di ruang pertunjukan," cerita Rina kepada Validnews, Sabtu (20/2).

Ia antusias bukan kepalang, karena sudah lama tidak menyaksikan pertunjukan teater setelah virus corona mewabah empat bulan sebelumnya. Uang sebesar Rp50–100 ribu dengan sukarela dikeluarkan demi bisa menikmati lakon Mustakaweni yang berhasil mencuri jimat Kalimasada, pusaka milik Pandawa, dengan cara menyamar sebagai Gatotkaca.

Belum tiba pada akhir cerita, tiba-tiba, “ngeeennnggg”, suara deru knalpot sepeda motor membuyarkan konsentrasinya. Kedua bola matanya yang sedari tadi terpaku pada layar laptop 14 inci sontak menengok ke arah sumber suara. Mood-nya hancur bukan main.

Suara orang bersenda gurau hingga teriakan tukang sate yang sedang menjajakan dagangan membuatnya kian sulit fokus. Konsentrasinya terpecah, suara dalam pertunjukkan lambat laun makin tidak terdengar.

Ekspektasinya tak jadi kawin dengan realita. Menonton teater secara daring ternyata tidak mudah. Selain terdistraksi faktor luar, pertunjukan teater daring pun sulit dinikmati karena eksplorasi mata terbatas pada gerak kamera. Pengambilan gambar statis sehingga pengalaman menonton jadi kaku.

"Satu jam pertunjukan gue susah menikmatinya," keluh Rina.

Rina kemudian menumpahkan kemasygulan hati yang lama tak menonton teater secara langsung. Kombinasi tata cahaya nan megah, audio, lantangnya suara pelakon, gerak, kostum, mimik, dan interaksi penonton selalu membuat bulu kuduknya merinding. Dia merindu. 

"Itu yang bikin gue suka sama pertunjukan teater karena harus satu harmoni," cetus Rina.

Sayangnya, sensasi itu sudah setahun tak dirasakan. Menonton teater secara digital juga tidak jadi pilihan lagi. Baginya, sebaik apapun kamera tidak akan pernah bisa menggantikan mata manusia dalam menikmati sebuah seni pertunjukan. Roh teater, menurutnya, ada di pentas pertunjukan secara langsung, tidak melalui layar kaca.

Sutradara sekaligus pemain Teater Koma, Rangga Riantiarno, mafhum dengan apa yang dirasakan Rina. Kini, karena berbagai pembatasan, satu-satunya jalan untuk tetap eksis adalah dengan memindahkan panggung ke ranah digital.

Rangga, sebagai pelakon teater juga merasakan ada yang hilang tiap kali menggelar pertunjukan di Gedung Kesenian Jakarta tanpa penonton. Sekalipun pemain sudah mengeluarkan kemampuan maksimal dan setting panggung serta tata cahaya lampu sama persis dengan pertunjukan langsung, tetap terasa berbeda.

Ya, kemegahan itu tidak bisa mengganti kekosongan ratusan kursi di hadapan para pemain. Saat proses perekaman pertunjukan dimulai, pelakon berakting tak ubahnya seperti sedang latihan saja.

"Biasanya kita kalau beberapa kali pentas ada suara penonton, ada reaksi dari penonton, energinya terasa. Ini seperti latihan yang sebenarnya pertunjukan. Jadi ada energi yang hilang," tuturnya kepada Validnews, Minggu (21/1).

Secara umum, kata Rangga, semua seniman teater merasakan juga hal serupa. Absennya koneksi pelakon dan penonton membuat hati tidak puas. Dia juga mengamini, kamera jenis apapun dengan kualitas sebaik apapun tidak akan pernah bisa mewakili mata manusia ketika melihat pertunjukan teater secara langsung.

Saat menonton langsung, penonton bisa memilih akting siapa dan bagian apa yang ingin mereka lihat. Semuanya bebas dipandang mata. Namun dengan kamera, eksplorasi jadi terbatas. Artinya, sambung Rangga, sutradara teater dan sutradara video harus bisa memperbaiki kualitas pengambilan gambar pada saat pertunjukan. 

Menyiasati kekurangan itu, Rangga kini terus berkomunikasi dengan sutradara video agar gambar hasil pertunjukan tetap bisa dinikmati.

"Untuk menangkap pertunjukan berjalan terus, tidak terganggu oleh cut, kamera tetap menangkap apa yang terjadi di panggung. Hasil editing-nya di sutradara visual. Menurut saya cukup memuaskan," tukas Rangga.

Hingga saat ini sejak Maret 2020, pertunjukan seni masih digelar secara daring atau hibrida (hybrid), daring dan luring. Menilik data Koalisi Seni per 21 April 2020, ada sebanyak 234 acara seni dibatalkan atau ditunda.

Rinciannya, 30 proses produksi, rilis, dan festival film; 113 konser, tur, dan festival musik; 2 acara sastra; 33 pameran dan museum seni rupa; 10 pertunjukan tari; dan 46 pentas teater, pantomim, wayang, boneka, dan dongeng. 

Merebut Hati Pemirsa
Pertunjukan teater adalah anak baru di area digital. Tentu tidak mudah merebut hati pemirsa di tengah padatnya konten digital. Di platform YouTube, teater harus bersaing dengan bintang YouTube, di Instagram harus bersaing dengan selebgram.

Meski antusiasme penggemar teater cukup stabil. Rangga tidak memungkiri kalau infrastruktur internet di Indonesia yang belum merata membuat masyarakat ragu atau malas menyaksikan teater secara daring.

"Ada pertunjukan yang sifatnya berbayar, kalau ada masalah sama internet kuota habis itu langsung ditinggalin. Itu sudah masalah di luar jangkauan kelompok teater," ujar Rangga.

Kondisi ini tentu menghambat pengumpulan jumlah penonton dalam sekali pertunjukan. Pada kondisi normal, pementasan 10 hari bisa mendatangkan lima ribu penonton, kini mengumpulkan jumlah yang sama sulitnya bukan main.

Menurut Seniman Pantomim, Wanggi Hoediyatno, selain persaingan konten, seni teater sama halnya dengan pantomim sama-sama gagap memindahkan seni pertunjukan langsung ke ranah digital. 

Wanggi merasakan sendiri sulitnya masuk ke ranah digital. Pada Hari Pantomim Sedunia yang jatuh pada 22 Maret 2020, saat semua seniman pantomim tiarap karena pandemi, Wanggi justru memberanikan diri menggelar pertunjukan sederhana melalui akun Instagram dan Facebook. 

Tentu tidak mudah bagi Wanggi. Ini kali pertama ia pentas di media sosial. Mulanya, ia harus menentukan tema pertunjukan lebih dulu, lalu mengoperasikan kamera agar angle yang diambil sesuai, memastikan jaringan internet aman, dan merias wajah laiknya pementasan di atas panggung. 

"Memang cukup kewalahan. Saya semua yang melakukan. Dari make up, bahkan saya harus bikin poster dan lainnya untuk bisa mengajak teman-teman ke platform saya," kata Wanggi Hoed kepada Validnews, Senin (22/2).

Senada dengan Rangga, ia merindukan kontak rasa dengan penonton. Diakui, penonton di akun medsosnya membanjiri penampilannya dengan komentar. Namun hal itu, membuat suasana hening dan fokus jadi buyar. Sejak penampilan digitalnya itu, mulai banyak seniman pantomim lain yang mengikuti jejak Wanggi.

Harus Diterima
Apa yang terjadi pada seni teater dan pantomim juga dirasakan seluruh seni pertunjukan, termasuk industri musik. Musik adalah seni yang paling banyak digemari masyarakat. Aksesnya paling terjangkau ketimbang seni lainnya.

Sebelum covid-19, entah berapa banyak konser musik yang terselenggara dalam satu tahun. Event tahunan, festival, sampai tour para musisi menjadi rangkaian yang tidak putus dalam setahun.

Musisi senior Anang Hermansyah berpendapat, musisi Tanah Air saat ini masih tetap semangat berkarya. Beberapa tidak ragu mengeluarkan single di tengah pandemi. Sementara, sebagian lainnya memanfaatkan teknologi internet untuk mempertahankan daya jual di pasar.

Di sisi lain, sekalipun musisi sudah menyediakan penampilan daring, masyarakat tidak mudah menerima hal baru ini. Pasalnya, menurut Anang, masyarakat sudah terbiasa menyaksikan konser secara langsung (offline).

Dari sikap itu, kata Anang, mengindikasikan bahwa penikmat musik Indonesia saat ini belum habis mencerna kondisi covid-19 sekalipun sudah berlangsung hampir setahun.

Secara pribadi, Anang juga mengaku tidak cukup puas dengan tampil di medsos. Seandainya bisa memilih, Anang mengaku akan memilih jalan yang lain. Sayangnya, pilihan tak ada.

"Karena tidak ada, maka kenormalan baru harus kita tempuh bersama-sama. Saya selalu bilang, ini harus bersama-sama, tidak bisa ini diserahkan ke pemerintah, tidak hanya pelaku, tidak hanya senimannya," kata Anang kepada Validnews, Senin (22/2).

Mantan anggota DPR periode 2014–2019 ini mengatakan, musik telah menjadi salah satu hiburan rakyat yang harus tetap ada. Maka itu, bulan depan atau dua bulan lagi, ia akan menggelar konser besar secara daring dengan konsep menggabungkan tiga kanal YouTube sekaligus. Ketiga kanal itu, antara lain The Hermansyah A6 dengan subscriber 4,66 juta, akun Aurelie Hermansyah dengan 3,3 juta subscriber, dan Atta Halilintar dengan 26,4 juta subscriber. Nantinya ketiga akun tersebut akan menayangkan konser musik secara bersama-sama. 

Vaksin Membawa Harapan
Kini, program vaksinasi covid-19 yang mulai digencarkan pemerintah tak pelak membawa optimisme bagi seni pertunjukan. Mari berandai-andai, jika tahapan vaksinasi untuk setiap kalangan berjalan lancar, bukan tidak mungkin pertunjukan seni bisa kembali berlangsung offline dengan menerapkan protokol kesehatan.

Founder Emvrio Production, Vino, salah satunya. Dia optimistis akan menggelar event luring Berdendang-Bergoyang Festival 2021 (BBFest 2021) pada Mei 2021, di Senayan, Jakarta, bisa terlaksana dihadiri penonton. Pre-event BBFest 2021 rencananya akan dihelat pada Mei 2021, sementara acara utama akan digelar Desember 2021.

Demi meyakinkan pemerintah, Vino tidak keberatan jika calon penonton harus menunjukan hasil swab negatif. Alternatif lainnya, pihaknya bisa saja bekerja sama dengan pemerintah memberikan layanan swab gratis kepada calon penonton.

Namun jika pemerintah menolak usulan itu, EO ini bakal membuka layanan swab antigen di tempat bagi pembeli tiket. Pilihan lainnya, pemilik tiket bisa melakukan swab antigen mandiri.

Hal-hal di atas, menurut Vino, sama saja dengan syarat para pelancong yang ingin bepergian. Jika dalam hal bepergian saja mereka bersedia, besar kemungkinan mereka mau melakukannya untuk konser musik.

Untuk menjaga jarak antarpenonton, Vino berencana akan memberi kursi bagi para penonton. Jaraknya masing-masing 1 meter. Penonton tidak bisa lagi bebas berpindah tempat. Berjoget bisa dilakukan dari depan kursi sendiri.

“Kalau kita tidak melakukan dari awal dan setop, enggak akan ada lagi. Risiko gagal pasti ada, tapi kami berkomitmen, setidaknya orang akan sadar dengan apa yang kita lakukan,” tegas Vino.

Keberhasilan menyelenggarakan konser musik tatap muka sebenarnya sudah dibuktikan band Riau Rhythm asal Pekanbaru. Band yang memadukan unsur folklore Melayu dengan alat musik barat ini sempat menggelar pertunjukan dengan penonton saat pandemi memasuki puncaknya pada 30-31 Oktober 2020.

Personel Riau Rhythm, Aristofani Fahmi menjelaskan konser tersebut bisa terselenggara berkat komunikasi yang baik antara, musisi, satgas covid-19 dan kepolisian setempat. Konser menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, salah satunya menyediakan enam tempat cuci tangan di venue. Semua pengunjung diukur suhu. Dan, mereka yang dari luar kabupaten/kota harus melakukan swab antigen mandiri.

“Tantangannya adalah memberi pengertian kepada fans. Kita menggunakan platform online untuk pendaftaran, kalau biasanya kapasitas gedung 600 terpakai, waktu itu hanya boleh setengahnya aja 200–250,” jelas Itok, sapaan akrabnya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyadari pelaku industri seni pertunjukan yang sudah tidak sabar bertemu penonton. Kini, Kementerian tengah menggodok panduan khusus penyelenggaraan konser atau pertunjukan. Kemenparekraf juga sudah merancang CHSE (Cleanliness, Health, Safety, dan Environment Sustainability) untuk acara pertunjukan.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Kemenparekraf, Rizki Handayani memastikan, dalam waktu dekat Menteri Parekraf Sandiaga Uno akan bertemu Kapolri Jenderal Listyo Sigit membahas hal ini di sekitar Maret 2021.

“Kita mau diskusikan dengan pihak-pihak tersebut bagaimana agar jalan keluar supaya teman-teman musisi sudah bisa tampil lagi, apa kira-kira syaratnya. Nah, kita sendiri sudah punya protokol penyelenggaraan konser,” jelas Rizki kepada Validnews, Selasa (23/2). 

Meski beberapa seniman tetap berkarya saat ini, banyak juga yang mengeluh betapa mereka merindukan melakukan perjalanan tour dari kota ke kota, dan manggung di depan penonton. Beberapa bahkan mengunggah foto-foto manggung saat kondisi masih normal.

Kini, vaksinasi menimbulkan harapan dan optimisme. Namun, normalitas ini tidak lah segera. Lagu band Kotak, “Pelan-Pelan Saja”, pas merefleksikannya. (Dwi Herlambang)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER